(34) kembali bertemu

2.8K 260 72
                                        

Yoshi menunggu dengan gelisah dokter yang sedang memeriksa kondisi Jihoon. Ia benar-benar khawatir karena suhu tubuh Jihoon yang tadi sempat diperiksa hampir mencapai 39° dan Jihoon bahkan sudah hampir tak mampu menggerakkan tubuhnya. Keringatnya bercucuran tanpa henti bersama air matanya yang juga terus turun.

"Demamnya tinggi, sudah berapa hari demamnya?" Dokter yang memeriksa kondisi Jihoon tadi bertanya.

"Em, saya kurang yakin, mungkin baru semalam," Yoshi pun tak yakin. Ia terakhir bertemu Jihoon kemarin sore setelah Jihoon pamit pulang lebih dulu dari cafe dan Jihoon masih baik-baik saja saat pergi.

"Baguslah karena langsung dibawa kemari, kami akan lakukan sedikit pemeriksaan untuk melihat kondisi janinnya juga."

"Janin?!" Yoshi memekik terkejut, buat dokter yang hendak pergi itu turut terlonjak dan beralih menatap Yoshi dengan wajah bingung yang sama.

"Apa maksudnya janin...," Yoshi berujar lirih. Ia tentu tidak bodoh untuk tidak mengerti apa yang dimaksud dengan janin tapi apakah dokter di hadapannya ini tengah bercanda?

"Anda, suami pasien kan...?" Pertanyaan itu diajukan dengan ragu.

Ada hening yang cukup panjang di sana sebelum akhirnya Yoshi mendesah panjang sarat akan kekesalan yang bercampur kecewa.

"Jadi Jihoon hamil," tanyanya lagi. Dokter itu mengangguk.

"Ya, saya kira anda suami...."

"Gak bukan, dia teman saya, suaminya sedang pergi jadi, yah, baiklah terima kasih Dokter."

Dokter itu segera pergi. Yoshi kembali hampiri bangsal Jihoon dan duduk di samping ranjangnya. Ia hanya diam, sama diamnya dengan Jihoon yang sekarang tak lagi meneteskan air mata.

Keterdiaman itu membawa hawa tak menyenangkan yang menyesakkan hati. Seperti tengah terjadi perang dingin. Keduanya sama-sama tak berucap kata. Sementara Jihoon sibuk memikirkan bagaimana suaminya saat ini Yoshi justru sibuk bergelut dengan hatinya. Rupanya ia memang harus membuang perasaannya jauh-jauh.

"Kenapa lo gak bilang," Yoshi akhirnya bersuara, buat Jihoon juga akhirnya menoleh padanya. Yoshi berusaha tak terlihat peduli sedangkan Jihoon justru terlihat kembali murung.

"Kenapa lo gak bilang kalau lo hamil," tanyanya ulang.

Sesaat itu Jihoon menggeleng. Bibirnya ingin berucap nafasnya justru tersengal. "Gue mau..., Junkyu tahu duluan...," ucapnya sedikit terbata disusul tangisnya yang kembali datang.

"Haaaaa..., kenapa gue hari ini cengeng banget...," Jihoon menangis semakin menjadi. Yoshi di sebelahnya dibuat tertawa mendengar keluhannya.

Yoshi menggeser kursinya mendekat pada Jihoon, tangannya lalu mengusap kening Jihoon, menyingkap rambutnya yang lepek karena keringat. "Iya, iya, gue gak tahu kok, gue gak tahu apa-apa, lo istirahat dulu aja ya, udahin dulu nangisnya," Yoshi terus ujarkan berbagai kalimat yang ia pikir bisa sedikit mengubah mood Jihoon agar tak lagi bersedih.

    

[ Sweet Love ]

  

Doyoung melaju cepat menggunakan motornya yang kemudian ia parkirkan begitu saja di halaman rumah Junkyu tanpa peduli jika nanti ia kena marah lagi karena motornya menghalangi jalan keluar dari garasi. Langkah kakinya memburu memasuki rumah yang rupanya sepi. Kamar Junkyu di lantai satu ia datangi namun tak juga temukan kakaknya di sana. Doyoung mencari ke belakang rumah, hampir senyisiri seluruh area rumah ketika Sana mendatanginya dan memberitahu bahwa Junkyu ada di kamarnya yang di lantai atas. Lantas saja Doyoung berlari menaiki anak tangga.

Sweet Love [ kyuhoon ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang