Di sebuah café yang berada di pusat kota. Seorang gadis dengan hoodie ungu cerah tampak sedang sibuk dengan buku buku dan laptopnya. Wajahnya tampak masam. Berkali kali ia mengusap kepalanya dengan frustasi. Berkali kali juga ia tampak mencoret semua tulisannya, mengganti lembar pada buku tulisnya.
Ia meneguk habis milkshakenya, lalu kembali mengetik sesuatu pada keyboard laptopnya. Gadis itu menghela nafasnya, kemudian memperbaiki rambutnya.
"Eh, Gre. Tadi ada cewe cakep yang ngasih." Seorang barista memberikan sepotong kue dan segelas coffee.
"Hah? Siapa?" Gadis itu tanpa kaget.
"Ntah, gue juga ga kenal. Kayaknya baru sekitar tiga kali kesini." Barista itu duduk di sebelah Gracia.
"Serius lo? Bukan lo yang ngasih? Ntar dari lo." Gracia menuduh barista itu. Mereka akrab, sepertinya memang berteman.
"Engga lah. Bangkrut gue ngasih gratisan mulu." Barista itu buru buru menggeleng.
"Yang bener nin."
"Iya, beneran. Cakep loh. Tadi habis mesen, payment, trus nunjuk lo. Habis itu dia cabut." Sang barista mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
Gracia menatap sepotong kue itu. "Lo inget dia duduk dimana? Mungkin gue ingat dan sempat liat."
"Sayangnya engga Gre. Yaudah sii, nikmati aja. Gratis." Gracia menangguk.
"Enjoy Gre. Gue mau buat pesenan." Barista itu kembali bekerja. Sementara Gracia kembali sibuk dengan tugasnya.
***
Dua hari setelah hari itu.
"Kaya biasa. Sama croissant ya." Gracia, anak kuliahan yang menenteng laptop dan bukunya mengangkat tangannya pada sang barista. Menyapa sekaligus memesan apa yang ia inginkan. Setelah ucapannya di anggukkan oleh sang barista, ia berjalan mencari tempat ternyaman.
Karena meja favoritnya telah di duduki seseorang, gadis berkemeja hijau itu berkeliling mencari tempat duduk. Tapi, mencari tempat duduk tidak harus berkeliling. Hanya mengitari pandangan saja sebenarnya sudah cukup. Apa yang Gracia cari? Entahlah. Ia duduk, kemudian membuka laptop dan buku bukunya. Mulai mengerjakan tugas tugasnya. Ia tersenyum ketika mendapatkan pesanannya.
Saat ia hampir menyelesaikan tugasnya, makanan dan minumannya habis. Sang barista datang membawa sepotong kue dan segelas lotus.
"Banyak banget yang tertarik sama gue di cafe lo Nin." Gracia menatap nampan itu, kemudian menyibak rambutnya.
"Heh, ini dari orang yang sama." Anin duduk di sebelah Gracia.
"Hah? Lo ga mintain nomor hp? Atau mungkin kali ini lo hafal? Gue ga liat sekitar barusan. Jadi gue ga liat orang yang baru keluar dari cafe lo." Gracia celingak celinguk melihat sekeliling.
"Sayangnya gue ga kepikiran buat minta nomor hp Gre." Anin menggeleng.
Gracia memandangi meja favoritnya yang kosong. "Dia duduk di situ tadi?" Gracia menunjuk meja itu.
Anin mengedikkan bahunya. Gracia berdecak.
"Kemarin dia datang ga?" Gracia mulai mengintrogasi, mencari tanda tanda. Apakah ia akan bertemu jodohnya yang sebenarnya?
"Engga. Dia dateng cuma kalo ada lo." Anin menyeruput gelas yang tadi di bawanya.
"Hah. Kebetulan? Atau dia memang tau jadwal gue kesini Nin?"
"Ntah, kayanya memang tau deh Gre. Buktinya dia dateng hari senin, rabu, sama sabtu doang. Persis sama kaya lo." Ucap Anin, kali ini ia menyuap kue yang tadi ia bawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
GRESHAN ONESHOOT
FanficFiksi. 21+ !! Hanya sekedar kumpulan cerita pendek dari Greshan. Bagaimanapun jalan ceritanya. Serumit apapun perjuangannya. Sejauh apapun jaraknya. Greshan akan berakhir bahagia.
