Seoul, two years later
Awan gelap menyelimuti langit sore yang harusnya menjadi waktu yang paling tepat untuk menikmati senja, suara gemuruh petir tedengar saling beradu, serta dinginnya udara yang menembus kulit membuat seseorang yang tengah menikmati kesendiriannya mengusap berkali-kali lengannya.
Satu persatu rintik hujan turun disertai aroma petrichor yang baru ia sadari menjadi salah satu candunya. Hujan dan petirichor dua hal yang selalu membawanya kembali mengingat kenangan yang begitu indah dihidupnya. Masih terekam dengan jelas dan tersimpan dengan baik di memori ingatan, bagaimana pagutan ranum yang terlampau menggairahkan kala itu berhasil menyadarkan bahwa ia benar-benar sangat mencintai gadisnya.
Menyesal pun rasanya sangat percuma, karena semua yang telah terjadi tak akan mungkin bisa terulang kembali. Moment itu selamanya hanya akan menjadi sebuah kenangan serta mengajarkan bahwa langsung mengungkapkan lebih baik daripada menyimpan sendiri dan akhirnya hanya rasa sesal yang tertinggal. Jika ia tau bahwa semuanya akan berakhir seperti ini, kala itu pasti ia akan sangat sering mengungkapkan semua rasa cinta yang ia miliki pada gadis yang sampai saat ini masih begitu di cintainya.
Sepasang manik hazel sehitam jelaga miliknya menatap air hujan yang semakin deras mengalir membasahi bumi. Lagi. Ia harus kembali teringat saat hujan deras kala itu, bagaimana sepasang tangan mungil melingkar di perpotongan pinggangnya. Memeluk tubuhnya begitu erat, menyalurkan kehangatan juga ketenangan pada hatinya yang terlampau kacau saat itu. Sungguh! Ia sangat merindukannya.
Selama hampir dua tahun terakhir, beginilah Taehyung. Yang selalu tersiksa dengan rasa rindunya pada Hyerin yang semakin membuncah dari hari ke hari. Taehyung masih mengingat terakhir kali, manakala Hyerin menciumnya, menatap dalam kedua netranya, juga mengucapkan kalimat yang sampai saat ini masih terekam jelas dalam memori ingatannya. Setelahnya, Taehyung tidak mengetahui dimana keberadaan gadis yang masih teramat di cintainya sampai detik ini. Hyerin menghilang membawa seluruh hatinya pergi. Menyisahkan berjuta kerinduan juga rasa sesal yang tak berujung di raga yang seakan kehilangan sebagian nyawa dalam dirinya.
"Taehyung-ah!"
Taehyung menoleh, kemudian tersenyum saat menangkap presensi seorang wanita yang kini menemani hari-harinya. Hingga kesepian yang Taehyung rasakan, bisa sedikit berkurang karena hadirnya sosok wanita yang juga sangat ia cintai. Taehyung beranjak dari balkon kamarnya kemudian menutup pintu, lantas melangkahkan tungkainya untuk mendekat ke arah wanita yang telah menunggunya.
"Hyekung, menangis sedari tadi. Sepertinya ia ingin bersama Appanya."
Taehyung kembali tersenyum, lantas langsung mengambil alih Putra tampannya dari gendongan wanita itu. Taehyung selalu tidak bisa menahan kegemasannya saat melihat Putranya setelah menangis, hingga tak kuasa berkali-kali memberikan ciuman gemas di pipi putih nan gembil itu.
Dan bukannya berhenti menangis bocah laki-laki itu malah semakin menangis setelah mendapat serangan dari Sang Ayah. Wajah mungilnya ia tenggelamkan pada dada bidang Ayahnya, menumpahkan segala kesedihan juga rasa takut yang ia rasakan setelah mendengar suara gemuruh petir yang terlampau kencang beberapa saat yang lalu.
"Kau ini, kenapa suka sekali menggoda Anakmu seperti itu. Lihatlah dia semakin menangis. Sini berikan dia padaku!"
Taehyung terkekeh gemas saat merasakan bagaimana nafas Putranya yang tersengal karena terlalu banyak menangis. Lantas menjauhkan tubuh mungil Putranya dan yang semakin membuat gemas adalah kedua manik hitam yang mirip sepertinya terlihat berkaca-kaca dengan hidung mancungnya yang memerah. Sungguh! Sangat menggemaskan.
"Hyekyung-ah, apa kau ingin bermain bersama Halmeoni lagi?" pertanyaan Taehyung langsung dibalas gelengan cepat oleh putranya.
"Lihatlah Eomma, Hyekyung ingin bersamaku. Sekarang kau bisa istirahat, terimakasih karena telah menjaga Hyekung hari ini." Taehyung berucap sambil menarik putranya agar sepenuhnya kembali masuk dalam dekapan hangatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEILER
FanfictionSebaik dan sekeras apapun usaha untuk menutup sebuah luka, pasti akan terlihat juga. Aksara dari labium mengalun bahwa semuanya baik-baik saja, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Tak ada yang tau seberapa dalam luka yang telah bersemayam dan tak a...
