Langit mulai menggelap saat Doyoung akhirnya selesai menginput seluruh data. Pekikan leganya menggelegar kejutkan Junkyu yang sudah bersiap untuk pulang. Junkyu sudah lebih dulu selesai dengan pekerjaannya dan memang belakangan ini Doyoung sering datang ke kantornya untuk membantu sedikit pekerjaan yang bisa dilakukannya. Junkyu bersyukur atas bantuan tersebut karena akhirnya adiknya itu memiliki kesadaran bahwa dia masih tetap harus bekerja keras jika ingin dapat banyak uang.
Ya, Doyoung membantu Junkyu dengan perjanjian Junkyu akan membayarnya setiap hari setelah ia selesai membantu Junkyu dengan janji bahwa Doyoung akan benar-benar bekerja dan bukan hanya makan gaji buta.
"Akhirnya selesai," Doyoung bersenandung gembira. Barangnya segera dikemasi untuk secepatnya pulang dan istirahatkan diri.
"Oh iya Kak, besok aku gak bisa datang ya, mau ada praktikum," ucapnya seraya beranjak membawa tas ranselnya.
Junkyu hanya mengangguk. "Kuliahmu baik-baik saja kan, jangan sampai menelantarkan kuliahmu."
Doyoung mengerutkan kening. Jarang-jarang kakaknya itu menanyakan tentang perkuliahannya. Junkyu bahkan jarang menanyakan apakah Doyoung sudah makan atau belum saat Doyoung datang ke kantor untuk membantunya.
"Ya, baik-baik aja sih, tapi pusing banget, kayaknya gue mulai nyesel deh Kak karena udah ambil kedokteran."
Junkyu menahan tawanya mendengar nada lesu Doyoung saat berucap. Bukan hanya Junkyu sebenarnya tapi bahkan ayah dan ibunya pun terkejut dan hampir tak percaya saat Doyoung bilang dia akan masuk kedokteran dan berakhir benar-benar diterima.
Doyoung tak pernah terlihat berambisi, bahkan belajar saja tak pernah terlihat di rumah tapi tiba-tiba datang dan meminta dukungan semua orang untuk kelancaran ujiannya waktu itu. Ayahnya bahkan sampai tertawa karena mengira Doyoung sedang bercanda. Doyoung sudah pernah diminta untuk mengambil jurusan bisnis atau semacamnya yang bisa membantunya saat dia ikut mengambil alih perusahaan nanti, tapi anak itu justru mengambil kedokteran yang tak ada sangkut pautnya sama sekali.
"Bersiap saja untuk dapat ceramah dari Papa kalau kamu terus merasa seperti itu dan berakhir tidak menyelesaikan pendidikanmu dengan benar."
Senyumnya ditarik paksa. Daripada ibunya yang memang kerap marah-marah, ayahnya lebih mengkhawatirkan saat marah. Bisa-bisa bukan hanya motor dan uang sakunya yang dicabut aksesnya tetapi juga akses hidupnya yang dihentikan.
Tok tok tok
Suara ketukan tersebut mengalihkan atensi. Saat pintu dibuka dan perlihatkan Mashiho yang datang, Junkyu justru menatapnya penuh tanya.
"Sore Kak Junkyu," sapanya dengan sopan.
"Oh, sore, kenapa sekarang Mashiho jadi sering menjemputmu dan mengantarmu kemari? Kalian...," Junkyu tak dapat berucap. Seratus persen bingung dengan hubungan adiknya karena terakhir yang ia tahu Mashiho adalah teman Doyoung tapi kenapa sekarang pertemuan mereka justru lebih intens.
"Ah, eum, gue duluan ya Kak, kasian Mashiho udah nunggu dari tadi, bye Kak Junkyu, hati-hati pulangnya Kak!"
Doyoung segera beranjak. Lengan Mashiho ditarik paksa sampai Mashiho pun tak sempat berpamitan pada Junkyu. Sementara Junkyu sendiri masih terdiam berusaha mencerna keadaan. Ya, ia tak sebodoh itu untuk tak pahami kemungkinan yang ada tapi bagaimana bisa? Bagian itu ia tak bisa mengerti.
"Kenapa gak jujur aja sama Kak Junkyu?" Mashiho ajukan tanya saat mereka menunggu lift.
Doyoung cepat-cepat menggeleng. "Gak ah, nanti Kak Junkyu cerewet lagi ngomong ini-itu. Kemarin aja gue sama Jeongwoo sampe berantem pas Kak Junkyu mergokin gue pacaran sama dia, Kak Junkyu tuh posesif banget kalau tahu gue pacaran."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Love [ kyuhoon ]
FanfictionB O Y S L O V E [ COMPLETED ] Tujuan awalnya adalah untuk memanfaatkan uang yang dimiliki suaminya untuk pengobatan ibunya dan juga untuk memperbaiki keuangannya yang kian memburuk setelah kepergian ayahnya. Namun kini perasaannya justru terbuai aka...
![Sweet Love [ kyuhoon ]](https://img.wattpad.com/cover/315634225-64-k31676.jpg)