Esoknya, pagi pagi sekali Shani sudah menekan bell rumah Gracia. Dengan tentengan satu kotak bolu kukus yang di belinya di toko kue dan sebuah sterofoam yang berisi bubur ayam. Setelah memencet sebanyak tiga kali, ia mundur tiga langkah, menunggu.
"Ya? Cari siapa?" Seorang gadis tampak mengucek matanya, dengan piyama dan rambut yang sedikit berantakan.
"Hai, Gracianya ada?" Shani tersenyum menatap gadis yang ditanyainya.
Gadis itu terkesiap ketika mendengar suara Shani. Matanya melotot menatap Shani sebentar, ia refleks kembali menutup pintu.
Shani tertawa pelan.
Tiga puluh detik.
Gadis itu kembali membuka pintu, dengan tampilan yang lebih baik.
"Eh Shani. Pagi banget datangnya, kenapa ga ngabari dulu coba?" Ia mempersilahkan Shani masuk.
"Udah jam delapan loh. Udah siang." Shani duduk di sofa ruang tamu, bungkusan yang di tangannya ia letakkan di atas meja tamu itu. Gracia terus berjalan ke arah tangga, sampai ia sadar bahwa Shani tidak mengikutinya.
"Ngapain lo duduk disitu?" Gracia menghampiri Shani yang menatapnya dengan bingung. Ia adalah tamu, maka disana lah tempatnya.
"Ini ada bolu sama bubur Ge. Buat lo sarapan." Shani menunjuk bungkusan yang tadi di bawanya.
"Yauda ayo." Gracia menarik tangan Shani setelah ia mengambil bungkusan itu.
"Kemana?" Shani semakin bingung tapi ia tetap mengikuti langkah Gracia.
Gracia berjalan ke dapur, meletakkan bolu itu di meja makan, kemudian membawa plastik yang berisi buburnya. Ia kembali berjalan menuju tangga, Shani tetap mengikuti langkahnya.
"Mama lo mana? Kok sepi banget?" Tanya Shani yang tidak melihat seorang pun di rumah itu.
"Pada kerja semua. Cuma gue yang nganggur, gue jaga rumah." Gracia membuka pintu kamarnya, mempersilahkan Shani masuk, lalu kembali menutupnya.
"Lo ga kerja? Katanya mau ngojol?" Gracia duduk di kursi meja belajarnya, ia mulai membuka bubur yang diberikan Shani.
"Males ah, ga mood." Shani berdiri di dekat Gracia, ia tidak tau harus duduk dimana.
"Duduk di kasur aja situ. Idupin tvnya, pilih film." Gracia menunjuk remot tv-nya.
Shani mengikuti arahan Gracia, ia duduk di kasur gadis itu. Shani tidak mengambil posisi nyaman, ia tetap dalam posisi yang sopan. Tangannya sibuk menekan remot kontrol untuk memilih film yang di inginkannya.
"Film ini aja deh Shan. Lama banget lo milih film." Gracia sudah mengambil posisi nyamannya ketika Shani masih sibuk memilih. Ia sudah menghabiskan buburnya.
"Eh? Udah habis? Gue ga lo tawarin?" Shani menuruti kemauan Gracia, ia memilih film yang dimaksud.
"Lah? Kan lo yang beli?" Gracia tertawa jahat.
"Sini deh Shan, mana ada orang nonton film duduk di pinggir kasur gitu. Lo ga mau deket deket karna gue belum mandi ya?" Gracia menepuk ruang kosong di sampingnya, lalu mengambil selimutnya.
Shani beranjak ke sebelah Gracia yang bersandar nyaman pada bantal yang di posisikan menempel pada sandaran kasur.
Shani asik bermain di rumah Gracia sampai sore. Sampai Vianca menyuruhnya pulang. Sampai mama Gracia sudah pulang dari kantornya.
Shani pamit pada Gracia dan ibunya, kemudian kembali ke rumahnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
GRESHAN ONESHOOT
FanfictionFiksi. 21+ !! Hanya sekedar kumpulan cerita pendek dari Greshan. Bagaimanapun jalan ceritanya. Serumit apapun perjuangannya. Sejauh apapun jaraknya. Greshan akan berakhir bahagia.
