"Itu hanya akan menghabiskan energimu saja, Nona."
"Dan asal Nona tahu, aku adalah anak tunggal pemilik restoran ini."
Seperti membuat irama jantungku berhenti berdetak, air mataku mulai terjatuh. Bahkan sempat ingin menyangkal perkataan lelaki itu, tak sedikit pun aku temukan kebohongan di matanya.
"Siapa pun yang memasuki wilayahku, dia juga harus berhadapan denganku,"
Dengan menyisakan ketegangan hebat di tubuhku, aku mengepalkan kedua tanganku saat posisi tubuhnya sedikit dibungkukan ke depan dengan kepala yang dimiringkan mengarah kanan.
"Nona, paham?"
Seperti otakku dibuat berhenti bekerja. Kini, tak ada yang bisa aku lakukan selain berdo'a kepada Sang Rabb juga sesekali melirik penuh harap ke mereka yang masih setia menjadikanku bak pertunjukkan.
"Ayolah, Nona. Aku hanya ingin berteman denganmu, apakah itu sangat bermasalah untukmu?"
Meski wajahku sudah dipenuhi air mata, tak sedikit pun aku melihat pergerakan dari mereka yang ingin mengulurkan tangannya untukku. Dan seolah peristiwa ini sudah menjadi hal lumrah, beberapa dari mereka justru lebih memilih melanjutkan aktivitas mengisi perutnya.
Allah, apakah sedikit saja hati mereka tak terbesit untukku?
Menyadari wajahnya yang perlahan mendekat, netraku tak henti bergerak. Sampai pergerakan tangannya hendak meraih wajahku, dengan tak kalah cepat aku memundurkan tubuhku yang masih bersandar di kursi.
"Tu... tuan jangan macam-macam. Jika tidak—"
"Jika tidak?"
Dengan tubuh yang sudah bergetar hebat, semakin kuat aku mengepalkan kedua tanganku. Melihat kedua alisnya yang menaut diiringi tatapan intens nya, membuatku benar-benar begitu menyesali kedatanganku kemari. Dan Mas Davin, dimanakah dirinya? Bahkan, sekalipun tak ada benda bulat di sekitarku, kepergian Mas Davin sudah cukup memakan banyak waktu.
Oh Allah, apakah benar Mas Davin telah melupakanku? Atau memang berniat meninggalkanku?
"Katakan saja, Nona. Aku ingin mendengarnya," tambahnya setelah membenarkan posisi duduknya.
Kini, dengan wajah yang bersandar di tangan kanan yang menjadi pilarnya, ia terus menyeringai.
"Aku akan memanggil suamiku."
Sembari menggigit bibir, aku berusaha menetralisir ketakutanku. Meski sampai saat ini aku tak melihat tanda-tanda kehadiran Mas Davin, setidaknya dengan aku memberikan keyakinan pada lelaki itu, akan membuat lelaki itu pergi menjauhiku.
Namun sayang, itu hanya sebatas ekspektasiku saja. Aku sempat lupa, bahwa lelaki yang aku hadapkan bukan lelaki biasa. Seolah rasa takut tak ada di dalam kamus hidupnya, lelaki itu justru tertawa remeh.
"Aku bukanlah tipe lelaki yang mudah dibohongi, Nona. Bahkan, sedari tadi aku tak melihat keberadaan suamimu."
Seperti dibuat tersungkur jatuh. Dengan menelan saliva kasar, butiran bening kembali luruh membasahi wajahku.
Allah, ku mohon tolonglah aku.
Mas Davin, kamu dimana Mas?
"Dia tidak berbohong! Saya disini."
Meski suara itu tak begitu nyaring, namun kalimat itu bukan saja mengalihkan perhatianku. Bahkan, beberapa dari mereka yang tengah menikmati hidangannya mulai terhenti.
Dibalik hentakan kakinya, luapan emosi tak kalah tersirat melalui wajahnya juga kedua tangan yang mengepal kuat.
"M... Mas Davin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
