(18) hari kencan yang kacau

2.7K 252 50
                                        

Ruangan dengan banyak barisan kursi yang diisi oleh orang-orang itu sunyi. Layar besar di depan sana jadi satu-satunya titik fokus setiap orang. Satu cup minuman di tangannya sesekali ditenggak isinya yang dingin. Jihoon menikmati film yang ditayangkan dengan tenang, tak bicara, tak menoleh ke arah lain, pun pedulikan sekelilingnya.

Tangannya ia turunkan dan letakkan di lengan kursi. Sesaat kemudian dirasakannya tangannya yang diraih dan digenggam. Jihoon menoleh, menatap Junkyu yang tak alihkan perhatian dari film di depannya sana. Namun perhatian Jihoon sudah teralihkan. Ia menggeser duduknya dan mencondongkan tubuh ke arah Junkyu.

"Dingin ya Pak," tanyanya, sadari telapak tangan Junkyu yang sedingin es. Junkyu tak menjawab, pun tidak menggeleng atau mengangguk. Namun senyumnya terukir tipis. Jihoon lantas menangkup tangan Junkyu menggunakan kedua tangannya, lalu menggosoknya pelan untuk berikan kehangatan.

"Pak, kenapa milih duduk di belakang?" Jihoon kembali bertanya sambil berbisik. Junkyu menoleh, lalu mencondongkan tubuh ke arah Jihoon dan Jihoon dengan otomatis dekatkan telinganya pada bibir Junkyu.

"Bukannya lebih enak menonton dari sini," katanya.

Jihoon hanya ber-'oh' panjang sambil mengangguk. "Iya sih," ucapnya kemudian.

"Kenapa memangnya, kamu gak suka duduk di belakang?"

Jihoon menggeleng dengan cepat. Tentu saja ia suka menonton dari sudut ini. Ia lalu mendekat ke telinga Junkyu untuk berbisik, "aku kira kamu mau ngajakin ciuman pas nonton," ujarnya buat Junkyu ucap astagfirullah andai bisa.

"Itu gak etis," katanya, yang hanya dibalas gendikan bahu dari Jihoon.

Tangannya masih setia saling genggam, bahkan setelah film usai dan keduanya beranjak keluar, jemarinya tetap enggan lepaskan tautan. Junkyu melirik Jihoon yang tampak begitu gembira. Bibirnya bersenandung dan langkah kakinya berirama. Menyenangkan melihat bagaimana istrinya ekspresikan kebahagiaannya.

Ia jadi teringat pada ibunya dan semua perkataan serta sikapnya pada Jihoon yang sepertinya sudah melukai hatinya. Itu akan jadi PR yang sulit untuknya, karena bagaimana ia bisa satukan seorang yang jelas tak menyukai satu lainnya.

"Eh, Pak," Jihoon menghentikan langkah. Kejutkan Junkyu yang sibuk melamun sambil berjalan. "Itu bukannya Doyoung? Iya gak sih," Jihoon menunjuk ke bagian ujung samping, dekat dengan eskalator.

Junkyu menyipitkan mata berusaha mengenali. Memang benar Doyoung. Namun bukan adiknya itu yang jadi titik fokus Junkyu, melainkan seorang pria lainnya yang berjalan beriringan dengan adiknya.

"Wah, sama pacarnya tuh pasti. Mesra banget rangkul-rangkulan, iya kan Pak, kita aja yang udah nikah cuman gandengan tangan." Jihoon menoleh pada Junkyu saat suaminya itu tak juga berikan respon yang ia inginkan. Dilihatnya wajah serius Junkyu yang sesaat itu membuatnya khawatir ia telah salah bicara.

"Eeee, Pak-"

Jihoon batal melanjutkan ucapannya saat Junkyu tiba-tiba melepas tautan tangan mereka demi meraih ponsel di saku, lalu lakukan sebuah panggilan telepon. Jihoon kembali menoleh ke tempat Doyoung. Sepasang remaja itu berheti, dan Doyoung terlihat mengeluarkan ponselnya.

"Kamu di mana."

Jihoon menoleh pada Junkyu saat mendengar suaminya itu ajukan tanya. Rupanya Doyoung lah orang yang Junkyu hubungi. Ia tak bisa mendengar jawaban yang Doyoung berikan. Namun melihat dari bagaimana ekspresi wajah Junkyu yang seperti bertambah kesal, sudah pasti Doyoung mengatakan sesuatu yang salah; mungkin sebuah kebohongan.

"Sekarang, di mana kamu sekarang, sama siapa. Kamu tahu akibatnya kalau berbohong."

Junkyu beranjak. Jihoon buru-buru mengikuti Junkyu. Selain karena penasaran ada apa, ia juga tak mau ditinggal sendirian padahal mereka sedang lakukan kencan. Namun agenda ini sepertinya akan kacau. Junkyu tampak mematikan sambungan telepon, lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Sweet Love [ kyuhoon ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang