ARUM membersihkan seluruh wajahnya dari airmata. Malam itu terasa begitu panjang dan seakan tak akan pernah berakhir-seperti kesedihannya. Hujan turun lagi, bahkan lebih deras dari sebelumnya. Angin juga terasa begitu kencang sampai atap-atap kontrakan berisik-saling beradu, berdecit, dan gaduh olehnya.
Sudah hampir satu jam Arum belum bisa menghentikan rintihannya. Munirah mengecup puncak kepala Arum seraya membelai rambut putrinya itu.
"N-nak. . ." Ibunya bertutur. "Kenapa?"
Arum termenung-tangisannya otomatis berakhir. Ia membalikkan badan dan beringsut untuk mendudukkan dirinya di samping ibunya di atas tempat tidur.
Arum masih termangu tak percaya. "Ibu. . ."
"Ibu," Arum memeluk ibunya dengan perlahan-mulutnya masih menganga tak percaya. Sudah lama sekali sejak Munirah, ibunya, mau bersuara.
Munirah mengalami trauma psikologis yang begitu parah. Cedera yang dialaminya disebabkan oleh kekerasan domestik yang menimpanya sehingga ia menjadi lumpuh. Salah satu kakinya mati rasa-tentu saja perasaannya sudah lebih dulu mati. Dalam satu hari penuh, terkadang ia mengeluhkan gejala-gejala klinis lain yang ia alami. Tapi, Arum tidak pandai dalam urusan administrasi rumah sakit. Belum lagi, masalah yang paling utama yang sulit juga ia pahami-uang.
"Ke-napa?" Tanya Munirah perlahan seakan mengucapkan satu kata saja telah menguras seluruh tenaga dari tubuhnya.
Arum menggelengkan kepalanya perlahan sembari melepaskan pelukannya. "Engga kenapa-napa," tipu Arum. Arum tersenyum, masih tak menyangka Munirah mengajaknya berbicara. "Nilai kuliah Arum ada yang jelek, Bu. Mata kuliahnya susah sekali, Arum tidak paham dan Arum takut kalau harus mengulang semester depan." Arum tersenyum miris-bersyukur sekali karena ibunya sudah mau membuka dirinya lagi.
Ibunya yang polos menganggukkan kepalanya mengerti. "Pak. . . Abi?" Tanya Munirah susah payah.
Arum memerhatikan wajah ibunya yang selalu pucat pasi seakan tak ada kehidupan di dalamnya-faktanya, memang tak ada.
Arum mengembuskan napas dari hidungnya dengan jelas. "Iya, mata kuliah Pak Abi susah sekali, Bu."
Munirah menangkupkan tangannya di mulutnya untuk menyembunyikan tawa. Dahi Arum berkerut heran seraya tersenyum penasaran. "K-kenapa, Bu?" Seketika kesedihan yang menggentayangi Arum malam itu sirna dengan kekehan kecil dari ibunya.
"Ka-mu. . . pintar." Munirah menjawil hidung Arum dengan ujung telunjuknya. "Anak. . . Ibu pasti bi-sa."
Arum mengulum senyumnya-tersanjung. "Iya, Bu. Tapi. . . Arum cuma mau nangis saja. Besok hari Arum tidak akan seperti ini lagi, kok. Arum gak mau nahan nangis, itu saja. Supaya hati ini plong."
Ibunya mengangguk yakin seraya tersenyum menampilkan gigi-giginya. "Iya." Pungkasnya.
"Mata kuliah Pak Abi itu susah sekali, Bu." Tutur Arum. "Rasanya. . . Arum mau menghapus mata kuliah itu. Semua materinya sangat sulit dipahami. Meskipun Arum sudah bertanya, tetap saja Arum tidak paham. Arum benci kalau harus gagal seperti ini."
Arum menundukkan wajahnya-murung seketika. Ya, Abipraya memang sulit dipahami untuk Arum. Arum tak percaya bahwa apa yang ia rasakan terhadap Abipraya bukanlah hal yang sederhana. Akan tetapi, Arum berpikir jika seandainya Abipraya terbuka dengan perasaannya, mereka berdua tidak akan ada bedanya dengan Isabella dan Roy.
Perselingkuhan bukanlah sebuah ketidaksengajaan karena mereka selalu direncanakan. Se-alami apapun perasaan yang muncul dalam hati Arum, Arum tetap bisa memilih-apakah ia akan pergi atau ia akan meruntuhkan hati wanita yang lain. Jelas sekali kalau ia paham bagaimana rasanya patah hati. Dan jika Abipraya dengan begitu mudah jatuh pada Arum, maka ia bukanlah seorang pria. Abipraya hanya akan bercermin pada perilaku Isabella. Hanya anak-anak yang pintar dalam meniru.

KAMU SEDANG MEMBACA
Save Your Tears, My Angel
Romantik☘️ ON GOING ☘️ Gadis dingin, kasar dan tak acuh pada sekelilingnya terjebak dalam bantuan sang dosen, Abipraya. Abipraya mencari tahu kendala yang Arum lalui selama masa perkuliahan karena Arum terancam didepak dari perkuliahan. Arum tak mau meliba...