Gracia tertegun. Wanita ini benar benar cantik. Ia mengenakan setelan jas bewarna coklat susu, sepertinya ia baru pulang kerja? Setelannya sangat cocok dengan rambutnya yang berwarna coklat terang. Dengan serabutan Gracia merapikan rambut dan pakaiannya. Ia juga meraba sudut bibirnya, barangkali ia mengences.
"Eum, eh, maaf. Aku ketiduran." Gracia sedikit menundukkan pandangannya. Ia memaki Anin yang sedang cekikikan di dalam hatinya.
"Tak apa. Aku juga minta maaf, karena membuatmu menunggu."
"Gracia, aku Gracia." Gracia menyebutkan namanya, apalagi yang harus ia sebutkan?
"Shani." Wanita itu tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada meja yang ada di depan mereka. Dari sudut pandang Gracia, meja itu berada di sampingnya karena ia mengenyampingkan tubuhnya menghadap Shani.
Gracia menelan ludahnya saat ia melihat buket bunga, beberapa potong kue, dan dua gelas minuman yang terletak di atas meja itu. Kenapa ia tak menyadari ada sesuatu di atas mejanya. Wajar saja, bahkan Gracia sempat tak menyadari ada meja di dekat mereka. Ia baru saja bangun dari tidurnya, kepalanya masih lambat dalam mencerna informasi yang di terima oleh matanya. Gracia memperbaiki posisi duduknya.
"Thank you." Gracia meraih buket itu. Ia meneliti setiap bunga yang ada. Beberapa mawar putih, edelweis yang banyak, dan bunga apa yang ungu itu? Apa itu lavender? Dimana wanita ini mendapatkan bunga itu. Bunga kesukaannya. Baiklah, sudah cukup basa basinya. Bisakah mereka langsung menikah saja?
"Do u like it?" Tanya Shani.
"Of course." Gracia tersenyum.
"Can I confess something?" Shani menatap Gracia dengan tatapan yang teduh. Gracia dapat melihat bahwa netra itu memancarkan ketulusan, ketulusan yang belum pernah ia dapatkan dari siapapun kecuali dari Anin dan orang tuanya.
Gracia mengangguk. Ia juga sudah siap mengangguk saat wanita ini mengajaknya berkencan atau bahkan menikah.
"I love you. I think from last year." Shani mengambil gelas coffenya, sedikit menyeruputnya.
"Last year?" Gracia sedikit terkejut. Sepertinya sangat terkejut.
"Yup." Shani mengangguk.
"Bodoh." Gumam Gracia. Shani terpaku mendengarnya. Baru kali ini ada yang merutuki dirinya.
"Kenapa ga dari awal? Kenapa baru sekarang? Kalo gue udah punya pacar gimana? Kalo gue udah ada yang lamar gimana? Kenapa baru hari ini?" Gracia tidak berani menatap Shani. Ia menjatuhkan pandangannya pada bunga di tangannya.
"Belum berani. Takut. Takut kamu nolak. Takut kamu semakin jauh. Satu alasan itu cukup untuk menunda pernyataan ini selama setahun. Aku harus mencari tau tentangmu dulu. Aku harus cukup bernilai untuk mendekatimu. Aku harus memperbaiki diriku untuk bisa bersanding denganmu. Aku harus berusaha untuk menghilangkan rasa takut itu." Shani mencoba meraih tatapan Gracia yang masih jatuh pada bunga itu.
"Gimana kalo gue tetap nolak lo?" Kini Shani mendapatkan tatapan itu.
"Aku akan kembali berusaha, sampai kau bilang kau benar benar tidak menginginkan aku dalam hidupmu." Shani menatap dalam netra Gracia.
"Gue ga tau ada orang yang segitunya usaha untuk bersanding sama gue." Gumam Gracia.
"Maka izinkan aku untuk masuk dalam kehidupanmu. Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku." Shani berucap dengan lembut. Walaupun ia terlihat santai, tapi jantungnya berdebar cepat.
Gracia mengangguk. "Kau tidak perlu berusaha. You have it. I'm in love with you." Di ujung kalimatnya, Gracia menatap Shani yang tersenyum indah.
Entah apa yang dilakukan Shani padanya, Gracia telah jatuh sejatuh jatuhnya. Entah bagaimana kedepannya, ia menyerahkan seluruh kepercayaannya pada wanita ini. Dan mulai sekarang ia akan menyerahkan seluruh cintanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GRESHAN ONESHOOT
ФанфикшнFiksi. 21+ !! Hanya sekedar kumpulan cerita pendek dari Greshan. Bagaimanapun jalan ceritanya. Serumit apapun perjuangannya. Sejauh apapun jaraknya. Greshan akan berakhir bahagia.
