Bagian III : 52

970 155 16
                                        

***

Mereka berbaring di sofa, masih dengan pakaian lengkap masing-masing. Jiyong memeluk kekasihnya, sembari memperhatikan raut wajah mereka di pantulan layar TV yang gelap. Lewat bayangan yang terpantul di layar itu keduanya saling menatap. Sambil sesekali Jiyong mencium puncak kepala kekasihnya.

"Aku sudah berjanji pada ayahmu, tidak akan melepas pakaianmu sampai kita menikah, semisal kau mau menikah denganku," kata Jiyong.

"Kenapa? Kalau aku yang membuka sendiri pakaianku, bagaimana?" tanya Lisa, dengan nada bicaranya yang santai seperti biasanya. Tanpa beban, tanpa keraguan.

"Tentu saja tidak boleh, kenapa kau membuka sendiri pakaianmu?" balas Jiyong, yang anehnya sama sekali tidak terkejut dengan jawaban Lisa tadi. Seolah dirinya sudah tahu kalau Lisa akan mengatakannya. Mungkin, tanpa Jiyong sadari, ia sudah terbiasa dengan mulut acak kekasihnya.

"Tapi kenapa? Kenapa oppa membuat janji seperti itu dengan ayahku? Oppa bilang kalian tidak membicarakanku," tanya Lisa, penasaran. "Appa mengancammu? Dengan senjata di ikat pinggangnya? Pisau? Atau dia bilang akan memukulimu sampai mati?" tebak Lisa, dan kali ini Jiyong terkekeh mendengarnya.

Tidak, Teo tidak pernah mengancamnya. Teo hanya bilang—putriku sedang sakit sekarang. Dia akan sangat tidak stabil karena traumanya. Menikah apalagi seks tidak akan membantunya. Tolong tunggu sampai dia sembuh sebelum melakukannya—dan Jiyong bersedia melakukannya. Tapi, alih-alih mengatakan yang sebenarnya, Jiyong justru menolak menjawabnya. Berkata kalau itu rahasia diantara dirinya dan ayah kekasihnya.

"Tsk... Curang. Padahal Soohyuk oppa boleh melakukannya," gerutu Lisa.

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku pernah meneleponnya saat dia melakukannya, dan dia marah padaku," jawab Lisa. "Eomma juga pernah hampir melihatnya. Eomma bilang dia akan kerja lembur dan tidak pulang, lalu Soohyuk oppa mengajak Naeun eonni ke rumah, lewat tengah malam eomma pulang karena lelah, tapi Soohyuk oppa tidak menutup rapat pintu kamarnya-"

"Whoa! Luar biasa! Lalu?" sela Jiyong, benar-benar terkejut karena ia tidak pernah mendengar cerita ini sebelumnya.

"Lalu eomma tidak jadi pulang dan pergi ke hotel," lanjut Lisa. "Setelah itu eomma tidak pernah membahasnya, dia berpura-pura tidak tahu, lalu beberapa hari lalu, saat oppa masih di Paris, eomma menceritakannya padaku," katanya.

"Apa yang ibumu lihat?"

"Tidak tahu, dia tidak memberitahuku detailnya. Hanya Soohyuk oppa dan Naeun eonni ada di kamarnya, pintunya tidak ditutup rapat dan mereka tidak sadar kalau eomma pulang."

"Oppamu benar-benar luar biasa. Bagaimana bisa dia mengajak kekasihnya pulang? Padahal dia tinggal dengan ibunya?"  heran Jiyong, masih tidak percaya sahabatnya melakukan kesalahan sebodoh itu.

"Oppa tidak pernah mengajak kekasihmu ke rumah?" tanya Lisa kemudian, tentu penasaran.

"Aku masih tinggal dengan orangtuaku dan Dami noona ada di rumah sebelah, bagaimana bisa aku membawa kekasihku pulang? Tentu saja tidak pernah," jawab Jiyong. "Hanya kau yang pernah menginap di rumahku, dan itu pun bukan karena aku yang mengajakmu, ayahku yang memintamu menginap," susulnya.

"Tapi kita tinggal bersama di Galleria, sampai orangtuamu marah," kata Lisa.

"Ah... Benar juga, jadi maksudmu aku sama bodohnya dengan oppamu? Itu yang ingin kau katakan?"

"Tidak... Aku tidak bilang begitu," geleng Lisa. "Tapi biasanya orang berteman karena punya kesamaan... Iya kan?" susulnya, jelas bermaksud mengejek kekasihnya.

Post ItTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang