chap 17🌳

4.3K 387 1
                                        

Sayup-sayup Amora mendengar sebuah perdebatan di ruangan inap nya,dengan pelan ia membuka mata walau ia masih merasakan pusing di kepala,tapi suara yang terdengar tidak suka itu sangat jelas di telinga nya,suara seorang gadis yang berdebat dengan wanita lain nya.

"Dari awal aku sudah tidak suka Amora tinggal di sana,tapi mama tidak mendengar ku dan coba lihat Mora menjadi seperti ini kan??" Sekali lagi amora mendengar kritikan dari suara itu.

"Mey kita tidak tau apa yang terjadi pada mora,jangan bersimpulan jika mereka tidak baik" tegur wanita paruh baya yang masih nampak cantik.

"Aku tidak permasalah kan sikap bibi Amel dan paman Bagas,tapi bagaimana dengan anak juga keponakan nya?? Kita tidak bisa menjamin mereka berbuat baik pada Mora,bukti nya Mora terguncang seperti sekarang,,, aku yakin mereka sudah melakukan sesuatu terhadap Amora" ucap nya sekali lagi dengan menggebu-gebu...

"Kak Mey"

Gadis yang di panggil Mey segera menoleh saat mendengar panggilan lembut dari atas brankar,dengan langkah cepat mereka menghampiri Amora yang masih terbaring...

"Amora... Kau sudah tidak apa-apa sayang??" Tanya hanin sang mama.

"Apa ada yang sakit??" Sahut Mey cemas.

Amora melihat kedua wanita di hadapan nya dengan sendu,hati nya sakit saat mengingat kedua wanita itu mati karna diri nya,dimana sang mama mati sakit sedang kan kakak mati di bunuh Darren juga delix.

"Hiks... Hiks..."

"Amora kau kenapa?? Apa tubuh mu ada yang sakit hhmm?? Kata kan?" Cecar Mey khawatir.

"Sayang ada apa?? Apa kepala mu sakit?? Kenapa menangis??" Timpal hanin cemas ia mengusap wajah Amora lembut..

"Mama,kakak hiks... Maafkan Amora" ucap Mora dalam tangis nya.

Hanin terdiam bingung kenapa Mora menangis sembari meminta maaf,apa gadis itu melakukan kesalahan??

"Iya... Tidak apa-apa,jangan nangis ya" hibur nya sambil memeluk Amora erat,Hanin tidak tau apa yang terjadi dengan anak gadis nya namun di lihat dari mata hitam Mora gadis itu memiliki trauma yang dalam,entah apa yang terjadi selama dia pergi...

"Mora... Tidak apa-apa jangan takut" ucap Mey lembut.

Mora tetap menangis di pelukan sang mama yang masih menenang kan nya.

"Mora mau pulang!!" Racau Mora.

"Tapi kau belum pulih Mora"

"Tidak... Mora mau pulang,bawa Mora pulang ma Mora tidak mau di rumah itu lagi" desak Mora mempererat pelukan nya.

Sekali lagi Mey yakin jika anak bibi Amel sudah melakukan hal yang tidak terpuji pada adik nya,melihat keadaan Mora yang ketakutan dia benar-benar yakin soal itu...

🌳🌳🌳🌳🌳🌳

Darren dan delix terduduk diam di ruang tamu dengan perasaan dan pikiran bingung serta berkecamuk,mereka sama sekali tidak tau kesalahan apa yang di perbuat tapi seakan semua orang menyalahkan mereka,apa lagi Amora menatap mereka benci itu menambah rasa bingung serta penasaran.

Sekarang di hadapan mereka sudah berdiri sepasang suami istri yang sejak tadi terus menanyai kesalahan apa yang mereka lakukan.

"Jujur sama mama apa yang sudah kalian perbuat pada Amora??" Tanya Amel mama delix.

"Berapa kali sudah kami katakan kami tidak melakukan apa pun ma,kami juga bingung tiba-tiba dia seperti itu terhadap ku dan Darren" jawab delix tidak terima karna terus di tuduh...

Amel menghela nafas dia pikir kedua pemuda itu akan mengaku,jika di tanya berulang kali namun jawaban mereka tetap saja sama,dia jadi yakin jika kedua nya tidak melakukan apa-apa tapi kenapa Amora seakan ketakutan pada kedua pemuda itu?? Pikir Amel.

"Kita akan ke rumah bibi Hanin untuk meminta maaf!!!" Ucap Amel memijit pangkal hidung nya.

"Amora sudah pulang kerumah nya??" Tanya delix.

"Iya."

Perasaan delix semakin tidak tenang karna Amora pulang tanpa pamit,padahal mereka sudah mulai dekat tapi kejadian pagi ini benar-benar merubah gadis manis itu.

Malam pun tiba keluarga Ricard sudah bersiap untuk kemansion anggara, delix menatap kosong pada penampilan nya di cermin,entah kenapa pikiran nya terus tertuju pada Amora masih dia ingat gimana mata hitam itu menyorot benci pada nya.

"Mora...." Gumam nya pelan "kau kenapa???

Delix keluar menuju ruang tamu disana sudah ada orang tua dan Daren menunggu nya.

"Mama tidak mau tau kalian harus meminta maaf pada Mora" ucap Amel kepada kedua pemuda yang duduk diam di bangku belakang.

Kedua nya sibuk dengan pikiran masing-masing hingga tanpa sadar jika mobil mereka sudah ada di pekarangan mansion Anggara...

"Ingat apa yang mama kata kan" ulang Amel sebelum keluar mobil.

Mereka di sambut oleh para pelayan dan mengarah keruang tamu.

"Selamat malam Hanin,maaf ya kami telat" ucap Amel tidak enak.

"Tidak apa-apa mel, yuk duduk dulu" ajak Hanin tersenyum.

Kedua keluarga itu duduk seraya berbincang dengan delix dan Darren juga ikutan menyahut jika di tanya..

"Oh ya nin kami kesini mau minta maaf, pada Mora siapa tau ada sesuatu yang tidak ia sukai selama di rumah!!! Sebenar nya aku juga terkejut saat mendengar kabar dari delix" jelas Amel sedikit bersalah.

"Huuhh... Tidak apa-apa, kami juga terkejut melihat Mora seperti itu,jangan khawatir kami percaya jika delix dan Darren tidak melakukan apa pun" ungkap mama Mora tersenyum lembut.

"Jika boleh apa kami bisa bertemu dengan Amora bi??" Tanya delix...

"Tidak"

Seorang gadis dewasa menjawab dari arah tangga membuat yang di sana terkejut,gadis cantik dengan rambut hitam berkilau sebatas bahu menatap delix tidak suka.

"Kau telah membuat adikku ketakutan,sekarang malah meminta izin untuk bertemu,ternyata kau memiliki muka yang tebal ya??" Ucap gadis itu datar.

"Mey,bicara yang sopan". Tegur sang papa.

"Mau apa kau kesini?? Mau menakuti Amora lagi iya?? Atau kau mau mengancam nya?" Tuding Mey ke arah kedua pemuda itu,tanpa menghirau kan teguran sang papa.

"Kak kami tidak akan melakukan itu,dan tuduhan kakak tidak berdasar" ujar delix tidak terima.

"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan mu itu?? Jauhi Amora dan jangan mengganggu nya"

"Tapi-

"Jika tidak kau akan tau akibat nya" ancam Mey dingin.

"Kak Mey"

Meysya menghentikan debatan kala mendengar suara lembut adik nya.

"Mora!!! Kenapa kau keluar???"

Amora melangkah mendekati keluarga nya dengan wajah tanpa ekspresi,sekilas mata nya bertemu dengan mata delix yang menatap nya tidak mengerti.

"Kak Mey jangan bicara seperti itu"

"Kenapa?? Dia pasti sudah mengancam mu kan??" Tanya mey sebal.

"Tidak kak... Mereka tidak melakukan apa pun"

"Tap-

"Kak ayo temani aku kekamar" potong Mora cepat,Mey hanya bisa menghela nafas pasrah setelah nya dia mengangguk lalu mengikuti langkah Mora.

"Mora.!!!" Panggil delix tapi tak di hirau kan oleh gadis itu.

Darren menatap punggung Mora dengan tatapan rumit,dia ingin bicara namun melihat reaksi amora ia mengurung kan niat nya,besok dia masih bisa bertemu gadis itu Amora butuh waktu untuk tenang.

"Maafkan Amora ya delix!" Ucap Hanin tidak enak.

"Tidak apa-apa bi"

kembali ke masa lalu.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang