"Ge?" Shani yang baru saja selesai mandi, melangkahkan kaki jenjangnya untuk menelurusi kamar tidurnya. Mencari Gracia yang tidak terlihat batang hidungnya.
Shani keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju dapur.
"Gracia." Kali ini panggilan Shani menerima sahutan dari sang pemilik nama.
"Aku disini ci." Suara itu berasal dari dapur. Maka Shani menuju kesana.
Shani membeku ketika melihat Gracia mengenakan kemeja tipis berwarna putih miliknya, tanpa bawahan apapun karena kemeja itu cukup panjang untuk menutupi celana dalamnya.
Shani menghampiri Gracia.
"Lagi apa hm?" Ia melingkarkan tangannya pada pinggul Gracia. Sebenarnya Shani dapat melihat jelas apa yang dilakukan Gracia.
"Lagi masak. Udah hampir selesai, ayo makan." Gracia menatap Shani, lalu ia sadar bahwa Shani tidak mengenakan baju, melainkan bathrobe yang membungkus tubuhnya dengan sempurna.
"Pake bajunya sana. Habis itu makan." Gracia sedikit memukul pundak Shani.
"Ga mau ah, gini aja. Nanti juga kamu buka lagi." Shani duduk di meja makan tanpa melihat wajah Gracia yang memerah. Gracia diam, untuk menutupi rasa gugup dan malunya.
Mereka menghabiskan makanan yang di masak oleh Gracia. Saat selesai makan, mereka berebutan untuk membersihkan piring piring.
"Aku aja Ge." Ucap Shani.
"Engga ci, aku aja." Gracia menggeleng, merebut tumpukan piring.
"Kamu masuk kamar aja." Shani tidak membiarkan Gracia merebut tumpukan itu.
"Ngalah aja deh ci." Gracia berdecak kesal.
Shani terkekeh. Baiklah, biarkan gadisnya yang membersihkan ini. Tugasnya sekarang adalah memeluk Gracia dari belakang, mengecupi tengkuk Gracia dan menjilati telinga Gracia.
"Ci, sana dulu ih. Nonton tv di kamar gih." Gracia sudah cukup frustasi.
Shani menurut, ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Wanita itu menguap, lalu merenggangkan badannya. Ternyata ia sudah mengantuk.
Shani merebahkan tubuhnya di kasur, tangannya meraih remot tv, lalu memutar film yang disukainya.
Lima menit, Shani tertidur.
Gracia tersenyum saat melihat Shani yang tertidur dengan bathrobe dan tv yang menyala. Gracia mematikan tv, ia berniat untuk mengganti pakaian Shani. Namun, niatnya terhambat ketika ia melihat wajah cantik Shani yang tertidur.
Gracia beranjak mendekati Shani, ia mengelus pahatan tuhan yang sempurna itu. Gracia masih bertanya tanya tentang takdir yang membawa Shani padanya. Tentang cafe itu, tentang alasan Shani tertarik pada gadis biasa seperti dirinya.
Bahkan menyadari bahwa ia memiliki Shani masih terasa seperti mimpi.
Gracia mengecup bibir Shani, lalu pipi dan leher Shani.
"Emmhh." Shani mengerang ketika lidah hangat Gracia masuk ke dalam mulutnya. Lidah Gracia bermain di bibir ranum Shani.
Gracia tersenyum jail. Ia menarik ikatan pita pada bathrobe Shani, lalu membukanya. Di perhatikannya tubuh polos yang jelas terpampang di depannya.
Tangannya mulai beraksi. Mengelus leher Shani. mengusapkan ibu jarinya, untuk kemudian turun melalui bahu, dada, perut, pinggul dan berakhir pada selangkangan Shani yang sangat halus dan lembut.
"Ngapain hm?" Shani membuka matanya, menangkap basah Gracia yang sedang sibuk memperhatikan tubuhnya.
"Sedang menelusuri duniaku." Gracia tersenyum, kemudian ia memindahkan dirinya untuk duduk di atas pinggul Shani.
KAMU SEDANG MEMBACA
GRESHAN ONESHOOT
FanfictionFiksi. 21+ !! Hanya sekedar kumpulan cerita pendek dari Greshan. Bagaimanapun jalan ceritanya. Serumit apapun perjuangannya. Sejauh apapun jaraknya. Greshan akan berakhir bahagia.
