10-Rindu?

87 12 2
                                        

Tak terasa waktu kian berlalu. Meski sudah melewati batas waktu dari yang ditentukan, namun aku masih tak mendapati tanda-tanda kemunculan lelaki itu. Bahkan, meski sudah kesekian kali aku membuka ponsel, hanya tanda centang satu yang aku dapatkan.

Aku menghela nafas kasar, kemudian dengan lemah kuputar tubuhku. Melihat Ayah yang sudah terduduk manis di sofa dengan wajah tenangnya, sungguh, rasanya aku tak cukup memiliki nyali untuk memberitahukannya, Allah.

Aku—aku telah melukai hatinya untuk kedua kalinya.

"Bagaimana, Kay?"

Tanpa berani menjawab perkataan Ayah, aku menggeleng pelan. Sementara Ayah terlihat bibirnya justru mengulas senyum, seolah ia pun tidak mempermasalahkan apa yang terjadi nantinya.

"Kemari, Nak!" ucapan Ayah sembari menepuk sofa disamping kananya membuatku dengan ragu menghampiri Ayah, kemudian mengambil posisi duduk disampingnya.

"Kay sudah yakin dengan keputusan, Kay?"

Seperti dibuat bungkam ribuan bahasa. Kalimat sambutan yang diberikan Ayah berhasil membuatku terdiam sesaat.

Apakah aku sudah yakin dengan keputusanku? Tapi bukankah semuanya sudah terjawab dalam istikharahku? Lalu, apa yang mesti aku khawatirkan, Allah?

Mungkin memang benar, semuanya kembali pada diriku. Yang sekalipun Allah sudah memberikan jawaban, namun aku masih berada tak sejalan.

"In syaa Allah sudah, Ayah."

Meski dalam mengatakannya aku harus menyembunyikan sesak, sepertinya Ayah pun dapat merasakan apa yang aku rasakan, terlihat perubahan netra hitamnya yang menatapku lekat.

"Nak, apapun yang akan dikehendaki Allah nantinya, percayalah jika itu sebenar-benarnya yang terbaik untukmu."

Hening.

Lagi-lagi perkataan Ayah berhasil membuatku terdiam. Namun kali ini, cukup menusuk hatiku.

Semula aku sempat berpikir, waktu dua hari tidaklah cukup bagiku untuk mendapatkan jawaban itu. Tapi dengan kuasa-Nya, Allah justru hadirkan petunjuk melalui istikharahku. Lalu, apakah aku begitu segan menodai jawaban itu dengan keegoisanku?

Dan Mas Davin, kemanakah dirinya? Apakah ia benar-benar telah melupakan janjinya yang akan kemari?

Kring Krinngg Kriinnggg

Seakan bukan saja membuyarkan lamunanku, tatapanku justru refleks beralih pada telepon rumahku yang terletak manis di atas nakas yang tak jauh dari posisiku.

Disamping membiarkan telepon itu setia berdering, aku terus meremas kuat gamisku. Benar. Sudah seharusnya aku tidak mengecewakan Ayah untuk kedua kalinya. Bukankah Izhar pun sudah bahagia dengan kehidupan barunya? Lantas, apakah aku begitu tega menyakiti diriku dengan terus menyaksikan kebahagiaan lelaki yang sama sekali tak ingin menoleh ke arahku?

Sembari menelan saliva, kuberanikan menatap wajah Ayah. Lalu setelah mendapat anggukan darinya, perlahan aku membangkitkan tubuhku.

Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.

Dengan tangan yang gemetar kuulurkan meraih telepon rumahku. Hingga tak butuh waktu lama untuk berbincang dengan pemilik suara, panggilan telepon pun di tutup secara sepihak.

"Siapa, Kay?"

Kalimat itu berhasil membuat tubuhku berputar. Melihat Ayah yang sudah mencetak dahi berkerut, aku pun menghela nafasku.

"Bang Rafka, Ayah. Ia akan tiba sore ini, karena ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di kamarnya."

💔💔💔

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang