PTSD..

7K 271 23
                                        




PTSD

(Post-Traumatic Stress Disorder)



.

.

.



"Cii.. Malam ini tidur di kamar aja." Gracia menatap jari jemari yang ia mainkan di atas pahanya, ia tak berani menoleh pada Shani.

"Kita liat nanti." Shani fokus pada jalan, ia tak mengucapkan hal apapun lagi.

Saat mereka sampai di apart, Gracia yang pertama menggunakan kamar mandi, kemudian Shani setelahnya.

Saat Shani selesai mandi, Gracia sedang berada di dapur, sibuk dengan makanan yang mereka beli tadi, menatanya di piring.

"Mau makan sendiri?" Tanya Shani yang sudah duduk di samping Gracia.

Gracia diam, ia menatap makanan itu, membayangkannya. Tidak bisa, ia tidak bisa memakannya. Bayangan darah yang keluar dari mulutnya serta rasa pedih pada pencernaannya terus berputar di kepala gadis itu.

Di saat Gracia melamun, Shani mengambil piring nasi dan meletakkan lauknya. Ia menyuap pada dirinya sebanyak tiga kali, sampai Gracia sadar dari lamunannya. 

"Ini." Shani mengarahkan sendok pada Gracia, gadis itu membuka mulutnya.

Setelah mereka selesai makan, Shani membereskan bekas makan dan Gracia masuk ke kamarnya. Gadis itu sangat berharap jika Shani juga akan tidur di kamar malam ini.

Sudah satu jam Gracia menunggu Shani masuk ke kamar, sepertinya tidak ada tanda tanda Shani akan tidur bersamanya. 

Dua jam kemudian, dan Gracia belum bisa tidur. Maka ia memutuskan untuk pergi keluar kamarnya.

"Kok belum tidur?" Tanya Shani yang sedang duduk lesehan di belakang meja yang ada di ruang keluarga, dengan laptop dan beberapa kertas di atas meja. Ia menoleh pada Gracia.

Gracia mendekati Shani, duduk di sofa.

"Nunggu cici." Jawab Gracia.

"Gue tidur di sini, lo tidur gih." Shani kembali fokus dengan laptopnya.

"Aku juga disini deh." Gracia merubah posisinya menjadi terlentang di atas sofa. Ia menyamankan dirinya.

"Terserah." Gumam Shani. 

Sepuluh menit kemudian, Gracia bosan dan mulai mengantuk. Jadi ia pergi ke dapur untuk mengambil cemilan. Lalu duduk di samping Shani.

Shani menoleh pada Gracia, menatap beberapa bungkus jajanan yang ada di pelukannya. Ia mendesah ringan, paham akan keinginan Gracia, lalu merebut satu.

Gadis dengan kacamata itu membuka bungkus cemilan, menyuap pada dirinya, lalu menyuapkan Gracia. Shani menatap Gracia saat gadis itu mengunyah makanannya, setelah dirasa Gracia bisa menyuap sendiri, Shani kembali memberikan bungkusan itu. Kemudian kembali fokus pada laptopnya.

"Hm?" Shani menoleh pada tangan Gracia yang menyodorkan keripik padanya.

"Aku juga pengen nyuapin cici." Ucap Gracia sambil tersenyum dengan riang.

Shani membuka mulutnya, menerima suapan itu, lalu kembali menatap laptopnya. Senyum Gracia semakin melebar, ia kembali menyuap Shani saat gadis itu selesai mengunyah. Shani menerima semua suapan Gracia tanpa menoleh, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya.

GRESHAN ONESHOOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang