Bismillah dulu yuk, sebelum lanjut baca part akhir. Jangan lupa juga klik tombol bintang terlebih dahulu ya^^
-----
Davin Pov
Setelah melakukan pertemuan dengannya. Kini, sembari mengikuti instruksi yang diberikannya. Tak henti, aku pun melajukan mobilku.
Meski dengan medan yang dilalui nampak curam. Karena tanjakan yang begitu tinggi berpadu dengan banyak kelokan. Namun, tak segan membuatku menambah kecepatan yang ada.
Entah mengapa, selain keyakinan ku dibuat bertambah kuat, setelah mendengar kepergian Nadia yang bersamaan menghilangnya Zahra. Rasanya, kekhawatiran itu terus saja menyelimutiku.
Bagaimana tidak. Selama Tiga tahun menjalin pertemanan dengan Nadia, akan jauh terlalu munafik, jika aku tak mengetahui pribadi sesungguhnya.
Keinginannya dalam meraih apapun yang disukainya. Tak jarang, menjadikan egois nya itu seringkali bertindak di luar batas. Hingga tanpa aku sadari, setelah mengikuti instruksinya. Kini, laju mobilku sudah berhenti di tanah lapang yang gersang.
"Apakah kamu yakin, ini adalah tempat nya?"
Selain mengingat aku pun baru kali pertama mengetahui adanya tempat ini. Entah mengapa, mendapati seperti tak adanya tanda kehidupan yang ada. Membuat ragu itu terbesit dihatiku.
"Gudang padi yang tak terpakai hanya berada di tempat ini. Namun, aku juga tidak tahu pasti, mengapa hanya menyisakan tanah lapang."
Menarik nafas pelan. Aku berusaha menetralisir amarah yang ada. Setidaknya, dengan ia yang memiliki kesudian membantuku, aku harus mengendalikan pribadiku.
"Kita berpencar."
Setelah mendapat anggukkan darinya. Dengan cepat, aku pun menghentakkan kaki ku. Begitu juga dengan izhar.
Sementara ditengah aku yang mengedarkan pandangan sekitar. Tak segan, ku langkahkan kakiku menyusuri jalanan. Hingga sampai sesuatu yang mengganjal di kaki kiri ku. Membuatku yang kian menyadari, memundurkan tubuhku, lantas menjatuhkan pandanganku.
Meski dahiku sejenak dibuat berkerut, mendapati benda itu yang terlihat kusam—karena mungkin seseorang lebih dulu menginjaknya. Namun, tak lepas, ku ulurkan tanganku meraihnya.
Seakan detak jantungku dibuat berhenti berdetak. Bahkan, dengan tanganku yang mengusapnya, ketegangan tak segan menghantamku.
Ya. Sesuatu ini tak lain adalah bros miliknya.
Selain mengingat benda ini begitu langka. Karena aku yang me-request nya. Tak lain, aku pun hanya mempersembahkan untuknya. Tapi, kini—
"A... aku mohon, jangan bertindak bodoh seperti ini."
Lagi. Meski suara itu terdengar samar, karena beradu dengan hembusan angin. Namun, tak lepas membuat pandanganku dan Izhar berakhir beradu.
"AKU MENCINTAINYA. AKU SANGAT MENCINTAI, DAVIN."
Deggg
Layaknya desiran hebat itu menyapu halus tubuhku. Bahkan, aku yang masih dibuat tak menyangka akan penuturan itu darinya. Tak segan, membuat irama jantungku kian memompa lebih cepat.
Berbeda dengan Izhar. Terlihat, dengan keterkejutan yang ada, raut sendunya terpatri. Namun, keterdiaman itu tak berangsur lama, saat suara ledakan membuyarkan lamunan kami.
Dorrrr
"Zahra?"
"Kayla?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomantikCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
