Seakan ingatanku ditarik mundur pada peristiwa beberapa jam yang lalu. Melihat punggung lelaki itu berdiri diambang pintu, aku pun memilih mengurungkan langkahku yang bersiap menuruni anak tangga terakhir. Sampai dimana rupanya lelaki itu menyadari kehadiranku, tubuhnya dibuat berputar menatapku.
Sesaat netra kami pun beradu. Hingga saat bibirnya mengulas senyum, aku memilih merundukkan wajahku.
Sembari meremas kuat gamisku, aku menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya pelan. Berusaha menetralisir kegugupan yang ada. Hingga dirasa membaik, aku beranikan melangkahkan kakiku.
Dengan menyisakan jeda satu langkah dari posisinya, keheningan sempat melanda kami setelah akhirnya suara itu terdengar memecah.
"Hmm. Maaf jika kedatanganku sebelumnya telah mengganggumu," ucapnya, kemudian tangan kanannya merogoh saku celana, seolah tengah mencari sesuatu.
"Aku kemari hanya ingin mengembalikan ini," tambahnya membuat wajahku yang semula merunduk langsung terangkat.
Dan—
Seperti membuat irama jantungku berhenti berdetak. Tubuhku tak kalah berubah menegang saat melihat sesuatu tak asing berada di tangannya.
"Ta... tasbih?"
Disamping menatap tasbih itu tak percaya, memori itu berkelibatan bagai slide dalam layar lebar. Aku begitu ingat, bagaimana rasa patahku yang besar membuatku hilang keseimbangan karena tak mampu menahan benda jangkung dihadapanku.
Ya. Benda jangkung itu tak lain ialah tubuh Mas Davin. Dan bodohnya aku, mengapa aku bisa melupakan tasbih itu, Allah? Lalu Mas Davin, apakah ia menceritakan semua hal ini pada Ibu, tentang keadaanku yang kacau saat itu?
Melihat tangan Mas Davin terulur memberikan tasbih itu, aku pun dengan ragu menyodorkan tangan kananku. Sedikit pelan, namun pasti, aku bisa merasakan beban itu kian kembali terkumpul bersamaan tasbih itu meluruh, berakhir di genggamanku.
"Terluka?"
Mengerti maksud perkataan Mas Davin, dengan cepat aku menarik kembali tangan kananku. Meremas kuat tasbih itu.
"Maaf."
Mendengar kalimat yang tak sapatutnya diucapkan, aku pun tersenyum miris. Maaf? Bukankah sepatutnya Izharlah yang melontarkan kata maaf? Dan setelah peristiwa itu, dimanakah keberadaannya? Tidakkah sedikit pun Izhar peduli padaku?
"Tidak! Ini hanya karena kecerobohanku saja."
"Tidak begitu, Kayla—" sanggah Mas Davin, namun terpotong karena kehadiran Ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
"Hmm. Di luar begitu dingin, lebih baik kalian lanjut berbincang di dalam."
Meski hujan kali ini tersisa gerimis kecil, namun karena hawa dinginnya masih terasa menusuk, aku memilih menyetujui perkataan Ibu. Bukan. Bukan berarti aku bermaksud memberi sinyal hijau itu. Hanya saja aku harus bisa menghargai kedatangan Mas Davin yang jauh-jauh rela menerobos hujan.
Sementara Mas Davin, entahlah, sesuatu apa yang tengah memenuhi pikirannya sampai ia sendiri masih setia menampilkan senyum merekah.
"Davin tidak terburu-buru, bukan? Tante, sudah siapkan teh hangat untuk menemani kalian."
"Terimakasih Tante, tapi—" balas Mas Davin yang kembali terpotong. Kali ini tersebab dering ponselnya.
Tanpa lebih dulu menjawab panggilan teleponnya, Mas Davin justru mengarahkan ujung ponsel yang diambilnya mendekat ke telinga.
"Davin izin,"
Mengerti maksud kode yang diberikan Mas Davin, Ibu pun tak kalah mengangguk. Mengiyakan kepergian Mas Davin yang sedikit menjauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomansaCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
