Waktu kembali bergulir. Hari berganti hari. Junkyu kira semuanya sudah baik-baik saja mengingat Jihoon tak lagi terlihat murung atau membicarakan topik yang membuat keduanya sempat bertengkar. Jihoon terlihat baik-baik saja meskipun masih sering mual dan berakhir hanya berbaring selama setengah hari penuh tanpa mau memakan apa pun. Bersama dengan berjalannya waktu, ketika usia kehamilan Jihoon menginjak tiga bulan, Jihoon justru terlihat tambah kurus.
Junkyu sudah berangkat bekerja dan kini tinggalah Jihoon sendirian di kamarnya. Ia belum sarapan karena tak nafsu makan, tapi kemudian tubuhnya dipaksa bangkit meninggalkan kasur. Hari sudah beranjak siang namun Jihoon masih bermuka bantal dengan piyama melekat di badan. Dengan langkah lesu begitu Jihoon menuruni anak tangga menuju dapur, ingin lihat apa yang bisa ia makan untuk setidaknya mengisi kekosongan lambungnya.
"Baru bangun?"
Jihoon yang masih berjalan sambil menguap itu lantas terhenti dengan terkejut. Matanya melotot saat menoleh ke arah meja makan dan dapati ibu mertuanya yang sudah duduk dengan cantik menunggunya turun.
"Mamah...," Jihoon gugup. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana karena lagi-lagi kepergok bangun siang bahkan belum mandi di saat suaminya saja sudah rapi dan pergi bekerja. Karena merasa tak enak hati, akhirnya Jihoon hanya berdiri diam tanpa berani menghampiri.
Jisoo bangkit berdiri. "Katanya kamu sedang kurang sehat, udah makan?" tanyanya seraya hampiri Jihoon dan merangkul pundaknya.
Jihoon menggeleng. "Siapa yang bilang sama Mama?"
"Junkyu," jawabnya singkat. "Kamu mau makan sesuatu? Biar Mama buatkan."
Jihoon kembali termangu. Terkejut sebenarnya dengan kebaikan hati ibu mertuanya yang tiba-tiba. Ia tahu Jisoo memang sudah menerimanya sepenuhnya tapi rasanya tetap aneh mendapat perlakuan yang sebegini baiknya dari Jisoo. Apalagi jika mengingat kejadian tempo hari.
"Eum, Mama sama Junkyu udah baikan ya? Maaf ya Ma karena waktu itu udah bikin ribut malem-malem," Jihoon berucap sedikit tak enak. Malam itu ia jelas dengar bagaimana Junkyu berteriak membentak Jisoo, namun tak benar-benar mendengar jelas apa yang Jisoo katakan untuk membalas bentakan Junkyu. Suara suaminya jelas lebih keras daripada Jisoo.
Sementara itu Jisoo justru terkekeh kecil mendengar permintaan maaf Jihoon. "Junkyu memang begitu, kamu gak perlu minta maaf, saya tahu bagaimana watak anak-anak saya. Dan juga, Mama yang harusnya berterima kasih karena berkat kamu, Junkyu mau menurunkan egonya dan mulai bicara lebih dulu. Biasanya kami bisa bertahan saling diam sampai dua bulan."
"Hah?" Jihoon melongo tak habis pikir. Dua bulan saling diam dengan anak sendiri. Jihoon tak akan pernah mampu membayangkan bagaimana rasanya.
Bertengkar dengan kedua orang tuanya bukan sesuatu yang asing baginya tapi jika saling diam selama itu ia sama sekali tak ingin tahu bagaimana rasanya. Dulu jika ia berdebat dengan ayah atau ibunya yang kemudian berakhir dengan ia yang marah maka tak perlu tunggu sampai dua puluh empat jam salah satunya sudah mendatangi lebih dulu untuk meminta maaf dan berbaikan.
Sepertinya ia sekarang tahu bagaimana suaminya itu akan bersikap jika mereka sampai bertengkar lagi. Junkyu akan mendiamkannya dan menghindarinya, seperti yang sudah sempat terjadi sebelumnya. Jihoon sebenarnya benci sikap seperti itu. Ya, sekarang ia jadi memiliki sesuatu yang tidak ia sukai dari suaminya.
"Jadi kamu mau makan apa?"
Jihoon tersentak. Akhirnya terlempar keluar dari lamunan. "Ah iya, apa ya," sesaat itu Jihoon bergumam sambil memikirkan apa yang kiranya ingin ia makan. "Eum, gimana kalau sesuatu yang bisa angetin perut? Perutku gak enak dari kemarin," katanya kemudian seraya mengusap perut buncitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Love [ kyuhoon ]
FanfictionB O Y S L O V E [ COMPLETED ] Tujuan awalnya adalah untuk memanfaatkan uang yang dimiliki suaminya untuk pengobatan ibunya dan juga untuk memperbaiki keuangannya yang kian memburuk setelah kepergian ayahnya. Namun kini perasaannya justru terbuai aka...
![Sweet Love [ kyuhoon ]](https://img.wattpad.com/cover/315634225-64-k31676.jpg)