"Jul, ini gimana?"
Saat ini, Karina masih berada di depan gerobak kebab yang ia datangi bersama adik iparnya. Gerobak ini secara mengejutkan merupakan milik Julian, dan laki-laki itu sedang mengajarinya cara membuat kebab.
Karina sudah memasukkan semua isian kebab yang ia inginkan, mulai dari daging, sayuran, serta saus pelengkap. Kini ia sedang meminta Julian menunjukkan bagaimana cara melipat kebab tersebut dan menggulungnya dengan rapih.
Karena mereka membuat dua porsi kebab, Julian bisa mempraktekan bagaimana ia menggulung kebab miliknya.
Karina yang melihat itu mengerjap pelan. Padahal Julian sudah menunjukkannnya secara pelan, namun tetap saja dirinya kesulitan.
Kebab milik Julian sudah tergulung dengan rapih, namun milik Karina malah jadi berantakan. Karina mencoba mengulang lagi, namun ia tetap kesulitan.
"Sini."
Julian kini mendekat dan berdiri di belakang Karina. Ia meraih kedua tangan Karina, dan mengarahkan bagaimana cara melipat kulit kebab itu.
Julian berdiri begitu dekat. Kepalanya berada tepat di samping kepala Karina, membuat perempuan itu menelan ludah.
Dari jarak sedekat ini, Karina dapat menghirup aroma parfum Julian dengan samar. Aroma yang maskulin namun tidak berlebihan. Begitu nyaman memasuki indera penciumannya.
Senyuman kini tersungging di bibir Karina, setelah kebab itu akhirnya tergulung dengan sempurna.
"Yeay," ucap perempuan itu, menunjukkan kesenangannya.
Sementara Julian kini mengambil karton kebabnya dan menyuruh Karina memasukkan kebab tersebut ke dalam.
"Seru." Karina kembali berucap dengan senang, mengakui betapa menyenangkannya melakukan semua ini.
"Iya seru kalo bikin satu, kalo bikin banyak terus sambil ditungguin pembeli, gak seru lagi," tutur Julian.
Karina kembali tersenyum. "Iya sih," sahutnya. Ia kini memegang karton kebab tersebut.
"Terus? ini boleh gua makan?" tanya Karina.
"Ya boleh lah, kan emang buat lo," sahut Julian.
Karina kini melepaskan terlebih dahulu sarung tangan yang ia kenakan, begitupula Julian.
Setelah itu mereka kembali berjalan ke arah bangku yang ada di dalam kedai. Keduanya duduk bersampingan, dan menghadap ke arah gerobak.
Bertepatan dengan mereka duduk, seorang pembeli sudah kembali datang dan memesan. Dua karyawan Julianpun kembali mengambil posisi di gerobak dan melanjutkan pekerjaan mereka. Seorang ojek online juga terlihat menghampiri untuk menunggu orderan yang mereka dapatkan.
"Emang sering rame kaya gini?" tanya Karina.
Julian mengangguk. "Lumayan, hampir tiap hari kaya gini," sahutnya.
Karina mengangguk-angguk, dan mulai membuka karton kebab tersebut dan menarik kebabnya ke atas. Bentuknya tidak terlalu buruk meskipun Karina masih amatir.
Kini Karina mulai mencoba makanan tersebut. Gigitan pertama itu ia kunyah dengan pelan, sambil mengamati rasa di lidahnya.
Kedua mata Karina kini membulat. Ia menatap Julian di sampingnya.
"Gimana?" tanya Julian.
"Enak banget," jawab Karina, sambil menatap Julian tak percaya.
Julian tersenyum. "Bagus kalo lo suka," ucapnya.
Karina kembali menggigit kebab tersebut. "Pantes banyak yang beli," ucapnya sambil mengunyah, sembari menatap ke arah para pembeli yang sudah kembali berdatangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
mysavior
RomanceKarina meninggalkan Wira, kekasihnya yang setia namun tak bergelimang harta. Perempuan berdarah Bali itu memilih dipersunting oleh Evan, si kaya raya yang tak pernah cukup dengan satu wanita, namun ia yakini merupakan penyelamat dalam hidupnya. ⚠️CW...
