45-Dia, Berubah

30 2 0
                                        

Dengan tangan yang sudah mengepal. Perlahan, aku bersiap mendaratkan ketukan pelan pada daun pintu dihadapanku. Namun, karena bayang luapan amarahnya lebih dulu berputar di kepalaku. Menjadikanku kian berakhir memilih mengurungkannya.

Sejenak dibuat berpikir. Kini, aku memutuskan untuk mengetuk daun pintu itu. Benar. Meskipun kecewa itu masih terbesit adanya. Setidaknya, dengan menjadi wanita yang tak egois akan jauh tak memperburuk segalanya.

Bahkan, jika pun penyebabnya yang demikian tak lain karena aku yang mampu menepati janji atau hanya sekedar letihnya yang dua kali lipat. Bukankah seharusnya amarah itu sudah meredam?

Tok Tokk Tokkk

Masih tak mendapati respon apapun. Kini, aku memilih menarik tanganku kembali. Mungkinkah ia sudah terlelap?

Menarik nafas pelan. Dengan ragu, ku gerakkan tanganku meraih gagang pintu itu. Tak lupa, dengan kata basmalah yang ikut jua menghiasi bibirku.

Dan benar saja. Ternyata, dugaanku jauh berbanding terbalik adanya. Bahkan, dengan posisi wajah yang berhadapan lurus dengan layar monitor. Terlihat, jari-jemarinya pun tak segan menari di atas keyboard nya.

Meski sejenak pandangannya dibuat beralih padaku. Namun, tak lepas membuatku berakhir menghela nafas kasar, saat fokusnya kembali pada objek monitor di depannya.

Menutup pelan daun pintu itu. Ku gerakkan kaki ku menghampirinya. Meski aku sendiri jauh tak dibuat asing mendapatinya yang setiap malam tiba memilih berkutat dengan angka di laptopnya. Tak memungkiri, untuk rasa belas itu seringkali menyelimutiku.

Tentu. Aku sangat tahu. Dengan profesi sambilannya sebagai pemilik Cafe, sudah menjadi ke-seharusannya untuk dirinya menerima segala resiko yang ada. Termasuk, merelakan jam tidurnya. Tapi, apakah ini tak terlalu berlebihan?

"Sudah larut malam, Mas. Apakah tidak bisa dilanjutkannya esok?" ucapku, mengingat sebelum menuju kemari mesin waktu sudah berada pada angka sebelas malam.

Sementara Davin, yang menyadari tujuanku bukan lagi mengingatkannya perihal waktu. Terlihat, tanpa mengalihkan pandangannya, kalimatnya kian terlontar.

"Duluan saja. Aku tidak mengantuk!" balasnya, membuatku menggeleng cepat.

Bukannya bagaimana. Hanya saja, dengan raut letih yang dipancarkannya. Bukankan cukup menjadi bukti bahwa tubuhnya memerlukan banyak istirahat?

Terlebih, pagi nanti ia harus kembali menjalani profesinya sebagai dokter. Sungguh, rasanya aku tak ingin saja, jika sesuatu lain terjadi padanya.

"Tapi, Mas... bukankah esok Mas harus kembali bekerja? Bagaimana jika kondisi Mas terganggu nantinya?"

Namun, Davin—bukannya membalas perkataanku. Kini, dengan jari-jemari yang berhenti bermain di atas keyboard, keterdiamannya justru kembali melanda. Hingga sampai dengan hembusan nafas kasarnya membelah, bak menjadikan hawa panas kian mendominasi.

"Berhenti membuat amarahku meluap. Pergilah."

"Tapi, Mas—"

Belum sampai aku menyelesaikan kalimatku. Kini, tubuhku dibuat tersentak sudah, saat pergerakan tangannya lebih dulu menutup kasar laptop tersebut. Membuatku yang berusaha menahan gemuruh kencang pun hanya bisa mengepal kuat, seiiring tatapannya beradu denganku.

"Apakah perkataanku masih tak cukup memperjelas?!"

Deggg

Seakan menjadikan guncangan itu bak menghantam tubuhku. Bahkan, tanpa mempedulikan rasa sesak yang menghimpit rongga hatiku. Tubuhnya kian justru dibuat bangkit, meninggalkanku.

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang