"Yaudah kita tidur aja." Shani kasihan melihat Gracia yang bahkan masih belum bisa mengontrol nafasnya.
"Aku ganti dulu selimutnya." Shani meraih kemejanya yang terongok bisu di lantai, kembali mengenakan kemejanya. Ia meraih ponselnya, kemudian menghubungi bawahannya untuk membawakan sebuah selimut. Dan mungkin juga seprai.
Shani kembali meletakkan ponselnya di meja. Kemudian mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur. Ia menatap Gracia yang sedang bergerak ke arahnya.
Shani merentangkan kedua tangannya, Gracia masuk ke dalam pelukannya.
"Jangan hilang lagi." Gumam Gracia.
"Tentu saja sayang. Aku ga akan ngilang lagi." Shani mengelus elus rambut panjang Gracia. Elusannya turun pada punggung polos Gracia, wanita itu masih naked.
"Ga mau mandi hm?" Tanya Shani. Gracia menggeleng.
"Setelah ini, kita gimana?" Tanya Gracia yang ragu akan masa depannya. Ia tidak bisa berencana akan bagaimana ia dan Shani nantinya.
"Aku bakalan menghadap sama papa kamu. Sekalian bawa mama papa aku biar ngelamar kamu." Jawab Shani.
"Janji?" Gracia mendongak, menatap wajah kekasihnya. Ia mengangkat kelingkingnya ke depan wajah Shani.
"Janji." Shani tersenyum, ia mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Gracia. Kemudian mengecup bibir Gracia.
Gracia berdecak tidak terima. "Sebentar banget."
Ia membalas kecupan Shani dengan ciuman yang agresif. Bahkan tubuh Shani sampai terhempas kebelakang. Shani terkekeh, Gracia sama sekali tidak berubah.
"I really like this so fucking bad." Gracia menyentuh bibir Shani dengan ibu jarinya. Sedikit mengusap bibir bawah Shani.
"Then, kiss it." Shani meraih kepala Gracia agar mendekat padanya. Dengan senang hati Gracia melumat bibir Shani. Ia juga sesekali menggigit bibir bawah Shani. Gracia melepas ciumannya saat ia merasa kehabisan pasokan oksigen.
"Can I ask something?" Tanya Shani. Gracia mengangguk.
"Bukan maksudku untuk menuduh atau mencurigaimu. Tapi aku benar benar ingin tau jawabannya." Shani mengehela nafasnya. Gracia kembali memangkas jarak di antara wajah mereka.
"Pernahkah kau melakukannya dengan orang lain?" Ucapan Shani terdengar seperti gumaman. Ia takut Gracianya marah.
"Melakukan apa? Kiss? Pernah. Seks? Apalagi! Sangat pernah. Mungkin sering. Itu salahmu. Aku pikir kamu ga akan balik lagi. Kamu berharap apa? Aku menunggumu selama tiga tahun? Bisa saja kau sudah mendapatkan yang lain." Gracia berbicara dengan nada yang dibuat buat. Ia mencoba senatural mungkin untuk mengerjai Shani.
Wanita itu menahan tawanya saat melihat wajah Shani yang tiba tiba menjadi murung. Pandangan Shani meredup, nafasnya juga semakin tipis. Matanya berkaca kaca. Tangan Gracia bergerak untuk membelai pipi Shani.
"Bercanda sayang. Naver. Aku tidak pernah melakukan 'hal yang hanya boleh ku lakukan denganmu' dengan orang lain. Tidak sekalipun. Kita pernah membahasnya dulu kalau kamu lupa." Gracia mencium bibir bawah Shani.
Tangan Shani memegang kedua sisi pinggang Gracia, ia mencoba mengangkat tubuh itu. Agar ia bisa mempebaiki posisinya.
Berhasil. Shani sudah nyaman dengan tubuhnya yang terlentang seluruhnya di atas kasur. Gracia, masih dengan tanpa busana, duduk di atas pinggul Shani. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Shani.
"Mau main lagi? Ga cape?" Bingung Shani.
"Now, its your turn." Gracia menjilati pusar Shani. Lidahnya terus bergerak naik dengan perlahan tapi pasti.
KAMU SEDANG MEMBACA
GRESHAN ONESHOOT
FanfictionFiksi. 21+ !! Hanya sekedar kumpulan cerita pendek dari Greshan. Bagaimanapun jalan ceritanya. Serumit apapun perjuangannya. Sejauh apapun jaraknya. Greshan akan berakhir bahagia.
