Revenge.

3.3K 248 25
                                        


"Junho, ayo bangun. Nanti cici masakin apa yang Junho minta, nanti kalau udah bangun, Junho yang atur menu makan malam. Nanti kita jalan jalan ke Banda Neira, kan kemarin Junho yang minta."

"Ajak aku ci." Kathrina yang duduk di belakang Shani menyahut.

"Family only." Shani menatap sinis.

"Kan aku calon family."

Shani tak membalas lagi, kembali menatap Junho yang tak kunjung bangun. Dadanya naik turun dengan stabil, detak jantungnya terlihat normal.

"Awas yaa kalau lama bangun. Capek tau bolak balik rumah sakit setiap hari!." Kathrina mengomel pada laki laki itu.

Begitulah keadaan ruangan itu setiap harinya. Shani yang selalu berdoa dengan serius, membujuk laki laki itu agar bangun. Dan Kathrina yang selalu mengomel dan mengeluh karena Junho tak kunjung bangun

"Kalau capek, besok gausah datang." Ini adalah hal yang setiap hari dikatakan oleh Shani pada Kathrina yang terus mengeluh.

"Ga ih, aku kan mau caper sama Junho ci. Biar nanti kalau dia bangun, dia liat aku." Dan itu adalah balasan untuk perkataan Shani.

Kathrina akan selalu di antar ke kantor Shani setiap sore. Atau Shani yang berbaik hati menjemputnya di kampus.

Mereka berdua akan pergi ke rumah sakit untuk melihat Junho. Saat malam tiba, Shani akan mengantar Kathrina pulang.

Atau jika Kathrina bersi keras untuk belajar memasak dan makan malam bersama Shani, ia akan menginap di apart Shani. Untuk besoknya di jemput oleh supirnya.

Akhir akhir ini Kathrina sangat menempel pada Shani, bahkan jika Kathrina bosan dirumah karena tidak ada jadwal kuliah, ia akan pergi ke kantor Shani untuk membawakan makan siang.

"Ci, aku nginap ya."

"Ni anak nginap mulu. Baju gue balikin woi."

"Iya cici, makanya mampir ke rumah dong ci!"

Shani tak menjawab kembali, ia mengajak Kathrina pulang setelah melihat jam pada ponselnya.

Seperti biasa, mereka pulang dan memasak makan malam bersama. Kemudian bersih bersih, lalu beranjak tidur.

"Ci aku mau buat tugas, cici tidur duluan aja." Kathrina mengambil laptop yang memang ia bawa sejak dari rumahnya.

"Oke." Shani mengambil ponselnya, memainkan benda pipih itu sebentar. Setelah menguap, ia kembali meletakkan ponselnya dan tidur.

Empat jam kemudian, saat Kathrina dan Shani sudah terlelap, ponsel Shani berdering.

"Cii.." Kathrina mengguncang tubuh Shani, tidurnya terganggu.

"Hm??" Shani bangun dan mengambil ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya. Ia beberapa kali berdehem untuk memulihkam suaranya.

"Iya kenapa Nin?"

*

*

*

Suasana kediaman itu masih dalam keadaan berduka ketika Shani melangkah masuk kedalamnya.

"Maaf, saya merasa sangat bersalah."

"Tidak Shani. Itu bukan salahmu. Bukan kuasamu untuk mencabut nyawa manusia. Jangan salahkan dirimu." Seorang pria paruh baya menatap sendu.

"Saya masih belum berani bertemu Anin."

"Tak apa, nanti kami yang akan menjelaskan padanya. Itu bukan salahmu, kau tak harus takut." Istri pria tadi ikut bersuara.

GRESHAN ONESHOOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang