Hari Sabtu yang cerah di parkiran sebuah café mewah bergaya Paris, Karina dan sahabatnya sudah janjian untuk brunch bersama. Keduanya turun dari mobil sambil mengobrol, kemudian menuju salah satu meja outdoor yang masih kosong.
Dua perempuan berambut hitam dan pirang itu duduk berhadapan. Karina mengenakan outift yang didominasi warna merah, sementara Mery mengenakan pakaian feminine serba putih. Tema outfit mereka hari ini adalah angel dan devil. Mery sebagai malaikatnya dan Karina sebagai iblisnya.
"Berati nanti sore kamu fitting?" tanya Mery, sembari keduanya membaca buku menu dan memilih apa yang hendak dipesan.
"Iya, gaunnya udah jadi," jawab Karina, sambil membuka kacamata hitam yang ia kenakan.
"Cepet juga ya," sahut Mery, mengingat pernikahan Karina masih satu bulan lagi dari sekarang.
"Nyokapnya Evan orangnya gesit dan terorganisir, makanya hampir semua persiapannya udah jadi, undangan juga bentar lagi disebar," tutur Karina.
Mery mengangguk-angguk mendengarnya. Keduanya kembali menatap ke arah buku menu di hadapan mereka.
Sesaat, Mery melirik ke arah sahabatnya di depan. Entah kenapa, meskipun Karina terlihat biasa saja dan bahkan antusias untuk mengakhiri masa-masa lajangnya, Mery masih sering merasa khawatir.
Mery ingin bertanya sekali lagi apakah Karina sudah yakin dengan keputusannya, namun ia takut jika dirinya bertanya, hanya akan membuat Karina bad mood dan tak mau bicara dengannya.
Akhirnya Merypun mengurungkan niatnya, sementara Karina kini memanggil waiter.
"Pesen minum dulu ya," ucap Karina yang diangguki Mery. Keduanyapun memesan minuman mereka. Karina memesan kopi dan Mery memesan jus buah.
"Gua kayanya gak bisa dateng ke nikahan kakak gua, sibuk."
"Sibuk, apa emang gak mau dateng Jul?"
Setelah memesan minuman, Karina tiba-tiba mendengar obrolan itu. Kedua matanya membulat. Ia refleks melihat ke arah belakang.
Benar saja, apa yang tidak ia harapkan kini terjadi. Karina melihat adik Evan, Julian yang duduk bersama dua orang laki-laki lainnya. Salah satu adalah Gede, bodyguardnya, dan satunya lagi sepertinya adalah kawannya.
Karinapun segera menatap ke depan lagi dengan wajah kesal. Ia memejamkan matanya.
"Kenapa?" tanya Mery.
"Lo inget waktu gua cerita soal adeknya Evan?" tanya Karina yang diangguki oleh Mery.
"Dia ada di belakang gua sekarang," ucap Karina.
Merypun segera melihat ke arah belakang Karina. Ada tiga orang laki-laki yang sedang mengobrol dengan santai disana, sambil merokok.
Kedua mata Mery sedikit membulat. "Yang mana..?" tanyanya.
"Yang paling banyak tingkah," jawab Karina.
Mery kembali mengerjap dan terus memandang ke arah sana. Ia begitu fokus memperhatikan.
"Udah jangan diliatin gitu, nanti dia nyadar," ucap Karina.
Mery seketika menelan ludahnya. Ia menatap Karina dengan panik.
"K-kayanya udah nyadar," ucap Mery, membuat Karina melotot.
Karina menengok ke belakang, dan benar saja, Julian dan Gede sudah menatap ke arahnya, menyadari keberadaannya sekarang.
Senyuman kecil tersungging di bibir Julian. Laki-laki itu meletakkan rokok di asbak dan segera berdiri dari kursinya.
Karina kini kembali menghadap depan dan menghela nafasnya kasar. Ia menatap sahabatnya dengan wajah jengkel.
KAMU SEDANG MEMBACA
mysavior
RomanceKarina meninggalkan Wira, kekasihnya yang setia namun tak bergelimang harta. Perempuan berdarah Bali itu memilih dipersunting oleh Evan, si kaya raya yang tak pernah cukup dengan satu wanita, namun ia yakini merupakan penyelamat dalam hidupnya. ⚠️CW...
