Chapter 34. Kebab Date Night

4.6K 446 35
                                        

Saat ini di depan sebuah restoran yang cukup ramai didatangi keluarga besar, Karina berjalan dengan perasaan yang lebih tenang. Rasa sesak yang sempat menyelimutinya kini sudah mereda.

Karina yang mengenakan gaun malamnya, sesekali menengok ke arah samping, dimana ada seorang laki-laki yang juga sudah mengenakan setelan jas formalnya dan berjalan sebagai pasangannya malam ini.

Apakah tidak apa-apa? apakah tidak akan terasa aneh jika ia menjadikan Julian sebagai partnernya malam ini? batinnya.

Kedua insan itu sudah hampir sampai di pintu utama, namun langkah Karina seketika terhenti, setelah ia melihat siapa yang sedang mengobrol dan bercengkrama dengan sanak saudara disana.

"Jul..?"

Karina menahan tangan Julian yang masih lanjut berjalan, membuat laki-laki itu berhenti dan menatapnya.

"Kenapa?" tanya Julian.

Karina menelan ludah. "I-itu.." Ia menunjuk ke arah pintu utama. Julianpun ikut melihat ke arah sana.

Disana, Rian dan Sophia sedang mengobrol dan saling menyapa sanak saudara yang juga datang malam ini. Keduanya terlihat menikmati waktu dan suasana dengan menyenangkan.

"Gakpapa, ayo."

Julian berucap kemudian melanjutkan jalannya dengan tenang, sementara Karina menelan ludah. Apakah Julian tidak takut?? batinnya.

Karinapun mengikuti dengan panik dari belakang. Keduanya menghampiri Rian dan Sophia yang berada di dekat pintu.

Rian menengok dan melihat putera bungsunya. "Jul? dateng juga kamu?" ucapnya.

"Datenglah pa, kasian kakak ipar," jawab Julian, sambil menengok ke arah Karina di sampingnya.

Karina berdecak kesal mendengarnya. "Gak usah kasian-kasian," ucapnya.

Julian tersenyum geli. Kini pandangan Julian beralih ke arah Sophia yang berdiri di samping ayahnya. Keduanya saling menatap. Julian dapat merasakan kebencian yang tak pernah luntur dari tatapan perempuan itu padanya.

"Malam, tante Sophia," ucap Julian, menyapa dengan senyuman di bibirnya.

Sophia tak menanggapi, dan hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Hal tersebut langsung berhasil menciptakan keterdiaman yang canggung diantara mereka berempat. Karina juga merasakannya dengan begitu kuat.

"Udah, sana masuk kalian berdua, berbaurlah sama keluarga," ucap Rian, memecah keheningan tersebut.

"Oke pa," sahut Julian. Julian melihat ke arah Karina, seolah mengajaknya untuk masuk bersamanya.

Karinapun mengangguk. Mereka berdua melanjutkan jalan memasuki area restoran yang suasananya ramai dan berdekorasi mewah.

"Gila, banyak juga keluarga lo," ucap Karina, menyadari ada cukup banyak anggota keluarga yang datang kesini sekarang.

"Lah, lo emang gak sadar dari nikahan lo sama Evan dulu? undangannya sampe baerapa banyak?"

Karina yang mendengar itu terdiam. Benar juga, hampir semua undangan yang mereka sebar ditujukan pada keluarga Evan, sebab Karina tak memiliki banyak anggota keluarga. Ia saja hampir tidak mengundang ayahnya dari Jakarta, jika sang ibu tidak memaksa.

"Udah ayo, ambil makanan dulu, laper gua," ucap Julian.

Karina mengangguk. "Duluan sana," ucapnya.

"Lo mau gua ambilin gak?"

"Gak usah, nanti gua ambil sendiri."

Julian mengangguk. "Yaudah, sini, duduk disini aja." Julian berjalan ke arah salah satu meja yang tersedia dan belum diisi sanak keluarga.

mysaviorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang