Melihat bentangan langit yang dipenuhi bintang dan bulan di tengahnya, aku terus tersenyum takjub memuji Sang Rabb. Setelah sekian tahun lamanya, aku tak menyangka jika Bang Rafka akan membawaku ke tanah lapang seperti ini, lagi.
Kali terakhir dan untuk pertama kalinya, Bang Rafka membawaku kemari saat aku duduk di bangku SMA. Itupun sebagai bentuk apresiasi karena aku berhasil memenangkan lomba sejarah.
Meski aku sempat bertanya-tanya karena Bang Rafka tidak memberi hadiah seperti kebanyakan, seperti tas, sepatu atau membawaku keliling kota, namun seiring berjalannya waktu aku pun mulai mengerti. Terkadang yang paling membekas dalam ingatan bukanlah dari materi, melainkan hal-hal sederhana seperti ini.
Sayang, kebahagiaanku tak berangsur lama. Melihat bentangan langit memperlihatkan sosoknya tiba-tiba, sudut bibirku perlahan mengendur. Terlebih saat melihat sosok itu mengungkapkan isi hatinya kepada seorang gadis yang juga menyembunyikan sipuan malunya dengan merundukkan wajah, membuat sesak seperti mengiris hatiku.
"Izinkan aku untuk tetap mencintaimu dalam diamku, Kay. Dan izinkan aku untuk selalu melangitkan namamu di setiap sujud sepertiga malamku. Demi Allah, aku mencintaimu karena Allah, Kay."
Seperti dinginnya malam tak mampu memberi efek apapun pada tubuhku, keringat dingin justru memenuhi wajahku. Bahkan, netraku tak kalah memanas saat lelaki itu mengeluarkan sebuah tasbih kecil dari saku celananya.
"Jika kamu berkenan memiliki perasaan yang sama, simpanlah tasbih ini, Kay. Anggaplah ini seperti janjiku yang tertulis pada origami hati yang kuselipkan pada bukumu."
"Jika Allah meridhoi. In syaa Allah setelah kepulanganku dari Kairo nanti, bukan hanya tasbih ini yang akan kujemput, melainkan dirimu."
Dengan kedua tangan yang berubah mengepal, tubuhku sudah bergetar hebat. Bahkan, butiran bening tak kalah jatuh membasahi wajahku.
"Kay lelah, Bang. Mengapa Allah selalu memberi ujian berat pada, Kay?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Sampai pada gadis itu yang dengan bodohnya menerima tasbih dari lelaki itu tanpa memikirkan resiko nantinya, tangisku pun seketika pecah.
Bagaimana bisa dalam waktu singkat rasa percaya itu dapat tumbuh sepenuhnya? Bahkan karena rasa percaya itu, sekarang justru membunuh sang gadis.
Sembari menahan sesak, aku semakin mengepalkan kedua tanganku. Sampai sebuah sentuhan halus mendarat di bahuku dan menuntun tubuhku untuk berputar, seketika netra cokelat kami pun beradu.
"Dengar Bang Rafka, Dek. Tidak ada larangan untuk Kay menganggap jika ujian yang diberikan-Nya itu berat. Tapi, Kay juga tidak boleh selalu merasa jika ujian berat itu hanya menimpa pada Kay."
"Allah sudah memberi ujian masing-masing dengan kadar keimanan yang mereka punya. Dan kalau pun Kay menerima ujian seberat itu..."
Aku hanya menatap diam Bang Rafka. Memilih menunggu kalimatnya yang sengaja dibuat terjeda.
"... berarti Allah sayang pada, Kay"
Sesak. Rasanya begitu sesak, Allah. Bahkan, rasanya dalam takdir ini bukan hanya aku yang tersakiti.
Lihat saja, pria yang selalu kuanggap sesorang yang kuat, nyatanya tidak. Satu tetes air matanya justru jatuh hanya karena takdir buruk yang menimpaku.
Dengan memilih menurunkan kedua tangannya, Bang Rafka justru menatap bentangan langit sembari menyeka air matanya, membuatku yang melihatnya hanya tersenyum sinis.
Bang Rafka memang tidak mengetahui perihal aku dan Izhar. Ia hanya mengetahui perihal perjodohanku dengan Mas Davin. Dan mungkin, kepergian Mas Davin lah yang tanpa sebab membuat Bang Rafka demikian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomansaCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
