Jihoon berdiri di samping ranjangnya dengan masker menutupi wajahnya. Berjarak jauh dari Junkyu yang kini sibuk memasukkan semua parfumnya ke dalam kantong sampah. Jihoon hanya memperhatikan bagaimana semua botol parfum yang banyaknya sudah hampir memenuhi satu rak lemari. Kantong plastik penuh botol kaca beraroma itu diberikan pada pelayan untuk dibuang setelah rak penuh parfumnya dikosongkan.
Dapat ia lihat suaminya yang berulang kali menghela nafas berat tak rela membuang semua parfumnya, tapi mau bagaimana lagi, Junkyu juga tak bisa membiarkan Jihoon mual-mual setiap harinya hanya karena menciun aroma parfumnya. Sebenarnya tidak semua parfumnya, tapi Junkyu terlanjur malas untuk memilah yang mana yang aromanya menganggu penciuman istrinya.
Jihoon menghampiri pintu kamar mandi. Suara gemericik air terdengar samar-samar. Junkyu pasti mandi lagi untuk hilangkan semua jenis aroma yang menempel padanya. Jihoon melepas maskernya, dan begitu pintu dibuka Jihoon langsung menyambar Junkyu dengan pelukan tanpa pedulikan tubuh basah suaminya.
Nafasnya ditarik dalam-dalam menghirup aroma tubuh suaminya. "Wah, kamu pake sabunku ya," tanyanya begitu hirup aroma yang sangat familiar di hidungnya.
Junkyu mengangguk. "Cari aman, kamu gak mungkin alergi sama aroma kamu sendiri." Junkyu membalas pelukan Jihoon dengan penuh sayang. Semua orang sudah pergi dan akhirnya bisa juga ia memeluk istri manisnya.
"Lepas dulu ya, saya masih basah ini, biar saya ganti baju dulu," ucapnya lalu melepaskan pelukan Jihoon dengan paksa. Rambutnya pun masih basah kuyup, tapi Jihoon seolah tak peduli dan malah mengekor Junkyu dan kembali memeluknya dari belakang saat Junkyu akan mengambil baju ganti. Istrinya itu sudah tak peduli pada tetesan air dari rambut Junkyu yang pelan-pelan turun membasahi wajahnya.
"Awas dulu sayang, saya mau ganti baju," pinta Junkyu lagi dengan lembut.
Jihoon akhirnya dengan tidak rela melepaskan pelukannya. Ia kemudian duduk di meja riasnya sambil menunggu Junkyu selesai berpakaian.
"Hahhh..., rasanya gak nyangka banget deh, hari ini aku hamil, minggu depan masuk kuliah lagi, hari ini akhirnya kamu gak jadi ke kantor, enaknya ngapain ya," gumamnya sendirian sambil berpikir keras.
"Oh iya, soal kuliahmu itu, bukannya sebaiknya kamu ambil cuti aja sampai setelah lahiran?" Junkyu menutup lemari, selesai berpakaian. Ditatapnya Jihoon yang kini juga menatapnya dengan alis saling bersinggungan.
"Cuti?" tanyanya meyakinkan pendengaran. Junkyu mengangguk, maka kini berdirilah Jihoon menghadap suaminya. "Ngapain cuti, aku kan masih bisa aja kuliah, sayang banget, semester barunya udah minggu depan loh," katanya menjelaskan serta berikan penolakan telak pada saran sang suami.
"Tapi kamu nanti kecapean kalau kuliah pas hamil gini, kamu bakal gampang capek loh, dan itu gak baik buat kamu sama bayinya."
Jihoon mendelik. Sangsi. Ia sepenuhnya tak setuju dengan keinginan suaminya. "Gak akan kok, aku bisa jaga diri dan atur waktu biar gak sampe kecapean, lagian satu semester tuh bentar aja kok, gak akan sampe waktu ngelahirin. Semester depan aja aku ambil cuti pas udah deket hari lahiran, jadi bisa sekalian istirahat lama setelah lahiran itu."
Junkyu menggeleng. Masih tak setuju. "Gak, kamu harus cuti dari sekarang. Saya gak izinin kamu buat tetep kuliah. Kalau kamu ngeyel, saya gak akan bayarin uang kuliah kamu," balas Junkyu lagi tak mau mengalah. Kini sematkan ancaman dalam perintahnya.
"Ya terserah, uang semester ini kan udah dibayar, aku bakal tetep kuliah," Jihoon tetep kekeh.
"Jihoon, kamu bisa gak sih nurut aja sama saya? Saya khawatir kamu kenapa-napa kalau kamu maksa sambil kuliah, kita harus belajar dari kesalahan," nada suaranya meninggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Love [ kyuhoon ]
FanfictionB O Y S L O V E [ COMPLETED ] Tujuan awalnya adalah untuk memanfaatkan uang yang dimiliki suaminya untuk pengobatan ibunya dan juga untuk memperbaiki keuangannya yang kian memburuk setelah kepergian ayahnya. Namun kini perasaannya justru terbuai aka...
![Sweet Love [ kyuhoon ]](https://img.wattpad.com/cover/315634225-64-k31676.jpg)