Davin Pov
Dengan pandangan lurus ke depan, sesekali aku melirik jam yang melingkar pada pergelangan tanganku.
Pkl. 00:40 wib.
Itu berarti sudah hampir empat jam lamanya aku meninggalkan wanita itu. Dan jika saja kecelakaan beruntun itu tak terjadi dan mengakibatkan salah temanku, mungkin aku sudah menggunakan waktu itu untuk mengenal Kayla lebih dekat.
Sementara berbicara perihal Kayla, entah mengapa aku justru semakin merindukannya.
Apa yang sedang dilakukannya saat ini? Masih menungguku kah? Atau sudah terlelap bersama alam mimpinya?
Cittt
Sial, lampu merah!
Dengan menghela nafas kasar, aku memijit keningku yang mulai terasa pening. Sesekali juga kuarahkan pandanganku menatap tiang yang berdiri di depanku.
Meski lalu lalang kendaraan malam ini cukup renggang, rasanya cukup menguras emosiku saat menunggu lampu merah itu meredup.
Ah, tidak! Bukankah aku sudah terbiasa dengan hal ini? Lalu, mengapa aku menjadi tidak sabar seperti ini?
Baiklah! Kayla, Kayla sepertinya kau hobi sekali membuatku menjadi gila.
Dengan menggeleng pelan, aku berusaha menghentikan otakku yang mulai terkontaminasi oleh wajahnya. Hingga setelah menyadari lampu kembali berganti hijau, dengan cepat aku melajukan mobilku.
***
Kini, bersamaan langkahku tiba dihadapan daun pintu berwarna cokelat, senyum di bibirku sudah kembali merekah.
Benar. Rasanya pernikahan ini seperti mimpi bagiku. Bahkan, sempat ingin menyangkalnya pun, nyatanya takdir justru menyatukanku dengan Kayla. Hingga setelah menarik nafas, perlahan aku memasukkan kunci yang sempat diberikan Kayla sebelum aku pergi.
Krettt
"Assalamu'alaikum."
Hening.
Seperti tak ada tanda-tanda sang pemilik kamar, membuat netra cokelatku kian beralih mengarah sudut kamar.
Dan benar saja, Kayla sudah terlelap bersama alam mimpinya.
Tak ingin mengganggu tidur nyenyaknya, dengan hati-hati aku mengunci daun pintu itu kembali, kemudian melangkah menghampirinya.
Melihat pahatan wajahnya yang tetap indah meski terbalut selimut, tanpa sadar membuat sudut bibirku terangkat.
Tanpa ragu tanganku terulur menyentuh puncak kepalanya, sebelum dimana bayang wajahnya yang dipenuhi air mata berhasil membuat senyumku mengendur.
"Aku tahu, pasti ini sangat sulit untukmu menerima kenyataan ini, Kayla."
Entah mengapa, semenjak akad itu terucap aku merasa bahwa Kayla tidak benar-benar mengharapkan pernikahan ini terjadi. Terlebih saat kata maaf itu berbaur dengan getaran tubuhnya. Membuatku semakin yakin, jika memang aku hanyalah lelaki kesekian dari banyaknya kaum adam.
"Jika memang benar aku bukanlah lelaki pertama maupun kedua yang mengetuk pintu rumahmu, setidaknya izinkan aku untuk bisa menjadi lelaki terakhir dalam kisah hidupmu, ya zaujati."
Seharusnya dari awal aku memang menyadari, bahwa hati Kayla tak semudah menjadikanku sebagai tempat berlabuh. Apalah arti cintaku ini, jika sudah dalam ikatan sah saja Kayla sendiri masih menganggapku lelaki asing.
Dengan gemetar, perlahan kuusap puncak kepalanya yang terbalut jilbab itu. Aku tahu ini hanyalah perihal waktu, tapi sampai kapan? Sementara dibalik keraguan itu, rasa takut tak henti menghantuiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
