02-Perjodohan?

283 44 2
                                        

Pagi ini langit membentang begitu indah. Warna biru berpadu putih membuat burung-burung menari dengan eloknya. Tidak seperti kemarin, yang hampir seharian di guyur hujan.

Semerbak wangi bunga tak kalah menyeruak. Bahkan, saking menyeruaknya mampu mengalahkan wangi parfum pada pakaianku.

Rumah yang tidak begitu besar, namun dikelilingi bermacam-macam bunga. Kendaraan pun hanya satu, dua yang melintas. Menjadikan kesan asri benar-benar tercipta di rumah ini.

Terlebih saat aroma teh melati ikut juga menyusup ke dalam rongga hidungku, entah mengapa, seakan mampu memberikan kesegaran tersendiri dalam pikiranku.

Ah! Dari baunya saja sudah nikmat, bagaimana jika aku meminumnya? Aku benar-benar tak sabar ingin sekali menyesapnya.

Semakin menyengat, aku bisa mencium aroma teh itu bertambah menguar bersamaan derap langkah yang tercipta. Hingga setelah sosok itu berada di sampingku dengan kedua tangan yang menggenggam nampan berisikan dua gelas teh hangat, bibirku melengkung paksa menatapnya.

Benar. Meskipun peristiwa semalam sudah berlalu, rasanya sampai saat ini aku tak dapat melupakannya begitu saja.

"Silahkan kau minum, Kay. Agar hati kau kembali tenang."

Seakan mampu membuyarkan lamunanku begitu saja. Dengan mengangguk pelan, perlahan kuraih gelas putih susu itu yang sudah diletakkannya di meja, kemudian tanpa ragu aku pun mulai menyeruputnya. Menikmati setiap tetes air yang membasahi tenggorokanku. Ah benar-benar nikmat.

Sementara bersamaan itu, terlihat gadis berhijab hijau itu mengambil posisi duduknya di kursi rotan yang berjarak satu meter dariku, dengan bagian tengahnya tersekat sebuah meja.

"Beberapa hari ke depan, sepertinya aku akan tinggal bersama Ibuku untuk sementara waktu," ucapku sembari meletakkan gelas putih susu itu kembali pada tempat semula.

"Aku akan selalu mendukung keputusan kau, Kay. Tidak baik juga, jika terus berlarut-larut dalam kesedihan."

Sesaat aku memilih menarik nafasku, lalu menghembuskannya pelan. Aku memilih membenarkan kalimat tersebut. Memang benar. Akan jauh lebih baik aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Karena bagaimanapun juga mencintai harus bisa mengikhlaskan, walau luka itu sendiri sebesar lautan, bukan?

Sebelumnya aku memang sudah menceritakan peristiwa semalam yang menimpaku kepada Sasa. Dia adalah sahabatku satu-satunya. Memiliki wajah bulat serta kulit kuning langsat. Terjalinnya persahabatan aku dengan Sasa memang cukup mudah, hanya karena kita perantara satu kajian agama.

Namun sayang, di usianya yang masih muda, Sasa harus kehilangan orang tuanya. Keduanya mengalami kecelakaan pesawat, saat hendak pergi ke Malaysia untuk memeriksa pembangunan proyek perusahaan yang sempat tertunda.

Sementara untuk siapa yang memegang alih perusahaan setelahnya, tak lain adalah pamannya. Dan untuk Sasa, tentu saja ia lebih memilih menggeluti profesinya sebagai guru agama. Mudah saja alasannya. Apalagi, jika itu bukan salah satu cita-citanya semenjak kecil.

"Jika memang Izhar adalah lelaki yang tertulis di lauhul mahfuz untuk kau, in syaa Allah, Allah akan menyatukan kau dengannya."

Disela tanganku meremas kuat, aku mengulum senyum miris. Selain perkataan Sasa yang kembali menghadirkan kata patah, entah mengapa, rasanya aku benar-benar tak menyangka, jika Izhar akan berbuat hal demikian padaku. Hingga tanpa aku sadari, kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.

"Aku tak ingin Izhar yang menjadi imamku kelak. Hatiku sudah terlanjur dibuat patah karenanya."

"Hmm. Terserah kau saja, Kay."

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang