Bagaimana jika...
Edisi dibuang sayang.
Ini cuma alur buangan.
What if... Shani milih tidur di samping Gracia.
Pertama tama, ia menggendong Kathrina ke mobilnya, menidurkannya di jok belakang. Shani meminumkan beberapa tetes cairan bius pada Kathrina. Kemudian kembali ke gudang itu, membuka ikatan Gracia, lalu membawa dan meletakkannya di jok depan. Ia juga memberi obat bius pada Gracia, dengan dosis yang lebih sedikit dari Kathrina.
Shani membawa mereka ke apartemennya. Ia mengambil Kathrina terlebih dahulu, dan membaringkannya di kamar adiknya. Lalu mengambil Gracia, membaringkan wanita itu kasurnya.
Ia menatap Gracia yang tak sadarkan diri, menyentuh pelipis Gracia yang terluka. Shani mendesah kasar, lalu mengambil kotak p3k. Ia berdecak ketika teringat harus menghapus make up Gracia, mengambil kapas dan cairan pembersih wajah.
Tangannya dengan pelan membuka seluruh pakaian Gracia, lalu membersihkan tubuh itu. "Cantik banget Ge. Luka lo banyak banget." Gumam Shani ketika melihat bekas bekas luka pada tubuh Gracia.
Dengan perlahan dan hati hati ia membersihkan luka luka baru yang muncul karena tabrakan, sesekali mengelus bekas luka lama dan berbisik meminta maaf. Ia membalut lengan dan paha Gracia, lalu menempelkan plester luka pada beberapa bagian yang sekiranya perlu.
Lalu, ia kembali memakaikan piyama pada Gracia. Memperbaiki posisi tidur Gracia, dan menyelimutinya. Kemudian ia pergi ke kemar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelahnya, ia berbaring di sebelah Gracia, mencoba memejamkan matanya.
Gracia terbangun dengan rasa nyeri nan menusuk pada kepalanya. Ia beranjak duduk, dan kini seluruh badannya juga terasa nyeri. Ia menyadari bahwa yang ia pakai bukan bajunya. Dan ini juga bukan kamarnya.
"Ini mimpi ya?" Gumamnya. Ia belum bisa mengingat apa yang terjadi sebelum ia tertidur.
Tubuhnya tersentak ketika melihat Shani yang tidur dengan damai di sampingnya. Ia beranjak duduk, lalu mencoba menyentuh tubuh itu.
"Gue udah di surga? Kathrina bunuh gue ya?" Ia menatap wajah bidadari di sampingnya dengan lekat. Meneliti setiap inci pahatan sempurna itu.
Tanpa sadar, wajah Gracia sudah sangat dekat dengan wajah Shani. Gracia yang mengira itu adalah mimpi, tanpa repot berpikir langsung mengecup bibir Shani.
"Kapan lagi bisa nyium Shani kalau engga dalam mimpi." Sekali lagi ia mengecup bibir Shani. Tangannya membelai wajah Shani dengan lembut. Menatapi wajah itu sampai puas.
"Ya tuhan... Gracia ga mau bangun dulu. Eh, bangun apanya, kan lo udah mati. Kalo mati bisa ketemu yang begini, mending dari dulu ga sih?" Gracia memainkan jarinya di wajah Shani, membelai dan menyentuh nyentuh hidung Shani. Lalu tangannya memeluk tubuh Shani.
Gracia mencium bibir itu lagi. Kali ini lebih lama dari yang tadi, bibirnya bahkan sempat melumat sebentar.
Saat Gracia menjauhkan wajahnya, bidadari itu terbangun.
"Lo ngapain cium cium gue!" Wanita itu menjauhkan wajahnya, ia mendorong tubuh Gracia dengan sedikit kasar.
Gracia tersentak, saat itu ia sadar, bahwa ini bukan mimpi, karena rasa sakit saat Shani mendorong tubuhnya terasa begitu nyata. Luka lukanya terasa nyeri akibat dorongan itu. Tapi, lebih besar rasa malunya daripada rasa nyeri itu.
Detik ini, ingin sekali ia mengambil pistol dan mengarahkan moncongnya pada kepalanya. Ia ingin mati saja. Ah, dia ingat sekarang. Shani yang menyelamatkannya dari Kathrina. Dari mana Shani mendengar celetukannya? Sejak kapan Shani bangun? Apakah seluruh kecupan dan ciumannya terasa?
KAMU SEDANG MEMBACA
GRESHAN ONESHOOT
FanfictionFiksi. 21+ !! Hanya sekedar kumpulan cerita pendek dari Greshan. Bagaimanapun jalan ceritanya. Serumit apapun perjuangannya. Sejauh apapun jaraknya. Greshan akan berakhir bahagia.
