Esok paginya Jihoon bangun dari tidur panjangnya dengan mata berat, hanya untuk lagi-lagi dapati sisi lain ranjangnya kosong. Junkyu tidak ada. Saat ia tanyakan pada Sana, si kepala pelayan di rumah ini ia mengatakan bahwa Junkyu telah pergi ke kantor. Jihoon menahan geram. Ini hari keduanya dan Junkyu selalu pergi bahkan sebelum ia bangun dari tidur. Apakah ia bangun selambat itu? Tidak, ini bahkan baru pukul tujuh pagi.
Maka setelah mandi dan sedikit merapikan penampilannya Jihoon pergi seorang diri ke rumah ibunya. Membawa setiap emosi yang memenuhi kepalanya saat ini. Jennie yang melihat kedatangan Jihoon tentu saja merasa senang. Sedikit banyaknya ia merindukan putra manjanya ini walaupun mereka bahkan baru berapa hari tak lagi tinggal di bawah satu atap yang sama.
"Ada apa ini, pengantin baru kok jalan-jalan sendiri aja," goda Jennie tersenyum meledek pada Jihoon.
"Apa sih Ma..., aku kan ke sini karena kangen Mama, hehe."
"Halah, sini peluk dulu," kedua lengannya segera terbuka menyambut rengkuhan hangat sang buah hati. Jihoon merengkuh ibunya begitu erat seolah tahun-tahun telah berlalu tanpa mereka pernah bertemu. Saat pelukan dilepas, nampaklah wajah cemberut Jihoon yang undang tawa Jennie untuk mengudara.
"Kamu udah makan?"
Jihoon mengangguk. "Udah. Mama gimana, sehat kan?" Jihoon masuk ke dalam mengikuti langkah ibunya. Rasanya ia seperti berada di tempat baru sebagai tamu. Banyak barang miliknya yang masih tersisa di flat ini karena tentu saja tidak mungkin bagi Jihoon untuk membawa semuanya.
"Sehat dong, justru sehat banget, ditambah pagi ini liat kamu mampir, Mama jadi makin sehat." Senyum manis yang menyertai kalimat tersebut mengundang Jihoon untuk ikut ulas garis halus senyum di sekitar pipinya.
"Gimana Junkyu, dia baik kan sama kamu?"
Keduanya duduk di satu-satunya sofa di flat tersebut. Saling bersampingan. Menatap dan menanti sebuah jawaban. Untuk sejenak Jihoon terdiam memikirkan jawaban yang bisa puaskan relung hati sang ibu. "Dia baik," dan dua kata itu terucap disertai anggukan kepala menyakinkan.
"Dia juga ngajak bulan madu," tambahnya lagi. Jennie terlihat melebarkan mata serta satu tangannya menutup mulut yang ternganga.
"Wah, Mama seneng banget dengernya. Kalian udah sedekat itu rupanya."
Jihoon hanya mengangguk samar, sedikit canggung. Tak mungkin baginya untuk ceritakan bagaimana sebalnya ia sekarang karena Junkyu yang tak perlihatkan tanda tertarik padanya, padahal pria itu juga yang lebih dulu melamarnya dengan kesadaran diri.
"Mah...," ujarnya lirih sambil menunduk. "Aku ngerasa masih canggung banget sama suami aku sendiri, kalo kami pergi bulan madu, apa gak makin jadi garing nantinya?" tanyanya. Wajahnya perlahan diangkat, perlihatkan wajah sedihnya yang putus asa dengan kehampaan pernikahannya yang baru berjalan dua hari ini.
Jennie mengulas senyum. Lalu genggam tangan putranya sambil menatapnya lembut di kedua mata. "Justru kalau kalian pergi bulan madu, kalian bisa ngabisin waktu berdua lebih lama, itu bakal bikin kalian lebih cepet bonding, karena kalian cuman punya satu sama lain buat diandelin."
Kembali Jihoon terdiam memikirkan penuturan ibunya barusan. Mungkin bisa berhasil jika dicoba. Lagipula Junkyu sudah menyerahkan segalanya padanya untuk membuat keputusan pada rencana bulan madu ini.
"Mama punya rekomendasi tempat yang bagus gak?"
"Banyak!"
[ Sweet Love ]
Sore itu Jihoon pulang ke rumah dengan hati riang sambil tangannya menggenggam beberapa lembar brosur paket liburan yang ia dapat dari ibunya. Setelah diskusi panjangnya yang memakan banyak waktu tanpa ia sadari. Sampai di rumah ia hanya dapati rumah Junkyu yang penuh oleh pelayan rumah; seperti biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Love [ kyuhoon ]
FanfictionB O Y S L O V E [ COMPLETED ] Tujuan awalnya adalah untuk memanfaatkan uang yang dimiliki suaminya untuk pengobatan ibunya dan juga untuk memperbaiki keuangannya yang kian memburuk setelah kepergian ayahnya. Namun kini perasaannya justru terbuai aka...
![Sweet Love [ kyuhoon ]](https://img.wattpad.com/cover/315634225-64-k31676.jpg)