***
Dengan taksinya, Lisa menemui ayahnya di sebuah restoran. Mereka memang berjanji untuk bertemu di sana, namun Teo tidak tahu kalau Lisa akan membawa semua barangnya seperti sekarang. "Bukankah kau menginap di rumah ibumu?" tanya Teo, melihat putrinya yang datang, menemuinya di depan restoran itu.
Lisa memeluk ayahnya, lantas menggeleng, mengatakan kalau ia ingin pulang ke rumah ayahnya. Ke rumah yang sudah lama ditinggalinya. "Appa tidak merindukanku? Kenapa tidak menjemputku?" protes Lisa, setelah ia melepaskan pelukan ayahnya.
Ajudan yang bekerja untuk ayahnya mengulurkan tangannya, akan meraih tas besar Lisa dan membawakannya. Ajudan itu menyimpan tas Lisa di dalam mobil atasannya, sedang Lisa bersama ayahnya masuk ke dalam restoran.
"Appa, aku berkencan dengan seorang pria sekarang," kata Lisa, sembari melangkah menggandeng lengan ayahnya.
"Oh ya? Siapa? Dia pria baik, kan?"
"Jiyong oppa," santai Lisa.
Teo menoleh menatap putrinya, sedang Lisa menarik bibirnya, tersenyum dengan begitu lebar. Sembari di persilahkan duduk di salah satu meja dalam restoran itu, Lisa berkata kalau ia sudah menyukai Jiyong sedari lama. Lisa juga bilang kalau Jiyong beberapa kali menolaknya dan sekarang pria itu menyukainya. Lisa beritahu ayahnya segalanya, kecuali pertengkarannya dengan kakak juga ibunya.
"Appa tidak menyukainya?" tanya Lisa, sebab di sepanjang ceritanya, Teo hanya diam. Hanya mendengarkannya.
"Tidak," pria itu menggeleng. "Kapan-kapan kita harus mengajaknya makan bersama," susulnya kemudian.
Lisa mengangguk menyetujuinya. Lantas pelayanan kembali untuk menanyakan pesanan mereka. Teo memesan menu yang putrinya inginkan, lantas keduanya kembali ditinggalkan. Di restoran itu tidak terlalu ramai sekarang, jam makan siang sudah lama berakhir dan mereka belum masuk ke waktunya makan malam. Teo makan siang terlambat hari ini, karena pekerjaannya.
"Appa, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," kata Lisa kemudian, tiba-tiba bersikap serius dan menyingkirkan senyum kekanakan di wajahnya.
Sang ayah mengangguk, bertanya apa yang ingin Lisa katakan sekarang. "Kapten Kim mengusirku dari regu," lapor gadis itu kemudian. "Karena itu, sekarang aku tidak bergabung dimana-mana, apa mungkin aku bisa kembali ke kamp?" tanyanya kemudian.
Teo membisu. Menatap putrinya, mencari-cari petunjuk di raut wajah gadis itu. Mencari-cari alasan kenapa putrinya dikeluarkan dari regu khusus itu. Sembari mengingat-ingat semua informasi yang ajudannya berikan padanya, informasi tentang putrinya yang rutin ia minta dari putrinya. Teo mengingat-ingat, apa ajudannya pernah memberitahunya kalau Lisa dikeluarkan dari regu? Rasanya Teo tidak pernah mendengar berita itu sebelumnya.
"Sekarang aku masih bagian dari regu, Kapten Kim belum benar-benar memecatku secara resmi. Aku memintanya untuk menundanya, sampai aku memberitahumu lebih dulu," kata Lisa, seolah tahu alasan ayahnya menatap curiga padanya.
"Kenapa?"
"Aku sudah membuat keributan saat ingin masuk ke regu itu," Lisa tertunduk. "Maaf, aku tidak bisa bertahan lama di sana," susulnya, masih sembari menundukan kepalanya.
"Dan alasanmu dipecat?"
"Apa appa harus tahu alasannya?" sebentar Lisa mengangkat kepalanya, lalu ia menunduk lagi saat ayahnya mulai bicara.
"Kau ingin aku bertanya pada Kapten Kim?"
"PTSD," pelan Lisa. "Waktu itu aku dan rekan-rekanku sedang menyelamatkan para pengungsi, lalu tiba-tiba ledakan terjadi dan semuanya meninggal, kecuali aku," katanya, masih dengan suaranya yang pelan. "Rekan-rekanku, pengungsi yang harusnya kami selamatkan, semuanya meninggal," tegasnya. "Sejak itu aku tidak bisa tidur, aku selalu gugup dan jadi semakin parah. Kapten Kim langsung mengirimku pulang setelah menyadarinya, tapi di perjalanan ledakan kembali terjadi. Rekan-rekan yang dikirim pulang bersamaku lalu bilang kalau ledakan itu disengaja, untuk membunuh kami, atas perintah Kapten Kim. Aku tidak tahu detailnya, tapi... Saat itu aku ikut bersama mereka, karena aku takut sendirian," sementara sang ayah membisu mendengarkannya, Lisa hampir menangis karena menceritakan kejadian itu.
"Bagaimana kau bisa kembali ke sini?" Teo akhirnya bertanya, sementara Lisa masih mengatur nafasnya. Berusaha keras untuk menahan traumanya. Ia remas kuat-kuat celananya, dan menyadari itu, Teo bangkit untuk pindah ke sisinya.
Teo duduk di sebelah putrinya, meraih satu tangan Lisa dan menggenggamnya. "Beritahu appa segalanya, bagaimana kau bisa sampai di sini, apa yang terjadi di saja. Kalau kau tidak memberitahuku, aku tidak bisa membantumu," tenang Teo, sembari menepuk-nepuk punggung tangan putrinya.
"Aku tidak tahu detailnya, tapi semuanya kacau," Lisa berkata. "Ada pembelot di reguku, di antara rekan-rekanku. Setelah ledakan yang katanya ulah Kapten Kim, aku ikut bersama mereka. Kami naik kapal untuk kembali ke sini. Katanya itu kapal barang. Tapi, ada yang aneh di sana. Semuanya meninggal, semua orang yang ada di kapal itu meninggal."
"Dan bagaimana kau bisa selamat?"
"Orang terakhir yang selamat harusnya membunuhku. Tapi dia justru menembak dirinya sendiri," kata Lisa. "Sebelum meninggal, dia bilang—aku membiarkanmu hidup karena ayahmu," bisiknya, jauh lebih pelan dari sebelumnya.
"Kau tahu siapa dia?"
"Tidak, aku tidak pernah bertemu dengannya," geleng Lisa. "Dan setelah kejadian itu, aku melarikan diri. Aku bersembunyi, karena terlalu takut," katanya.
"Itu artinya kau sudah sampai di sini tapi tidak langsung pulang? Lalu dimana kau selama itu?" tanya Teo dan tentu Lisa mengakuinya, kalau ia tinggal di rumah Jiyong. "Dan apa alasanmu tiba-tiba bilang sudah di bandara?" tanyanya sekali lagi.
"Aku ketahuan orangtua Jiyong oppa," pelan Lisa sekali. "Tapi... Aku tidak menceritakan semua ini pada siapapun, aku hanya menceritakannya padamu. Jiyong oppa, orangtuanya, eomma dan Soohyuk oppa, semua tidak tahu tentang ini. Tentang PTSD-ku, mereka juga tidak tahu," katanya.
"Bagaimana dengan Kapten Kim?"
"Aku kehilangan kontak dengannya sejak dua hari yang lalu. Bagaimana ini, appa? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Kapten Kim?" tanyanya, masih sembari menggenggam tangan ayahnya.
Teo memeluk putrinya yang gemetar, mengusap-usap punggungnya. Teo menenangkan putrinya, menenangkan Lisa yang berusaha keras untuk tidak menangis di sana. Makanan mereka datang dan Lisa melepaskan pelukan ayahnya. "Appa akan mencari tahu apa yang terjadi, kau fokus saja pada pengobatanmu, hm?" tenang Teo, meski raut wajahnya sekarang jauh dari kata tenang.
"Kapten Kim akan baik-baik saja kan?" tanyanya kemudian dan Teo menganggukan kepalanya, berkata kalau Kim Namgil tidak akan terluka semudah itu. Teo berjanji, akan ia temukan Kim Namgil, dan akan ia cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di pengungsian itu.
"Appa akan mencarinya, tapi Lisa-ya...," Teo menjeda kalimatnya, membuat Lisa jadi semakin gugup atas apa yang akan ayahnya katakan. "Separah apa PTSD-mu?" tanyanya kemudian, setelah ia menimbang-nimbang pertanyaan itu.
"Sekarang sudah jauh lebih baik. Aku sudah hampir sembuh, tidak ada gejala," bohongnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Post It
Fanfic"Apa G Dragon single?" Kwon Jiyong berkata, mengulang pertanyaan dari Eric Nam yang memandu acara talk show hari ini. Ia mengigit bibirnya, dengan alis bertaut. Bukan karena gugup, bukan karena takut, tidak juga sedang mencari-cari alasan untuk meng...
