Driver.

4.4K 218 1
                                        




Hari ini, Shani bersiap tiga jam sebelum tes-nya di mulai. Setelah mengisi perutnya, ia membersikan dirinya, lalu berpakaian dengan rapi. 

"Mama, Shani pergi dulu ya. Doakan Shani ya ma." Gadis itu menyalami ibunya.

"Wangi banget, cantik pula. Ini mau pergi tes atau pergi date?" Vianca melihat tampilan Shani yang amat menawan.

"Mau pergi ujian ma." Shani terkekeh.

"Pulangnya bawa hasil lulus ujian ya, jangan bawa menantu." Vianca sedikit berteriak karena Shani sudah sedikit jauh darinya.

"Hasilnya kan bulan depan ma." Gumam Shani, ia malas berteriak karena ia sudah berada di garasi.

Shani mengarahkan mobilnya mmelaju kencang ke rumah Gracia.

'Gracia, aku udah di depan.' Ketiknya pada roomchat Gracia ketika ia sudah memarikir mobilnya tepat di depan pekarangan rumah keluarga Gracia.

Sepuluh menit kemudian, Gracia terlihat keluar dari pintu rumahnya. Shani yang bersandar di kap mobilnya segera berjalan ke sisi pintu penumpang.

"Mau kemana mba? Cantik banget?" Sapa Shani yang membukakan pintu mobilnya untuk Gracia.

"Mau kawin." Gracia menjawab asal.

"Kalo mau kawin, sama gue aja." Jawab Shani sekilas, lalu ia segera menutup pintu mobil itu.

"Ya kan ini sama lo." Gracia menatap Shani yang melangkah menelusuri pinggir kap mobilnya, hatinya sedikit bergetar.

"Mau jajan dulu?" Tanya Shani setelah ia menginjak pedal gas mobilnya.

"Nanti aja gue beli sendiri, gue bisa nyetir kok." Ucap Gracia santai.

"Okedeh." Shani mengangguk. Ia juga tidak bisa memaksa Gracia untuk berdiam di mobil selama tiga jam.

"Udah, baris sana." Gracia mengusir Shani saat mereka sudah parkir di area parkir gedung sekolah tempat Shani menjalankan tes-nya. Di lapangan sudah terlihat anak anak yang sedang berbaris rapi menunggu intruksi.

Shani melepas safety belt, lalu mengambil berkas miliknya di jok belakang. Kemudian gadis itu keluar dari mobilnya, bergabung dengan anak anak yang lain.

"Shani suka cewe ga ya?" Gracia mengedarkan pandangannya pada mobil itu. Ia melihat lihat isi mobil Shani.

Lima menit kemudian, Gracia menghubungkan bluetooth, menyalakan music pada speaker mobil.

Pandangan Gracia jatuh pada ponsel Shani yang sengaja di tinggalkan, ia mengambilnya. Terkunci.

Gracia memencet kombinasi angka yang asal. Mustahil ponsel itu terbuka, kecuali Gracia hoki. Ia kembali meletakkan ponsel itu. Takut jika ponsel itu restart otomatis atau terblokir selamanya.

"Kemana yaa enaknya." Gracia pindah ke bangku kemudi. Ia menyandarkan tubuh depannya pada stir. 

"Cari makan deh." 

Saat ia hendak menonaktifkan rem tangan, ponselnya berdering. Senyumnya sedikit mengembang saat membaca nama kontak milik seseorang yang menghubunginya. Ia segera mengangkat panggilan itu. 

"Bisa kok. Aku kesana sekarang ya." Gracia mengangguk, iya sedikit berdecak merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa selemah ini? Segera di jalankannya mobil itu.

"Eh, boleh ga ya? Mobil orang. Apa gue pulang aja dulu? Ntar ga keburu." Gracia berdecak, ia tetap pada jalannya dengan tujuan untuk menemui seseorang yang tadi menghubunginya. Dengan menyetir mobil Shani, driver ojek online yang ia temui kemarin.

GRESHAN ONESHOOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang