Hari ini Jihoon mengemasi semua barangnya ke dalam koper. Waktunya pulang. Nafasnya dihela lesu. Rasanya ingin sekali ia tetap di sini seterusnya karena indahnya pemandangan yang tak ingin ia lewatkan. Namun tidak bisa juga karena tiket penerbangan sudah dipesan dan dia berada di sini juga karena Junkyu.
Jihoon melirik Junkyu yang juga sedang mengemasi barang-barangnya. Ia hanya memperhatikan karena sepertinya suaminya itu tidak lagi kerepotan dalam mengemas kopernya. Jadi Jihoon hanya membiarkan Junkyu tanpa niat ingin membantu.
Ia lantas meraih ponsel di atas ranjang. Saat dinyalakan, ia terkejut saat justru melihat foto dirinyalah yang jadi wallpaper layar kunci, yang juga membuktikan bahwa ini bukanlah ponselnya melainkan milik Junkyu. Jihoon terkikik kecil melihatnya, karena sebelumnya bukan wajahnya yang jadi wallpaper tapi sekarang sudah berganti.
"Pak." Jihoon lantas hampiri Junkyu yang masih berusaha masukkan semua bawaannya ke dalam koper. Junkyu menoleh, dan lantas berdiri menatap Jihoon.
"Pak, kamu beneran suka ya sama aku," tanya Jihoon disertai senyum meledek. Dan Junkyu hanya bisa kerutkan alis mendengar pernyataan konyol tersebut.
"Menurutmu?" tanyanya balik.
"Ya gak tahu," jawab Jihoon seraya mengendik bahu. "Siapa tahu kamu tuh cuman kayak, 'oh iya mending saya nikahin dia aja, mumpung kenal siapa ibunya, anaknya juga lumayan ganteng, lucu, gemesin, cakeplah,' gitu," Jihoon berucap memperagakan bagaimana ia pikir Junkyu pikirkan saat berencana menikahinya.
Junkyu tertawa mendengar penuturan Jihoon yang tentu saja sepenuhnya adalah sebuah rekaan dalam kepala Jihoon belaka. "Saya gak pernah berpikir begitu," ucapnya masih disertai tawa.
Di saat seperti ini, saat ia melihat bagaimana Junkyu tertawa dan tersenyum padanya, ia jadi berpikir bahwa Junkyu bukanlah manusia kaku yang lebih tua darinya. Jika tidak tahu, ia mungkin akan berpikir bahwa Junkyu adalah manusia paling menawan melihat dari bagaimana paras pria itu dan ia tak akan ragu untuk jatuhkan hati. Namun sayangnya suaminya ini sama sekali tidak masuk ke dalam kriteria pria yang akan ia sukai kecuali wajahnya yang memang tampan.
"Oh ya? Terus ini apa," katanya seraya todongkan ponsel Junkyu yang tampilkan wallpaper yang digunakannya. Tawanya lenyap. Junkyu hendak mengambil ponselnya namun Jihoon dengan cepat sembunyikan ponsel Junkyu di belakang tubuhnya.
"Sesuka itu ya sama aku? Pak, udah cinta ya sama aku? Suka banget?" Jihoon bertanya dengan nada meledek. Seringainya muncul saat melihat wajah Junkyu yang perlahan bersemu.
"Berikan handphone-"
Jihoon melangkah mundur, menjauh dari Junkyu yang berusaha merebut ponselnya.
"Jihoon!"
"Gak akan aku kasih, ngaku dulu dong Pak."
Ruangan yang tak begitu luas dan dipenuhi prabotan itu jadi arena mereka untuk saling mengejar. Jihoon tertawa riang saat Junkyu berulang kali gagal meraihnya. Sambil menghindari Junkyu, Jihoon tetus meledek suaminya itu. Ia naik ke atas ranjang dan turun di seberangnya.
"Berikan." Junkyu mengulurkan tangan dan Jihoon hanya melengos.
Ponsel Junkyu berdering ada panggilan masuk, buat Jihoon menoleh dan tak lagi fokus pada Junkyu yang langsung menarik lengannya sampai membuat Jihoon jatuh ke ranjang; beruntung saja kasurnya cukup empuk untuk samarkan rasa sakitnya.
Namun Jihoon dengan cepat kembali bangun menerjang Junkyu. Telepon masuk itu terabaikan. Jihoon tak berhasil merebut ponsel Junkyu, namun ia berhasil pojokkan Junkyu di antara kepala ranjang dan dirinya yang berdiri di lututnya yang mengukung tubuh Junkyu. Bibirnya berdecak sebal namun senyumnya penuh kemenangan saat terukir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Love [ kyuhoon ]
FanfictionB O Y S L O V E [ COMPLETED ] Tujuan awalnya adalah untuk memanfaatkan uang yang dimiliki suaminya untuk pengobatan ibunya dan juga untuk memperbaiki keuangannya yang kian memburuk setelah kepergian ayahnya. Namun kini perasaannya justru terbuai aka...
![Sweet Love [ kyuhoon ]](https://img.wattpad.com/cover/315634225-64-k31676.jpg)