Siang hari di sebuah kedai ayam bakar yang baru saja buka, seorang pembeli datang dan hendak memesan.
"Bli, mau satu ekor ya."
Ketika pembeli tersebut memanggil seorang laki-laki yang berdiri membelakanginya, tak ada jawaban ia terima, membuatnya mengernyit bingung.
"Bli? udah buka belum? saya mau beli."
Masih tak kunjung ada jawaban. Apakah laki-laki itu tak bisa mendengarnya? batin pembeli tersebut.
"Boleh bu, mau berapa potong?"
Seorang perempuan tiba-tiba keluar dari area dalam kedai ayam bakar ini. Ia sepertinya baru saja mencuci piring, terlihat dari tangannya yang basah dan sedang ia lap.
"Mau satu ekor ya," ucap pembeli tersebut, masih terlihat bingung karena laki-laki disana tak menjawabnya.
"Baik bu, silahkan duduk dulu," sahut pegawai perempuan di kedai ini.
Kini, pembeli tersebut sudah duduk di salah satu bangku dan menunggu pesanannya, sementara Made, berjalan ke arah kawannya, Wira yang sedari tadi hanya berdiri dan memegang sebuah pisau.
Wira sedang memotong sayuran, namun ia malah merenung hingga tak menyadari sudah ada pembeli yang datang.
"Sini gua aja," ucap Made kesal, dan merebut pisau serta sayuran tersebut dari tangan Wira.
Wirapun mengerjap dan tersentak, seolah baru tersadar dari lamunannya yang panjang.
"Bakarin tuh, satu ekor," ucap Made, membuat Wira menengok ke arah meja dimana Made sudah mempersiapkan satu ekor ayam ungkap untuk dibakar.
Kini Wira menelan ludahnya. Ia terlalu lama merenung dalam pikiran, hingga tidak sadar sudah ada pelanggan. Laki-laki itupun segera bergerak dan melakukan pekerjaannya.
Sementara Made sedang memotong sayuran sambil melirik tajam ke arah Wira. Sesungguhnya Made juga bisa membakar ayam tersebut, namun ia sengaja meminta Wira yang melakukannya, sebab jika tidak, laki-laki itu bisa terus merenung hingga kedai ini tutup.
***
Setelah ayam bakar selesai dibuat, Made langsung memberikannya pada pelanggan yang sudah menunggu. Ia tersenyum dan berterima kasih pada pelanggan tersebut.
Kini Made berjalan ke arah laci untuk meletakkan uang yang ia terima, kemudian ia menatap Wira yang berdiri di sampingnya.
"Sorry," ucap Wira, meminta maaf pada Made karena kelalaiannya tadi.
"Gakpapa, ini kan kedai ayam punya lo, kalo bangkrut gara-gara pemiliknya galau terus, ya lo doang yang rugi," ucap Made, sambil berjalan pergi untuk merapikan meja.
Sementara Wira yang mendengar itu menelan ludahnya. Wira sadar Made sedang sarkas padanya, sebab kedai ini bukan hanya miliknya, namun juga milik Made. Mereka berdua yang membangunnya dengan susah payah.
Wira juga tidak bisa menyalahkan Made yang marah padanya, sebab ini bukanlah pertama kali kejadian seperti ini terjadi.
"Dulu kedai ini udah tutup selama satu minggu, gua juga gak masalah waktu itu, karena gua paham lo lagi galau-galaunya habis diputusin mantan lo."
Made kembali berucap. Ia kini menatap Wira dengan tajam.
"Tapi ini udah hampir dua bulan lewat Wir, apa gak terlalu lama lo galau, sampe bisnis kita terbengkalai?"
"Made, sorry, gua-"
"Lo tau apa yang paling bikin gua marah sama situasi sekarang ini?" Made memotong ucapan Wira, membuat laki-laki itu kembali menelan ludah.
KAMU SEDANG MEMBACA
mysavior
RomansaKarina meninggalkan Wira, kekasihnya yang setia namun tak bergelimang harta. Perempuan berdarah Bali itu memilih dipersunting oleh Evan, si kaya raya yang tak pernah cukup dengan satu wanita, namun ia yakini merupakan penyelamat dalam hidupnya. ⚠️CW...
