(33) sebenarnya rindu

2.5K 245 59
                                        

Pagi-pagi Junkyu pergi ke dapur, seperti biasa bangun pagi dan sarapan. Junkyu duduk sendirian di meja makannya yang luas. Sepiring nasi dengan beberapa lauk tersebut tak tersentuh sama sekali walau satu jam telah berlalu. Seiring berjalannya waktu, nafsu makannya juga turut berkurang setiap harinya. Padahal ia masih dalam masa pemulihan namun jiwanya seolah hilang tak lagi ingin tinggali raganya.

Matanya hanya terpaku menatap ruang tengah yang di hari-hari sebelumnya akan muncul sosok Jihoon yang berlarian dari kamar menuju dapur sambil memanggilnya. Isi kepalanya penuh oleh bunyi-bunyi khas Jihoon ketika memanggilnya. Sekarang yang bisa dengar setiap pagi hanyalah suara cempreng adiknya yang berteriak berpamitan untuk pergi ke sekolah dan menolak sarapan.

Rasanya kosong. Ia sudah terbiasa hidup sendiri, seharusnya kembali tinggal sendirian di rumah yang dibelinya dari hasil kerja kerasnya sendiri tidaklah sulit. Namun kini rasanya begitu asing. Seolah sebuah lukisan penuh warna yang kehilangan semua warnanya. Bagunan ini adalah rumahnya, namun sayangnya tak lagi terasa demikian.

Junkyu terus berpikir, sebesar itu kah pengaruh yang Jihoon tinggalkan terhadapnya?

"Pak—"

Junkyu tertoleh begitu saja, terkejut.

"Ah, maksud saya, maaf Tuan," Sana segera menundukkan kepala. "Apakah anda ingin nasinya diganti? Anda belum menyentuhnya sedikit pun, apa ada yang perlu saya perbaiki?"

Punggungnya disandarkan dengan lemas pada sandaran kursi. Ia terlalu banyak melamun dan berharap. Sepiring nasi tersebut lantas ia dorong ke arah Sana. "Simpan saja, apa ada sereal?" tanyanya kemudian yang justru buat sang pelayan mengangguk dengan ragu bercampur bingung.

"Tolong itu saja."

"Anda yakin Pak? Maksud saya, anda masih harus minum obat," Sana berusaha memastikan kembali. Tuannya itu tak suka camilan dan tidak pernah sekali pun sarapan menggunakan sereal dan kebiasaan baru apa yang tiba-tiba muncul ini.

"Iya," katanya singkat. Sana lantas mengangguk dan segera minta pelayan lainnya untuk siapkan sarapan Junkyu sementara ia menyimpan kembali nasi dan lauk Junkyu yang belum tersentuh.

Tuannya tampak menyedihkan sejak kembali dari rumah sakit. Para pelayan rumahnya itu sudah bisa pastikan perubahan besar yang terjadi pada Junkyu. Dia mulai jarang sarapan dan makan malam, lebih sering duduk sendirian di ruang tengah dengan televisi menyala walaupun Junkyu tak benar-benar menonton apa yang ditayangkan, dan bahkan tidak lagi menempati kamar pribadinya, Junkyu tidur di kamar lain di lantai satu dengan alasan tak ingin kesulitan naik turun tangga dengan kondisinya yang kurang baik.

Membawa Doyoung ke rumahnya hanyalah satu dari sekian usahanya untuk melupakan Jihoon karena ia pikir setidaknya Doyoung bisa gantikan kekosongannya, namun nyatanya adiknya itu justru tak begitu peduli dan lebih sering habiskan waktu di luar rumah bersama pacar atau temannya. Junkyu tak lagi punya tenaga untuk mengatur Doyoung dan berakhir membiarkan saja apa yang anak itu ingin lakukan.

Semangkuk sereal yang disajikan hanya ia makan beberapa suap dan tinggalkan sisanya di atas meja begitu saja. Langkah kakinya yang lambat ia bawa menaiki anak tangga satu per satu. Kehampaan itu kian terasa memberatkan hatinya. Kian ngilu hatinya saat ia membuka pintu kamarnya dan hanya dapati sebuah kekosongan.

Biasanya, setiap kali ia membuka pintu kamarnya, ia akan dapati Jihoon yang berbaring di ranjang sambil memainkan game di ponselnya. Ada senyum manis Jihoon yang biasanya langsung terpatri begitu melihat kedatangannya. Jihoon bahkan bisa tinggalkan gamenya demi sambut kepulangan Junkyu dan tanyakan beberapa hal basa basi yang sebelumnya terasa tak begitu berarti.

Namun sekarang ia merindukan bagaimana istrinya itu selalu mematri senyum saat bicara dengannya dan bagaimana pipi tembem istrinya itu mengembung begitu Junkyu menjawabnya dengan melas-malasan. Decakan lidah serta lirikan matanya itu selalu membuatnya terkekeh.

Sweet Love [ kyuhoon ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang