48. Tamparan

89 3 0
                                        

Happy Reading 🦄
Jangan lupa vote dan komen
Tandai kalau typo
.
.
.
.
.
.
.
Sekarang anda bersama teman-teman nya sedang berada di markas. Mereka masih mendiskusikan tentang hilangnya Tasya. Sedangkan Kaira dan Gita, hanya menyimak percakapan para laki-laki itu.

"Genta," ujar Andra sambil melihat lurus kedepan.

"Sepertinya semua ini sudah menjadi bagian rencana dari geng Elang. Mereka ingin balas dendam dengan cara lewat orang terdekat kita," timpal Abian sambil memutar-mutarkan handphonenya.

"Kita semua setuju sama perkataan lo bi, tapi lo bisa nggak ceritain gimana kronologi nya?" tanya Bani dengan tampang serius.

"Aku nggak tau kronologi lengkap nya. Waktu aku sama Gita ke apartemen Tasya, Tasya udah nggak ada. Apartement juga udah berantakan," jawab Abian dan diangguki oleh teman-teman nya.

"Permisi semuanya," semua orang mengalihkannya pandangan nya ke seorang laki-laki yang berada di depan pintu.

"Masuk," ucap Andra singkat dengan pandangannya yang masih lurus kedepan.

"Gimana Zaki, kau sudah menemukan keberadaan Genta bersama teman-teman nya?" tanya Andra tanpa basa basi.

"Maaf tuan saya belum bisa menemukannya. Mereka sering pindah-pindah markas, mereka tidak mempunyai tempat tetap," jawab Zaki dengan kepala yang masih menunduk.

"Kalau keberadaan Faris, lo tau gak Zak?" tanya Alvaro.

"Aku juga kurang tau tentang Faris, karena semenjak dia bergabung dengan geng Elang. Dia jarang pulang, dan juga suka pindah-pindah tempat seperti Genta dan teman-temannya," jelas Zaki.

"Sial kenapa kita bisa dibuat kayak orang bego sama mereka," Andra mengepalkan tangannya, dan mengeraskan rahangnya.

Andra melirik kearah Kaira yang tampaknya sangat khawatir. Bukan hanya itu, mata wanita itu tampak merah karena mengantuk. Andra menyentuh tangan Kaira dan mengelus nya lembut.

"Kamu ke kamar aja ya, istirahat di sana. Nanti kalau ada info tentang Tasya, aku kabarin kamu." Kaira hanya mengangguk dan mengajak Gita agar beristirahat juga bersamanya.

"Genta, Faris kalian benar-benar pecundang."

"Rencana lo sekarang apa bos?" tanya Bani.

"Kumpulin semua anggota Griffinzer. Perintah sebagian anggota buat nyari keberadaan Tasya. Aku yakin ulah semua ini adalah ulah Faris dan juga geng Elang," seru Andra dan Bani langsung pergi untuk menghubungi anggota lainnya.

Andra beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar yang ada di basecamp nya. Ia ingin menemui Kaira, ia harus menemani Kaira. Istrinya itu pasti sangat khawatir kepada Tasya.

Andra membuka pintu kamar itu dan melihat Kaira yang duduk berdampingan dengan Gita di tepi kasur. Pandangan wanita itu sama-sama kosong.

Gita yang menyadari kehadiran Andra, memilih keluar. Dan membiarkanmu pasangan suami istri itu untuk mengobrol. "Gue keluar dulu ra." Kaira hanya mengangguk kaku tanpa mengubah arah pandang nya.

"Kenapa nggak tidur hmm?" Andra mendekat dan duduk disamping Kaira.

"Gimana aku bisa tidur disaat teman aku nggak jelas keberadaan nya dimana? Gimana keadaannya sekarang. Dan itu semua karena aku. Coba bukan karena masalalu aku sama Faris, semua ini nggak bakal terjadi kan ndra?" Mata Kaira semakin memerah, menahan ngantuk, ingin menangis. Semua menjadi satu.

"Hei engga, itu semua karena masalah aku sama Genta. Genta ingin balas dendam tapi lewat orang terdekat aku. Ini semua karena masalah antara geng Genta dan geng aku," ujar Andra sambil mengelus tangan Kaira.

"Aku kasian sama Tasya ndra, hidupnya terlalu berat. Karena masalah kita, dia yang kenak imbasnya. Seharusnya kita menjadi suport system bagi dia, kita malah semakin membuat hidup dia jadi berat," Air mata Kaira lolos begitu saja, anggap lah sekarang Kaira adalah wanita rapuh. Wanita itu tidak tega melihat kehidupan Tasya yang begitu sulit itu.

"Udah jangan nangis, gada gunanya juga Kaira. Sekarang yang harus kita lakuin adalah nyari keberadaan Tasya dan nyelamatin wanita itu,"

"Lebih baik kamu ambil wudhu, kita solat dulu. Aku imamin kamu," Sedih dan senang menjadi satu saat ini bagi Kaira. Ia sedih karena memikirkan Tasya, dan dia senang karena Andra sudah mau mengimami solat nya tanpa harus diminta.

Tapi Kaira sadar, kebahagiaan nya itu pasti akan sesaat. Karena nanti kesedihan pasti akan menghujani dirinya.

***
Di ruangan yang kumuh, tempat yang cahayanya sangat minim, lantai yang lembap, dan bau tidak sedap yang menusuk indra penciuman. Ada gadis yang duduk tidak sadarkan diri diatas kursi usang dengan tangan yang diikat. Tempat itu tidak terlalu sepi, karena tempat itu berada dipinggir jalan. Tempat itu rame karena bunyi kendaraan yang lewat.

Tasya membuka perlahan matanya dan melihat kearah sekitar. Kaira meringis saat melihat betapa kotornya tempat itu.

tekkk brekk tekk

Suara ketukan antara kursi dengan lantai karena pemberontakan dari Tasya. Tapi sia-sia dirinya tidak bisa melepaskan diri, yang ada hanya tenaga terkuras.

"Woy lepasin gue bangsad, lo punya masalah apa sih sama gue!" teriak Tasya, tapi sayang tidak ada satu orang pun yang mendengar nya.

"Ck kenapa hidup gue sial banget sih. Baru sembuh, dituduh jadi selingkuhan, di culik lagi. Shibal," Bisa-bisa disaat seperti ini Tasya masih bisa ngedumel. Apakah dia tidak memikirkan keselamatannya.

Bukkk

Tiba-tiba ada orang yang melemparkan satu botol air mineral kearah Tasya. Tasya menggeram karena perutnya sakit akibat lemparan orang itu.

"Udah bangun lo? Gue kira lo gak bakal bangun lagi." Tasya melotot tidak percaya saat melihat seseorang di depannya itu. Faris dengan Genta.

"F-faris? Jadi lo yang...."

"Hmm benar sekali, kaget?" sela Faris memotong ucapan Tasya.

"Tasya lo masih sama seperti dulu ya ternyata. Ngga pernah takut," ujar Genta yang ada disebelah Faris.

"Genta t-temen SMP gue dulu?"

"Ya benar sekali, gak salah sedikit pun," jawab Genta sambil membuka botol air minum itu dan menyiram air itu kewajah Tasya.

Tasya memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. "Maksud lo apa anjing?" Tasya meludahi Genta yang berada tepat di depan nya.

Plakk

"Berani-berani nya lo ngeludah ke temen gue," Faris menampar Tasya begitu saja, kepala Tasya langsung menoleh kesamping dan pipi mulusnya itu langsung berwarna merah. Bukan itu saja, sudut bibir wanita itu terluka dan mengeluarkan darah.

Genta membasuh mukanya dengan sisa air yang ada di botol itu, dan membuka asal botol air mineral yang ia pegang tadi.

"Awww, s-sakit bangsad." Tasya meringis saat Genta tiba-tiba menjambak rambutnya dan menginjak kakinya. Sialnya Tasya tidak menggunakan alas kaki, dan sepatu Genta yang sangat berat.

"Wanita songong seperti lo itu pantas diberi pelajaran." Satu tamparan keras lagi mengenai pipi mulus milik Tasya. Darah pun keluar dari sudut bibir Tasya. Pas sudah kedua pipi Tasya merah dan terasa nyeri.

Tidak ada lagi alasan agar Tasya tidak menangis. Tamparan itu begitu perih bagi Tasya. Dan kaki Tasya juga terasa nyeri akibat injakan Genta tadi.

"Salah gue apa sama kalian?" Tasya tertunduk dengan air mata yang mengalir dan kedua sudut bibir yang robek.



Haii gimana sama part ini?
Maaf lama update
Lagi gimana gitu moodnya buat nulis, tapi sekarang udah balikk. Yeeee

Sukaa gakk sama part inii?

Lanjut gakk?
Dan ya, udah hampir menuju end nihh😭😔

Sabar dan tunggu sampai cerita ini selesai yaa!

Sampai jumpa di part selanjutnya 🦄

Draka-EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang