***
Semua orang sibuk di hari kepindahannya. Hanya ditemani seorang supir ayahnya, Lisa membawa 7 koper besar ke rumah barunya. Jiyong dan orangtuanya ada di Paris hari itu. Ayahnya pergi ke luar kota sedang Soohyuk masih kesal padanya. Ia dan kakaknya masih terjebak dalam perang dingin mereka sendiri.
Namun di hari itu juga, seorang tamu yang tidak diundang datang ke rumah barunya. Kim Ovkin, sang ibu, datang dengan barang belanjaannya, berniat membantu Lisa di hari pertamanya pindah rumah. Berniat membantu Lisa membongkar kopernya dan merapikan rumah barunya. Mengisi lemari es juga rak-rak di dapurnya.
Keduanya tidak banyak bicara, Lisa tidak bisa mengusir ibunya, dan Ovkin pun tidak mengajaknya bicara. Lisa membongkar pakaiannya dari koper, menyimpannya ke dalam lemari di kamar utama. Sedang Ovkin mengisi lemari es di dapur. Sesekali Lisa mengintip, melihat apa yang ibunya lakukan. Ovkin menyadarinya, namun tidak ia gubris putrinya.
"Lisa-ya," Ovkin memanggilnya dari dapur, membuat Lisa yang dipanggil mau tidak mau harus menghampirinya.
"Iya?" katanya, melangkah menghampiri ibunya di dapur.
Lisa diberi kelas singkat tentang makanan oleh ibunya. Ia diberi tahu makanan mana yang harus lebih dulu dihabiskan, cara menghangatkan makanannya, sampai cara menyiapkan nasinya. Sang ibu tidak percaya, anak gadisnya itu bisa mengurus sendiri makanannya. Lepas kelas singkat di dapur, mereka kembali berbenah, Lisa kembali membongkar koper sedang Ovkin pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi Lisa tidak perlu banyak bantuan ibunya, Lisa tahu mana yang harus ia simpan di sana.
"Untuk apa dia punya semua ini?" heran Ovkin, melihat banyak botol perawatan tubuh di kamar mandi—yang belum ditata, masih tertumpuk berantakan di westafelnya. Lisa sedang berusaha keras untuk memperbaiki kulitnya, ia beli segala macam body care, yang sebenarnya bukan masalah karena Teo mau membelikan segalanya.
"Kau masih dapat uang saku dari ayahmu?" Ovkin bertanya, setelah pekerjaan keduanya hampir selesai. Ovkin hanya perlu merapikan kantong-kantong plastik kosong di dapur, sedang Lisa mencari tempat untuk menyimpan koper-kopernya.
"Sesekali," kata Lisa.
"Dia tidak membatasi pengeluaranmu?" susulnya lagi. "Berhemat sedikit, akan ada banyak pengeluaran tidak terduga nanti. Uang air, uang gas, uang kebersihan, perawatan lift, kau akan perlu banyak uang," katanya tanpa menunggu Lisa menjawab pertanyaannya. "Kalau kehabisan uang, kau bisa menghubungiku," tambahnya, masih tanpa menunggu putrinya menjawab.
"Aku punya uang," Lisa berucap pelan.
"Sekarang kau tidak bekerja, uangmu akan segera habis," balas Ovkin.
"Aku akan kembali bekerja," balas Lisa namun Ovkin tidak terlihat mempercayainya. Lisa tidak akan pindah ke sana kalau ia berencana kembali bekerja. Tempat tinggalnya sekarang terlalu jauh dari tempat kerjanya.
Sang ibu tetap diam. Menyelesaikan kesibukannya, lantas bergerak menyeduh teh untuk dirinya sendiri. "Kau juga mau segelas teh?" tawarnya, pada Lisa yang masih beberapa kali melangkah di belakangnya, menyimpan beberapa barang ke gudang kecil di sebelah dapur, bersebelahan dengan kamar mandi.
Lisa menolak, akan ia minum apapun yang ada di lemari esnya. Namun perut gadis itu berbunyi, ia kelaparan dan ibunya mendengar itu. Keduanya sempat betukar tatap saat perut Lisa bergemuruh, lantas sang ibu melangkah ke lemari es, akan menyiapkan makanan untuknya.
"Apa eomma tidak ingin memesan jajangmyeon saja? Orang-orang makan itu saat pindah rumah," tahan Lisa, yang di menit selanjutnya mulai sibuk memesan jajangmyeon untuk mereka berdua. Lisa berkata, ia tidak bisa memesan jajangmyeon sebelumnya. Restoran cina yang menurutnya enak, hanya mau melayani pesan antar jika pesanannya lebih dari satu porsi.
Lisa kemudian duduk di sofa, menunggu pesanannya datang. Sedang ibunya duduk di meja makan, menikmati teh hangat yang baru ia buat. Sesekali Lisa menenggak kopi kaleng yang beberapa hari lalu ia beli, lantas menatap lagi pada pantulan bayangannya di TV.
"Eomma minta maaf," kata Ovkin tiba-tiba. "Maaf, karena aku menceraikan ayahmu, dan karena kita tidak punya foto keluarga berempat. Eomma juga minta maaf, karena meminta Dami menggantikanku untuk datang ke acara kelulusanmu. Eomma bisa memahaminya, kalau kau kecewa, maafkan eomma, Lisa-ya," susulnya, dengan begitu lembut tanpa meninggikan suaranya.
"Eomma sudah meminta maaf pada Soohyuk oppa?" tanya Lisa, dengan kepala yang ia tundukkan, menatap pada kaleng kopi di pegangannya. "Soohyuk oppa kesulitan, karena kita," susulnya, kali ini sembari menoleh menatap ibunya. "Eomma menceritakan semua masalahmu padanya, dan aku merengek padanya karena tidak tahu apa-apa, Soohyuk oppa seperti tempat sampah, iya kan? Dulu aku cemburu, karena eomma hanya bicara pada Soohyuk oppa. Eomma hanya menunjukkan kesedihanmu padanya. Tapi sekarang, aku kasihan padanya," kata Lisa.
"Bukankah kau bertengkar dengannya?"
"Hm..." Lisa mengangguk. "Tapi meski kesal, dia tetap oppaku, begitu yang eomma dan appa ajarkan. Selama ini, eomma menceritakan segalanya pada Soohyuk oppa, eomma mengeluh padanya, menangis di depannya, bergantung padanya, karena sudah melihat semua itu, Soohyuk oppa jadi harus melindungimu. Tapi, bukankah Soohyuk oppa itu anakmu? Kenapa dia yang harus melindungimu? Eomma yang harus melindunginya. Bukan maksudku orangtua tidak boleh berlindung pada anaknya, bukan maksudku eomma tidak boleh bergantung padanya, hanya... Lakukan seperlunya saja. Kalau eomma butuh seseorang untukmu bergantung, untukmu menceritakan semua detail kecil perasaanmu, untuk mendengarkanmu menjelek-jelekkan appa, berteman atau berkencan saja, aku dan Soohyuk oppa tidak akan keberatan kalau eomma menikah lagi. Atau sekedar berkencan dan tinggal bersama kekasihmu, aku bisa mendukungmu. Hiduplah untuk dirimu sendiri, tidak perlu lagi berkorban untuk kami lalu melampiaskan semua emosimu pada kami," tanpa berteriak, Lisa mengeluarkan semua yang memenuhi kepalanya, semua yang membuatnya sesak.
Sang ibu tidak membalas ucapannya. Wanita itu hanya diam, menunggu putrinya selesai bicara. Ini kali pertama mereka bicara tanpa meneriaki satu sama lain. Ini kali pertama Lisa membagi isi kepalanya tanpa sindiran sinis atau teriakan penuh emosi khasnya.
"Aku melukai perasaanmu lagi? Maaf," kata Lisa, sebab ibunya tidak mengatakan apapun selain menatapnya.
Pelan-pelan Ovkin menggelengkan kepalanya, lantas menyesap lagi tehnya untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. "Keluarga kita, rumit sekali," pelan Ovkin, lantas menghela nafasnya. "Maaf, aku tidak bisa membesarkanmu di keluarga normal seperti yang lainnya," susul wanita itu.
"Aku juga minta maaf, karena sering membuatmu khawatir, sering juga membuatmu marah," balas Lisa. "Aku sengaja melakukan semuanya, pergi ke militer setelah lulus sampai masuk regu khusus, aku sengaja melakukannya untuk membuatmu kesal, karena marah. Maaf, eomma. Tapi aku tidak menyesalinya, karena itu aku juga minta maaf. Ternyata menyenangkan bekerja dan hidup dengan appa. Sebenarnya aku bisa memahaminya, kenapa eomma memutuskan menikah dengannya dan merasa tertipu olehnya. Dia memperlakukan wanita dengan sangat baik, sayangnya dia terlalu mencintai pekerjaannya, mengecewakan, iya kan?"
"Kau sangat menyukai ayahmu?" Ovkin bertanya, dan Lisa menganggukan kepalanya.
"Aku juga menyukaimu, eomma. Hanya saja, karena kita terlalu mirip, kita jadi sering bertengkar. Begitu kata appa. Katanya, aku keras kepala dan sinis sepertimu. Tapi menurutku, aku sedikit lebih baik darimu."
"Dari kita berempat, kau yang paling kejam, Lisa-ya," balas Ovkin, bersamaan dengan pesanan mereka yang datang, maka ia suruh putrinya untuk mengambil pesanan itu di depan pintu.
"Uang," pinta gadis itu sebelum membuka pintunya.
"Kau belum membayarnya?"
"Untuk apa aku membayarnya? Ibuku ada di sini," balas Lisa, sembari mengambil beberapa lembar uang yang akhirnya Ovkin berikan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Post It
Fanfic"Apa G Dragon single?" Kwon Jiyong berkata, mengulang pertanyaan dari Eric Nam yang memandu acara talk show hari ini. Ia mengigit bibirnya, dengan alis bertaut. Bukan karena gugup, bukan karena takut, tidak juga sedang mencari-cari alasan untuk meng...
