Dengan tangan yang bersiap mengambil salah satunya, aku justru harus menggigit bibir karena sebuah suara berhasil mengurungkan niatku.
Sebenarnya aku bisa saja mengambil benda itu, namun karena gengsi yang terlalu tinggi, aku lebih memilih memendam keingintahuanku tentang isi buku yang berkaitan dengan profesinya.
"Belum tidur?"
Sembari menelan saliva kasar, aku memutar tubuhku. Jika sebelumnya hawa dingin AC menyambut hingga menusuk kulit, kali ini rasanya tak memberikan efek apapun pada tubuhku.
Aku menggeleng pelan. Meski sebelumnya aku sudah terbiasa satu kamar dengan Mas Davin, rasanya tak dapat menghilangkan keteganganku saat melihat daun pintu itu ditutup sempurna. Terlebih mengingat ini bukanlah kamarku, membuat bayang ketakutan mengenai hak yang belum kuberi seperti tak henti berotasi.
Saat hentakan Mas Davin tercipta, aku memilih merundukkan wajahku. Bahkan, mataku tak kalah terpejam seiiring langkahnya mendekat. Sampai tak terasa satu menit berlalu dan tak ada tanda-tanda Mas Davin melakukan apapun, perlahan aku membuka kedua mataku.
Tidak ada.
Dengan irama jantung yang sudah memompa cepat, aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Sampai tatapanku berhenti ditepian ranjang, netra kami seketika beradu.
Seolah sambutan senyumnya mampu menghipnotisku, akses tubuhku seketika berhenti bekerja. Hingga sebuah suara menyadarkanku, dengan cepat aku merundukkan wajahku.
"Tidur, Kay. Sudah malam," ucap Mas Davin yang sudah berdiri di depanku dengan tangan yang masing-masing membawa bantal.
"Tapi, Mas Davin..."
"Aku akan tidur di sofa."
Aku menggeleng pelan menatap Mas Davin. Semenjak status kami berganti, Mas Davin memang menepati janjinya. Ia selalu membatasi diri denganku, termasuk dalam hal tempat tidur.
Meski aku sudah meminta Mas Davin untuk roolingan, ia tetap tak menggubris. Dan kali ini, tentu aku tak akan membiarkan Mas Davin melakukannya kembali. Bukankah Mas Davin adalah raja dalam rumah ini?
"Tidak, Mas. Biarkan Kay saja yang di sofa," balasku meyakinkan, membuat Mas Davin menghela nafas panjang.
"Meski status aku dan kamu berganti menjadi teman, tapi kamu tetap istriku, Kay."
Seperti membuat desiran hebat menjalar cepat di tubuhku. Sembari menarik nafas pelan, aku berusaha menahan irama jantungku yang bergemuruh kencang.
"Tapi kamar ini milik Mas Davin, Kay..."
Karena tak dapat lagi menahan sesak yang ada, perlahan aku merundukkan wajahku.
"... hanya menumpang."
Untuk sesaat hanya ada keheningan yang melanda. Sampai satu langkah berhasil diciptakan Mas Davin, aku bisa merasakan energi hangat yang menyentuh bahu kananku.
"Dengar. Aku adalah suamimu. Aku yang memegang tanggungjawab atasmu sepenuhnya."
Meski kalimat tersebut sudah tak asing keluar dari mulut Mas Davin, namun mengingat bagaimana permintaan Mama yang ingin menimang cucu rasanya cukup mengiris hatiku.
Apakah aku harus menunaikannya sekarang?
"Sekarang tidur ya?"
Seiiring sentuhan hangatnya beralih membelai halus puncak kepalaku yang terbalut jilbab, sebisa mungkin aku menahan deru nafasku.
Benar. Sudah seharusnya aku tak bersikap demikian pada Mas Davin. Bukankah sejauh ini Mas Davin sudah memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami? Lalu sedikit saja apakah hatiku tak bisa terbesit untuknya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
