Saat ini, Karina masih berdiri dan menatap laki-laki yang berlutut di hadapannya. Laki-laki yang baru saja mengucapkan kalimat yang tak Karina sangka akan ia dengar begitu cepat.
Senyuman kecil seketika tersungging di bibir manis perempuan itu. Pandangannya terus tertuju pada Evan yang saat ini masih menunggunya berucap.
Kini Karina melipat kedua tangan di depan dan menghela nafasnya pelan. "Apa boleh buat?" ucapnya.
Evan yang mendengar itu mengerjap. Apakah perempuan ini akhirnya luluh padanya? batinnya.
"Berdiri," ucap Karina, dan Evanpun segera berdiri.
"Mana hp lo? mau nyimpen nomor gua kan?" tanya Karina.
Evan mengangguk dan mengeluarkan ponselnya dari kantung celana, kemudian ia memberikannya pada Karina.
"Lo ada waktu besok?" tanya Evan.
Karina mengembalikan ponsel Evan setelah menyimpan nomor ponselnya. "Lo mau ngajak jalan besok?"
"Iya," jawab Evan.
"Yaudah, chat aja, nanti gua kasih alamat rumah gua, lo jemput gua besok," ucap Karina yang diangguki oleh Evan.
"Gimana kalo sekarang lo gua anter pulang aja? biar gua tau alamat lo," tanya Evan, namun Karina segera menggeleng, menandakan dirinya tidak mau.
"Besok, siap-siap duit lo gua abisin," ucap Karina tersenyum miring pada Evan.
Evan yang mendengar itu malah tertawa geli. "Iya, gua udah siap," jawabnya.
"Alright then, see you tomorrow, rich boy."
Karina berucap dan mengedipkan satu matanya pada Evan, sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan pergi.
Evan yang melihat itu semakin tak kuasa. Karina adalah perempuan paling unik yang pernah ia temui. Tak pernah ada perempuan yang dengan santainya mengatakan akan menghabiskan uang Evan esok hari, apalagi memberikan julukan rich boy padanya.
Sementara itu, Karina akhirnya sampai di mobil yang jadi tujuannya. Ia masuk dan segera duduk di kursi depan.
"Jadi? gimana?"
Karina menengok, dan melihat seorang perempuan berambut pirang yang duduk di kursi kemudi.
"It's happening," jawab Karina dengan senyuman puas di bibirnya. Ia menunjukkan wajah senang pada sahabatnya, Mery, yang sedari tadi sudah mengantar dan menunggunya disini.
Mery menghela nafasnya kasar dan menatap Karina dengan khawatir.
"Karina, kamu beneran yakin mau ngelakuin semua ini? aku kan udah bilang Evan itu-"
"Ssstt," Karina segera menghentikan ucapan Mery.
"Lets go," ucapnya lagi, meminta Mery menyetir dan membawa mobil ini pergi dari parkiran night club.
Mery menelan ludah, menatap sahabatnya dengan khawatir meskipun Karina terlihat senang. Kini perempuan itu bahkan sudah memainkan ponselnya, sepertinya ia sudah mulai chatan dengan Evan.
Akhirnya Merypun mulai melajukan mobilnya. Ia masih belum percaya bahwa sore tadi, ia sudah mengantar Karina untuk putus dengan Wira, dan malamnya, Karina sudah punya gebetan baru yaitu Evan.
***
Keesokan harinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Saat ini, Karina sudah selesai bersiap. Ia menatap dirinya dengan seksama di depan cermin.
Make up yang natural sudah terpoles di wajahnya. Sedikit gelombang membuat rambut hitam panjangnya terlihat lebih bervolume. Casual dress dengan high heels membuat penampilannya sangat sempurna untuk kencan pertama.
KAMU SEDANG MEMBACA
mysavior
RomanceKarina meninggalkan Wira, kekasihnya yang setia namun tak bergelimang harta. Perempuan berdarah Bali itu memilih dipersunting oleh Evan, si kaya raya yang tak pernah cukup dengan satu wanita, namun ia yakini merupakan penyelamat dalam hidupnya. ⚠️CW...
