19-With Him?

53 8 1
                                        

Dengan pandangan yang tak lepas mengamati bagian luar jendela mobil, dahiku seketika berubah berkerut. Meski aku tak pernah menggunakan jalur yang tengah aku lalui saat ini, rasanya jalanan ini tak cukup asing bagiku.

Perlahan aku beranikan diri menatap Mas Davin. Melihat kefokusannya dalam menyetir, nyaliku lebih dulu menciut. Terlebih mengingat perkataan Mas Davin yang berbaur dengan luapan emosi melintas begitu saja, membuatku mulutku rasanya begitu kelu.

Sementara Mas Davin, sepertinya ia menyadari gelagatku. Dengan bibir yang melengkung tipis, pandangannya beralih menatapku.

"Sebelum aku kembali sibuk dengan pekerjaanku, aku ingin kita menghabiskan waktu bersama. Tidak apa, bukan?"

Dengan wajah yang sudah merunduk, aku terus memainkan kain gamisku. Meski netra cokelat itu tak lagi menatapku, rasanya tubuhku selalu tak bisa diajak bekerja sama jika berada di dekat Mas Davin, apalagi di situasi yang hanya ada aku dan dirinya saja.

Aku sangat tahu, kalimat Mas Davin bukan lagi merujuk pada suatu permintaan. Anggap saja itu suatu keseharusan. Tapi bukankah sedari acara kemarin hingga sekarang kami sudah menghabiskan waktu bersama? Lalu, dengan perkataan Mas Davin saat ini, apa maksudnya? Apakah Mas Davin akan membawaku berbulan madu seperti kebanyakan pengantin baru?

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar

"Alhamdulillah."

Mendengar kalimat hamdalah terucap di bibir Mas Davin, aku pun tak kalah mengucapkan hal yang serupa di dalam hati. Kemudian dengan satu kali tarikan nafas, aku beranikan diri mengangkat wajahku.

Meski beribu pertanyaan memenuhi ruang pikirku, aku memilih tetap dengan diamku. Sampai suara adzan dzuhur berakhir, sebuah panggilan berhasil membuatku tersentak.

"Kay."

Melihat pandangan Mas Davin yang masih setia menatap lurus jalanan dengan rahang yang nampak begitu mengeras, aku pun hanya bisa diam menanggapi.

Perpaduan ujung hidung yang runcing dilengkapi merah delima di bibir tipisnya, membuat wajah Mas Davin nyaris tak memiliki kekurangan sedikit pun. Bahkan, aku sangat mewajarkan siapa pun yang melihatnya pasti akan dibuat terkesima.

"Kayla."

Menyadari panggilan itu kembali, aku langsung merundukkan wajahku. "I... iya, Mas."

"Sayang."

Bagai dialiri ribuan listrik. Bersamaan kalimat kami terucap, tubuhku seketika berubah menegang. Beruntungnya Mas Davin tidak melihat perubahan rona pipiku, jika tidak Mas Davin pasti akan menggodaku.

"Kita berhenti di Masjid depan ya?" tambahnya membuatku hanya bisa meremas jari-jemari.

"Setelah menunaikan shalat dzuhur, baru kita melanjutkan perjalanan kembali."

Sesaat aku memejamkan mataku. Berusaha menetralisir irama jantungku. Sekalipun tak ada benda bulat yang terpampang disini, aku bisa memastikan perjalanan kami sudah lebih dulu memakan banyak waktu.

Sementara disamping aku merasakan pergerakan mobil yang aku tunggangi mulai terhenti, perlahan aku membuka mataku.

"Sebenarnya kita ingin kemana, Mas?" tanyaku memberanikan diri menatap Mas Davin.

"Bidadariku inginnya kemana, hmm?"

Seakan bukan lagi membuat akses tubuhku berhenti bekerja. Dengan netra kami yang berakhir beradu, hawa panas tak segan menyelimutiku.

Seiring hembusan nafasnya menerpa wajahku, netra cokelatku tak dapat lepas dari pergerakan tangannya yang mengusap lembut balutan puncak kepalaku.

"Dzuhur dulu ya? Nanti akan aku beritahu," lanjut Mas Davin sembari menurunkan tangannya dan berniat membuka pintu mobil.

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang