Di dalam kamar penginapan, seorang perempuan diterpa sinar matahari yang mengganggu tidurnya yang lelap. Iapun mengerjap dan membuka kedua matanya, menyadari dirinya masih berbaring di atas kasur, dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Good morning, my love."
Tiba-tiba suara itu terdengar di telinga Karina, bersamaan dengan suara angin dan desiran pasir yang begitu samar. Iapun perlahan bangkit dari tidurnya dan melihat ke arah depan.
Seorang laki-laki sudah berdiri disana, persis di depan jendela kamar yang sudah terbuka lebar, memegang gelas kecil di tangannya dan tersenyum pada Karina.
"Pemandangan dari sini indah banget," ucap Evan, kemudian meminum tehnya dan meletakkannya di atas meja.
Kini Evan berjalan ke arah samping tempat tidur. Ia berdiri di dekat istrinya yang masih terduduk di atas kasur dan menatapnya dengan seksama.
"Mau liat?"
Evan menaikkan satu tangannya, seperti mengajak Karina untuk turun dari kasur dan melihat pemandangan indah pantai itu bersamanya.
Namun anehnya, Karina tak kunjung menerima ajakannya. Perempuan itu masih terdiam disana, dan menatapnya dengan tatapan yang entah kenapa, begitu tajam pada Evan.
Dibalik selimut yang menutupi kedua tangannya, Karina mengepalnya kencang, sembari menatap wajah Evan dengan nafas yang terengah-engah.
Hal tersebut membuat Evan semakin mengernyit dan menurunkan tangannya seketika.
"Kenapa??" tanya Evan, tak mengerti kenapa istrinya menatapnya begitu tajam.
Beberapa saat suasana tegang itu tidak berubah, hingga akhirnya Karina menyunggingkan senyuman.
Tatapan tajam yang tadi Karina berikan seketika berubah menjadi tatapan yang lembut pada suaminya.
"Gakpapa sayang," jawab Karina, turun dari kasur dan berdiri di hadapan Evan.
Evan sesaat masih terdiam, menelan ludahnya. Laki-laki itu sempat terlihat panik karena ekspresi Karina barusan.
"Kamu yang pakein aku baju?" tanya Karina, melihat dirinya sendiri yang sudah mengenakan piyama atas dan bawah.
"Iya, habis aku takut kamu kedinginan," sahut Evan.
"That's so sweet, thank you," ucap Karina, kemudian mengecup pipi Evan, membuat Evan tersenyum senang padanya.
"Ayo liat pemandangan," ucap Karina sembari memegang tangan Evan. Keduanyapun berjalan ke arah jendela besar di kamar mereka yang langsung menghadap ke arah pantai.
"Wow," ucap Karina, setelah angin sejuk menerpanya, bersamaan dengan pemandangan indah yang jadi tujuan penglihatannya.
"Padahal aku lahir disini, tumbuh besar juga disini, tapi Bali gak pernah berhenti bikin aku takjub," tutur Karina.
Evan yang mendengar itu kini memperhatikan istrinya dari samping. Padahal, Karina baru saja bangun dari tidurnya, ia juga tidak mengenakan riasan sama sekali di wajahnya, namun kenapa kecantikannya tidak pernah luntur?
"So, are we going to the beach today?" tanya Karina.
"Of course," jawab Evan. "Tapi sarapan dulu, biar ada tenaga," lanjutnya.
Karina mengangguk. "Oke, aku siap-siap dulu," ucapnya dengan semangat, kemudian berjalan ke arah kopernya untuk mengambil pakaian.
Sementara Evan yang melihat itu tersenyum dan kembali mengambil gelas tehnya. Ia memperhatikan Karina yang terlihat begitu ceria dan semangat untuk menjalani hari pertama bulan madu mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
mysavior
RomanceKarina meninggalkan Wira, kekasihnya yang setia namun tak bergelimang harta. Perempuan berdarah Bali itu memilih dipersunting oleh Evan, si kaya raya yang tak pernah cukup dengan satu wanita, namun ia yakini merupakan penyelamat dalam hidupnya. ⚠️CW...
