Tok tok!
Saat ini di dalam kamar, Karina baru saja memasang sebuah sheet mask beraroma chamomile di wajahnya. Ia yang sudah mengenakan piyama tidurnya dengan nyaman, kini menengok ke arah pintu kamar.
"Karina?? ada tamu."
Karina seketika mengernyit. Ia mendengar suara ibunya dari balik pintu.
"Tamu?" gumamnya, perempuan itu bangkit dari kursi meja riasnya kemudian berjalan dan membuka pintu.
"Tamu ma? jam segini?" tanya Karina, melihat sudah pukul sembilan malam sekarang.
"Iya, mama juga bingung, mana dia bawa kue," jawab ibunya yang bernama Isvara.
Isvara juga menunjukkan paperbag berisi kue dari bakery mewah yang diberikan tamu itu padanya.
"Evan ya?" ucap Karina, membuat Isvara mengangguk.
"Kok kamu tau?"
Karina menghela nafasnya kasar. Ia berjalan keluar dari kamar dan melewati ibunya yang masih berdiri terdiam.
"Lepas dulu dong maskernya," ucap Isvara pada puteri sulungnya.
"Gak usah ma, baru banget dipake, mahal," ucap Karina, menyentuh sheet mask di wajahnya yang masih basah.
Di ruang tamu, Karina berjalan. Ia melihat seorang laki-laki yang duduk di sofa. Laki-laki itu sempat tersentak melihat Karina yang mengenakan masker di wajahnya, namun kemudian ia berdiri.
Kehadiran Evan sesungguhnya tak membuat Karina kaget, namun rasa bingung muncul ketika ia melihat di tangannya, sudah ada satu bouquet bunga berwarna putih.
Evan memberikan bouquet bunga itu pada Karina.
"Kamu kan udah kasih aku bunga tadi sore," ucap Karina, sembari menerima bouquet bunga itu dengan bingung.
"Iya, tadi refleks beli lagi pas ngelewatin toko bunga," jawab Evan.
"Refleks?" gumam Karina, mengernyit memperhatikan laki-laki ini, sementara Evan menelan ludah.
"Kamu gak suka ya?"
"Bukannya gak suka, Evan, tapi masa kamu kasih aku bunga dua kali sehari?" ucap Karina.
"Gakpapa, habis aku ngerasa kalo dateng kesini nemuin kamu, harus bawa bunga," sahut Evan.
Karina yang mendengar itu tak kuasa tersenyum. Laki-laki ini memang paling handal dalam urusan mulut manis.
"Jadi? ngapain kamu tiba-tiba dateng lagi? mau nanya soal kartu kredit?" tanya Karina, sembari berjalan dan duduk di sofa panjang.
Evanpun kembali duduk seperti tadi di samping Karina. Ia tersenyum memperhatikan Karina yang tak melepas masker di wajahnya meskipun Evan ada disini sekarang. Perempuan ini tidak peduli.
"Kamu pasti tau kenapa aku dateng lagi," ucap Evan.
"Hm, tapi aku gak nyangka aja bakal sekarang banget datengnya, kan bisa besok?" tutur karina.
"Gak sabar," jawab Evan tersenyum, membuat Karina menghela nafasnya pelan.
"Aku mau minta nomor rekening kamu, Karina, aku mau transfer semua yang udah kamu keluarin buat belanja hari ini," tutur Evan.
Karina yang mendengar itu mengernyit. Perempuan yang masih mengenakan masker dan masih memegang bunga di tangannya itu menatap Evan dengan senyuman miring di bibirnya.
"Why?" tanya Karina.
"Ya karena aku yang udah janji mau manjain kamu hari ini, kalo kamu bayar sendiri, aku jadi-"
KAMU SEDANG MEMBACA
mysavior
RomansaKarina meninggalkan Wira, kekasihnya yang setia namun tak bergelimang harta. Perempuan berdarah Bali itu memilih dipersunting oleh Evan, si kaya raya yang tak pernah cukup dengan satu wanita, namun ia yakini merupakan penyelamat dalam hidupnya. ⚠️CW...
