29-Rumit

32 4 0
                                        

Setelah sambungan diputus sepihak, tak segan aku melempar kasar ponselku di sofa.

"Mengapa? Mengapa harus seperti ini?"

Semakin mengepalkan kuat kedua tangan, tatapanku sudah berubah memanas. Hingga tak mampu lagi menahan luapan amarah yang ada, satu pukulan berhasil aku ciptakan pada meja berlapiskan kaca itu.

Retak

Bahkan, tanpa sebanding dengan rasa sakit yang mengganjal, terlihat retakan garis itu tercipta.

"Arrgghhhh."

Dengan mencengkram kasar rambut hitamku, nafasku sudah memburu. Tidak! Bukannya apa. Hanya saja, mengapa masalah ini datang bersamaan?

Ya. Baru saja hatiku dibuat patah olehnya. Dan sekarang, aku harus mendapati kabar jika proyekku mengalami kendala, karena kaki tanganku yang membawa semua upah pekerja.

Sebelum menikah dengan Kayla, pembangunan ini memang sudah berjalan setengahnya. Namun, aku sengaja tak memberitahu hal ini. Apalagi, jika bukan ingin memberikan kejutan untuknya. Dan hari ini, entah mengapa, semuanya justru berbanding jauh dari ekspetasiku.

Krettt

Menyadari suara daun pintu itu terbuka, menampilkan sosok Kayla, dengan cepat aku mengusap kasar wajahku yang dipenuhi keringat itu. Lalu, tanpa mempedulikan posisinya yang sudah berada di depanku, aku memilih mengalihkan pandanganku.

Jika sebelumnya hanya ada cinta untuknya, entah mengapa, kali ini hatiku seperti dipenuhi ribuan duri. Lagi, walau sekedar menatapnya, rasanya benar-benar begitu menyesakkan.

"Kay kemari... membawakan sarapan dan juga obat untuk Mas Davin."

Sembari menarik nafas pelan, tanganku sudah kembali mengepal kuat. Bahkan, aku pun semakin dibuat tak mengerti dengan keinginan sebenarnya.

Bagaimana bisa Kayla menjalani pernikahan ini diatas rasa cintanya kepada lelaki lain? Dan memilih menjadikan kepeduliannya sebagai bukti bahwa hatinya dapat diperuntukkan untukku?

Tunggu. Bukankah itu munafik?

"Aku tidak lapar. Simpan saja!"

"Tapi Mas, demam Mas Davin cukup ti—"

"AKU BERKATA TIDAK YA TIDAK!!"

Karena tak mampu lagi membendung amarah yang tersisa, sontak kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku.

Kini, dengan detak jantung yang bergemuruh kencang, rasa penyesalan dan benci seakan membaur menjadi satu di hatiku.

Sebenarnya aku pun tak berniat melakukan hal ini pada Kayla, tapi—

"Mas Davin—"

Dengan tatapan yang memanas, nafasku sudah tak lagi beraturan. Sementara disisi lain, entah mengapa, lidahku seperti begitu kelu walau sekedar mengucap permohonan maaf.

Benar. Rasanya terlalu naif jika kata benci itu tak lagi terbesit di hatiku sekalipun ketakutan dan kepedulian Kayla masih tetap diperlihatkan kepadaku.

Dengan tubuh yang tak kalah bergetar hebat, aku bisa melihat ketakutan Kayla dalam setiap hentakan langkahnya saat meletakkan asal nampan yang dibawanya beralih ke meja.

Aku bersiap melontarkan kata maaf, tapi kepergian Kayla yang tanpa meninggalkan kata, benar-benar membuat penyesalan seperti mendominasiku.

"Argghhh."

💔💔💔

Tak berhenti menyeka air mata yang berjatuhan, kakiku terus dibiarkan berlari. Sampai tiba pada ruangan yang tak lain sebuah dapur, aku memilih menghempaskan tubuhku di salah satu kursi kayu.

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang