Dengan keringat dingin bercucuran, aku terus meremas jari-jemariku. Setelah selesai menyambut para tamu undangan tak ada yang bisa aku lakukan selain duduk terdiam dipinggiran ranjang.
Sebenarnya aku sempat bersikeras ingin membantu Ibu di dapur. Namun, karena Ibu tak kalah menolak dengan dalih adanya status baruku, membuatku mau tak mau berakhir menuruti Ibu.
Sesaat kugerakkan netra cokelatku mengarah benda bulat yang terpampang disisi kiri tembok.
Pkl. 21:00 wib.
Dengan jantung yang mulai bergemuruh kencang, aku menelan saliva kasar. Pasalnya, sudah satu jam lamanya Mas Davin sibuk menyambut beberapa teman lamanya di ruang tamu. Dan besar kemungkinan hanya menghitung menit lagi Mas Davin akan menuju kemari.
Kini, perasaan gusar mulai menyelimutiku. Terlebih saat dimana yang mestinya dilakukan sepasang pengantin baru berputar di otakku, membuat bulu kudukku seketika berdiri membayangkannya.
Bukannya bagaimana. Hanya saja untuk sekedar menghapus nama Izhar, hatiku masih begitu enggan. Dan kini, aku justru dihadapkan kenyataan pahit, bahwa Mas Davin lah imam hidupku sesungguhnya.
Lagi. Berbicara perihal Mas Davin sepertinya Allah pun mengabulkan hal itu. Meski terdengar samar, namun aku bisa menangkap jelas suara derap langkah kaki yang menghampiri kamarku.
Semakin dekat dan semakin dekat. Jantungku kian berdegup kencang. Hingga—
Ceklekk
"Assalamu'alaikum."
Dengan menelan saliva kasar, wajahku berubah merunduk bersamaan daun pintu menampilkan sosoknya.
"Wa... wa'alaikumussalam."
Hening.
Tak ada pembicaraan setelah itu, selain suara daun pintu yang sengaja ditutup Mas Davin hingga menjadikan suasana berubah menegang.
"Kayla."
Seperti membuat desiran halus menjalar cepat di tubuhku. Meski sekedar panggilan, rasanya membuat detak jantungku semakin tak karuan. Terlebih saat jenjang kaki Mas Davin melangkah mendekati ranjang dan mengambil posisi duduk disampingku, sungguh, Allah, apakah hari bersejarah itu akan terjadi malam ini?
Seiiring hembusan nafasnya yang menerpa, aku mengepalkan kedua tanganku. Sampai tangannya yang tiba-tiba menyentuh daguku dengan netra kami yang berakhir beradu, tanpa tahu malu pikiran kotor justru memenuhi kepalaku.
"Aku tahu ini pasti berat untukmu, Kay."
"Dan aku... aku tak akan meminta hak ku selama keraguan itu masih ada dihatimu."
Tanpa disadari air mataku luruh begitu saja. Meski kalimat seperti ini yang sebenarnya ingin aku dengar dari Mas Davin, entah mengapa, rasanya seperti menyisakan sesak tersendiri di hatiku.
Allah, apakah Mas Davin juga mengetahui, jika pernikahan yang aku lakukan sebatas ingin membahagiakan dua keluarga?
"Maaf."
Satu kata itu berhasil meluncur di bibirku. Bahkan, dengan kedua tangan yang juga ikut menangkup di depan dada, tubuhku tak kalah bergetar hebat.
Tolong katakan padaku, Allah, pria mana yang rela untuk tidak mendapatkan hak semestinya sebagai suami? Dan rasanya kini aku lebih pantas menyandang wanita munafik.
Aku menikah dengannya, namun hatiku sendiri justru diperuntukkan lelaki lain.
Sementara Mas Davin, dengan kebaikannya ia selalu saja membuatku berpikir jika pernikahan ini memang sudah menjadi kehendak-Nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
