TIGA PULUH TIGA

138 6 2
                                    

ABIZAR menggilir sebuah akrilik kecil berukuran A5 dengan sebuah QR code terlampir di dalamnya. Richard memindai kode tersebut. Seketika mata Richard memicing fokus pada layar gawainya. Arum menggeser tubuhnya sedikit dan Richard sedikit memiringkan tubuhnya agar Arum dapat ikut memilih menu yang ditampilkan pada layar handphone Richard.

Abizar yang sangat teliti dengan detail-detail kecil merasakan ada sesuatu di antara Arum dan Richard, sesuatu yang tak biasa. "Udah belum?" Tanya Abizar yang merasa sedikit risih, merasa bahwa ia seperti jadi roda ketiga antara Arum dan Richard.

Arum mengacungkan telunjuknya pada salah satu menu. Perempuan itu memesan nasi ayam serundeng. Richard pun memesan yang sama dengan Arum.

"Udah udah." Respon Richard pada Abizar. "Oke... jadi gimana, Bro?"

"Jadi gini... lo kenal sama si Keanu, kan? Gua denger-denger dia mau jual motor custom-nya. Barangkali lo tertarik, just let me know." Jelas Abizar seraya bersiap untuk memperlihatkan foto dari barang yang ia maksud pada Richard.

"Gua gak janji ya, Zar. Gua takut Emak gue bete lagi soalnya." Terang Richard pada Abizar.

Arum memperhatikan kedua teman laki-lakinya dengan obrolan seputar kendaraan roda dua yang tengah digandrungi anak muda. Richard dan Abizar terlihat sangat serius membicarakan hal tersebut. Tak ada celah untuk Arum menimbrung obrolan kedua pria itu. Arum memilih untuk fokus sejenak pada tugas tengah semesternya.

"Tapi, koleksi doi emang bagus-bagus. Gua salut." Ucap Richard penuh apresiasi.

"Kapan-kapan gua ajak ke garage-nya, deh." Kata Abizar.

"Oke oke... good." Kata Richard sembari menyelam ke dalam layar ponselnya lagi untuk melihat foto dari motor custom yang dimaksud Abizar. "Berapa katanya? Dua puluh ada, Zar?"

Abizar menggelengkan kepalanya. "Gak lah. Paling tujuh belas jutaan."

Abizar memperhatikan Arum yang sedari tadi tidak menimbrung obrolannya. "Rum? Kamu gak kenapa-napa?" Tanya Abizar, menatap mata kosong Arum dengan khawatir.

Arum kemudian melihat ke dalam wajah Abizar dan Richard secara bergantian dan berkata, "Enggak." Arum tersenyum kecil. Richard dan Abizar bertatapan dengan rasa bersalah mereka. "Makanannya udah dipesan, kan?"

"Udah." Jawab Richard seraya tersenyum pada Arum, memperlihatkan lesung pipinya yang samar.

Abizar memperhatikan wajah Richard yang sumringah. "Oh iya, Rum. Nanti kamu pulang sama siapa?" Tanya Abizar.

"Sama gua aja, Zar." Balas Richard secepat kilat. "Gua kebetulan mau temenin Arum nge-print tugas UTS-nya."

"Oh, oke kalo gitu." Abizar terdiam mendengar jawaban dari Richard.

Tanpa Abizar ketahui, sebenarnya Arum sadar bahwa Abizar kemungkinan besar mencurigai dirinya dengan Richard. Tapi, Arum berpikir bahwa ini adalah kesempatan Arum untuk membuktikan bahwa Arum bisa move on.

Abizar, Arum, dan Richard kembali pada kesibukan mereka masing-masing. Abizar dan Arum mengerjakan UTS mereka dan Richard mengerjakan tugas akhirnya.

Seketika ponsel Arum bergetar tanda ada panggilan baru. Arum merogoh tasnya dan sedikit terkejut melihat nama kakak perempuannya di layar.

"Halo, Kak."

"Rum, kenapa di rumah sepi sekali, ya? Pada ke mana?"

Arum tak ingin menjawab Arin. Seketika hatinya dipenuhi rasa kesal dan kecewa pada kakaknya itu. Perempuan itu mengembuskan napas begitu berat sampai-sampai Richard dan Abizar menoleh cemas.

Save Your Tears, My AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang