(36) mau kerja

2.8K 267 43
                                        

Menjelang siang, ketika mentari mulai sengatkan panasnya ke dalam epidermis, ketika awan-awan putih perlahan berkumpul seolah tak ingin sosok manis di bumi sana rasakan panas sang surya. Di halaman belakang rumahnya yang kosong, hanya sepasang kursi dan satu meja di teras belakang dan satu lapangan hijau yang kosong sebagai pemandangan sebelum akhirnya ditutup oleh pagar tembok setinggi dia meter.

Jihoon menatap dari sisi kanan sampai ke ujung kiri. Tanpa alat pengukir ia memperkirakan luas tanah dan memisahkan sedikit yang berdekatan dengan tembok. Beberapa butir batu ia gunakan sebagai pembatas awal di atas tanah.

Selesai dengan urusannya di belakang rumah, Jihoon lantas beranjak meninggalkan halaman belakang dan berjalan lewat samping rumah menuju halaman depan. Saat ia hendak mengambil beberapa pot bunga, netranya justru teralihkan dan terfokus ke pagar depan di mana ada Sana yang berdiri di depan pagar yang sedikit terbuka.

Kepala pelayan itu tak biasanya menghabiskan waktu bermain-main di pagar, maka Jihoon menghampirinya untuk bertanya ada apa. Namun sebelum sampai, ia sudah lebih dulu melihat sosok ibu mertuanya yang tengah mengobrol dengan Sana.

"Mama," panggilnya pelan, berusaha kembali sopan untuk menyapa sang mertua.

Namun begitu melihat Jihoon yang mempercepat langkahnya menghampiri pagar, Jisoo lantas langsung masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkannya tanpa tinggalkan sapa. Jihoon otomatis terdiam kaku di dekat Sana yang kemudian dengan sopan berpamitan untuk pergi lebih dulu sambil membawa sesuatu di tangannya. Jihoon tak punya waktu untuk bertanya karena saking terkejutnya ia dengan sikap Jisoo barusan.

Jihoon segera memutar tubuh. Tinggalkan pagar depan dan lupakan tujuan awalnya yang sibuk dengan halaman belakang. Junkyu yang tengah duduk sendirian di ruang tengah segera ia hampiri.

"Pak...," panggilnya yang disertai wajah murung.

Junkyu menoleh. Satu tangannya langsung terulur untuk rangkul Jihoon yang kemudian duduk di sampingnya. "Kenapa," tanyanya tinggalkan sebentar laptopnya yang tampilkan lembar kerjanya.

"Pak..., Mama mertua benci aku ya...," ucapnya tiba-tiba dengan suara sedikit serak menahan nangis yang mana hal itu justru kejutkan Junkyu.

"Hei, hei, kok nangis," Junkyu terburu letakkan laptopnya ke atas meja dan hapus setetes aor mata yang jatuh menetes. "Kenapa, kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu," tanyanya lagi.

Dengan masih sesengukan Jihoon berusaha berucap. "Tadi..., tadi aku liat Mama di depan, tapi pas mau aku samperin, Mama malah pergi, apa harusnya aku gak balik ke sini lagi ya...," tangisnya kembali pecah tak terkendali dan Junkyu cepat-cepat memeluknya.

"Hei, enggak dong, ini bukan salah kamu, jangan nangis lagi ya, mungkin Mama buru-buru," ucap Junkyu berusaha tenangkan Jihoon.

Junkyu terpaku sesaat. Ia tahu ibunya pasti sengaja menghindari Jihoon setelah apa yang terjadi kemarin. Bukan lagi dengan Jihoon, melainkan karena Junkyu lah mengapa Jisoo berusaha menghindar.

"Permisi Tuan, ini ada titipan makanan dari Nyonya untuk Tuan Jihoon, apakah mau dimakan sekarang atau nanti saja," Sana menghampiri dan bertanya dari jarak agak jauh. Bibirnya meringis saat melihat Jihoon yang menangis dalam pelukan Junkyu.

"Buat aku?" Jihoon melepas pelukannya. Telunjuknya menunjuk pada dirinya sendiri ketika berusaha perjelas apa yang didengarnya barusan dari Sana.

"Iya, untuk anda saja," jawab Sana yang kemudian justru buat Jihoon lebarkan senyum dan lupakan tangisannya.

"Aku mau, mau makan sekarang aja," serunya bersemangat. Tangannya mengusap jejak air mata di seluruh wajah dan kemudian beranjak meninggalkan Junkyu yang masih terpaku karena terkejut.

Sweet Love [ kyuhoon ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang