***
Lisa mengirim beberapa foto pada Jiyong sembari berbaring di ranjangnya. Ia sudah mencoba semua pakaian yang pegawai Rare Market bawakan untuknya. Ia sudah memilih pakaian yang akan dipakainya besok, dan setelah lelah memilih, gadis itu melaporkan hasilnya pada Jiyong.
Kira-kira lima belas menit setelah semua foto itu terkirim, Jiyong meneleponnya. "Cantik," kata Jiyong, memuji semua fotonya. Lisa terkekeh mendengarnya, lantas Jiyong bertanya, "jadi baju mana yang akan kau pakai besok?" katanya penasaran.
"Oppa tidak sibuk? Acaranya sudah selesai?" tanya Lisa, sembari melihat jamnya. Harusnya ia sudah tidur sekarang, dan harusnya Jiyong sedang makan malam sekarang.
"Aku dalam perjalan kembali ke hotel," jawabnya. "Aku akan makan di sana nanti, dengan Dami noona dan orangtuaku," lapornya dan Lisa mengiyakannya. Mengatakan kalau ia juga sudah makan, sudah meminum obatnya dan sudah siap untuk tidur. Lisa akan bangun pagi untuk menata rambutnya besok, juga pergi ke salon untuk merias wajahnya. Gadis itu terlihat sangat antusias, untuk menonton film besok. "Jadi, baju mana yang kau pilih? Dress denim itu bagus, masih seksi tapi tidak terlalu terbuka, lengannya panjang," komentar Jiyong, setelah mendengar jadwal kekasihnya besok.
"Hm... Aku setuju itu bagus," jawab Lisa. "Tapi aku akan memakai skinny jeans, kaus, outer dan sepatu boots," katanya kemudian.
Jiyong melihat lagi foto yang Lisa bicarakan, lalu mengerutkan dahinya. Lisa bilang ia ingin pakaian yang sedikit seksi, tidak terlalu tertutup seperti selera ibunya. Tapi pakaian yang Lisa pilih mirip seperti selera ibunya—hanya leher dan wajah Lisa yang akan terlihat.
"Kenapa tidak pakai dress?" tanya Jiyong. "Tidak ada dress yang kau suka? Aku bisa minta mereka mengirim pakaian lain kalau tidak ada yang kau suka," susulnya.
"Tidak," Lisa menggeleng. "Aku suka semuanya, aku membeli semuanya. Sulit sekali memilihnya, semuanya bagus. Uang yang harusnya aku pakai untuk membayar hutangku padamu, aku pakai membeli baju tadi. Appa pasti marah, tapi bagaimana lagi? Aku menginginkan semuanya. Rasanya aku aku akan menyesal kalau tidak membelinya. Lebih baik menyesal karena membelinya daripada menyesal karena tidak membelinya, iya kan?" ocehnya, mengingat semua uang yang keluar dari tabungannya hari ini.
"Wah... Kau membeli semuanya?" ulang Jiyong dan Lisa mengiyakannya, sembari terkekeh malu atas keputusannya sendiri. "Kau benar-benar suka belanja-"
"Hei! Jangan bicarakan dirimu sendiri, oppa juga suka belanja," potong Lisa, yang kemudian terkekeh. Hanya kekehan singkat, sebab selanjutnya gadis itu mengubah nada bicaranya jadi murung. "Tapi untuk besok... Aku harus memakai semua yang bisa menutupi tubuhku, sayang sekali," katanya pasrah.
"Kenapa, sayang? Ibumu melarangmu memakai yang lainnya?"
"Tidak, mana bisa dia melarangku," balas Lisa. "Jangan memanggilku sayang sekarang, aku sedang ingin bersedih, tapi oppa terus membuatku ingin tersenyum," larangnya. "Aku ingin memakai dress-dress tadi, tapi luka di tangan dan kakiku jelek sekali... Bekas lukaku belum hilang, padahal aku sudah rajin mengobatinya. Sepertinya aku perlu dua sampai tiga bulan lagi untuk menghilangkannya. Haruskah aku operasi plastik saja? Mereka bisa menghilangkan bekas luka? Biayanya mahal?" ocehnya, lantas membuat lawan bicaranya terkekeh. Ini bukan masalah besar, meski Lisa berlaga membesar-besarkannya. Kalau masalahnya benar-benar serius, gadis itu tidak akan peduli Jiyong memanggilnya sayang.
"Kau bekerja di pengungsian, sudah bagus tidak ada luka tembak. Sedikit luka gores bukan masalah, kau tetap cantik, sayang," Jiyong menenangkannya, namun lawan bicaranya justru berdecak sebal.
"Kalau ini luka tembak, aku pasti sudah memamerkannya," kata Lisa. "Luka tersambar petir juga keren, seperti tato. Tapi lukaku? Hanya luka-luka kecil, sama sekali tidak keren, hilangnya juga lama," keluhnya dan Jiyong bertanya, bagaimana Lisa bisa terluka di tempat kerjanya.
"Apa kau terluka karena berkelahi dengan tentara lain? Atau teroris?" tebak Jiyong dan Lisa membantahnya.
"Kami semua punya senjata di sana, untuk apa berkelahi?" balas Lisa. "Aku terluka saat ada bom, terlempar karena efek ledakannya, atau kejatuhan reruntuhan. Menghindar dari serangan lalu jatuh, terperosok ke lubang saat bersembunyi, menabrak atau tertabrak mobil lain, sesuatu yang begitu," cerita Lisa.
"Menakutkan," komentar Jiyong dan Lisa menganggukan kepalanya.
"Tapi apa oppa tahu, apa yang lebih menakutkan dari semua itu?"
"Apa?"
"Melihat orang-orang di sekitarmu meninggal karena semua itu, tapi kau tetap hidup. Setengah tubuh temanmu hancur karena bom, tapi kau hanya terguling dan tergores batu di pipi. Temanmu ditembak di depanmu, tapi kau hanya dipukul dengan ujung senapannya- augh! Aku bahkan tidak bisa mengatakannya pada dokterku, apa yang sedang aku ceritakan padamu? Maaf, padahal oppa sedang bersenang-senang di sana," kata Lisa, buru-buru mengendalikan dirinya, berusaha untuk tidak membuat kekasihnya khawatir. Meski sekarang tangannya basah karena keringat, hanya karena menceritakan apa yang pernah terjadi padanya.
"Tidak apa-apa," dengan tenang Jiyong menanggapi cerita Lisa. "Kau bisa mengatakan apapun padaku. Kau bahkan tidak minta maaf setelah membuatku kesal, kenapa minta maaf sekarang? Hanya karena menceritakan lukamu? Kau bisa mengatakan semua itu padaku, bukankah itu artinya kau mulai sembuh sekarang?"
"Apa tidak apa-apa kalau aku sembuh? Teman-temanku meninggal," tanya Lisa.
"Aku rasa mereka tidak akan berterima kasih karena kau sakit. Kau harus hidup lebih baik, agar kematian mereka tidak sia-sia, bukan begitu?" balas Jiyong. "Lisa-ya, sayangku, tidak apa-apa, kau boleh sembuh, kau harus sembuh. Aku benar-benar ingin melihatmu sembuh," katanya kemudian.
"Hm... Baiklah," angguk Lisa. "Akan aku lakukan apapun untukmu, oppa, janji," katanya kemudian, meski dadanya masih merasa sesak. Setidaknya, ia tidak boleh melukai seseorang hanya karena dirinya terluka.
Mendengar janji dari kekasihnya itu, Jiyong lantas bertanya—apa Lisa bisa membatalkan rencananya menonton film besok dan pergi ke bandara menjemputnya. Namun alih-alih menyanggupi permintaan itu, tanpa perlu banyak berfikir, Lisa langsung menolaknya. "Tidak," katanya, tanpa berbasa-basi, langsung ia tolak permintaan Jiyong. "Oppa pasti dijemput managermu, lagi pula aku belum bisa menyetir sekarang, tidak punya mobil juga. Oppa mau dijemput naik taksi? Tidak kan? Pulang saja dengan managermu, tidak ada gunanya aku menjemputmu," tolak gadis itu.
"Managerku bisa mampir menjemputmu lalu kau ikut ke bandara bersamanya, menjemputku," kata Jiyong. "Kau tidak mau datang menemuiku? Kau lebih memilih Margot Robbie daripada kekasihmu?" desak pria itu.
Lisa terdiam dan Jiyong menunggu gadis itu berfikir. Di Paris, pria itu tersenyum, menunggu gadisnya menimbang-nimbang antara dirinya dan Margot Robbie. Menimbang-nimbang antara pergi ke premiere film atau menjemputnya di bandara. "Kira-kira jam berapa oppa sampai bandara?" Lisa bertanya, ditengah-tengah pertimbangannya.
"Bersamaan dengan premiere-nya," kata Jiyong.
Gadis itu bergumam, kembali menimbang-nimbang mana yang lebih penting. Menimbang-nimbang mana yang lebih ia inginkan. Menimbang-nimbang mana yang harus ia pilih—menjemput kekasihnya atau premiere film.
Setelah lama menimbang, akhirnya gadis itu bersuara. "Tetap tidak," kata Lisa pada akhirnya. "Aku masih bisa menjemput dan mengantarmu ke bandara lain kali, tapi bertemu Margot Robbie, aku belum tentu punya kesempatan lagi. Maaf oppa, aku memilih ke premiere filmnya saja," susulnya kemudian, sementara lawan bicaranya sedang mengeluh, mengaduh kesakitan seolah hatinya baru saja patah karena Lisa tidak memilihnya.
"Jadi... aku kalah dari Barbie?" Jiyong mengeluh, dengan nada merengek yang ia buat-buat.
"Maaf, oppa..." balas Lisa, sungguh-sungguh merasa bersalah. "Anggap saja ini karma karena dulu oppa dan Soohyuk oppa selalu mencabut kepala Barbieku dan memotong rambutnya," susul gadis itu, membuat Jiyong ragu gadisnya itu sungguhan menyesal atau tidak.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Post It
Fanfiction"Apa G Dragon single?" Kwon Jiyong berkata, mengulang pertanyaan dari Eric Nam yang memandu acara talk show hari ini. Ia mengigit bibirnya, dengan alis bertaut. Bukan karena gugup, bukan karena takut, tidak juga sedang mencari-cari alasan untuk meng...
