"Terkadang manusia memang tak tahu diri. Dirinya yang membuat kesalahan, tetapi malah membenci hasil dari perbuatan itu." Galan Ardian Syaputra.
Galan itu sosok yang keras seperti batu dari luar, pembuat onar, tidak sopan, dan berbuat semaunya. "Gal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
+++GALAN STORY+++
Galan terkejut, ketika lampu kamarnya tiba-tiba mati. Galan yang tadinya sibuk menyalin jawaban dari Wandy, beranjak dari meja belajarnya. Galan menyingkap horden, tampak langit malam terlihat kemerah-merahan, angin bertiup kencang, dan hujan besar perlahan turun hingga deras. Galan kembali ke meja belajarnya, menyalakan sentar ponselnya untuk menerangi kamar yang tak begitu besar itu. Tiba-tiba petir menyambar, Galan repleks menutup telinganya.
"Astaghfirullah ... ngeri banget di luar kek kiamat," ucap Galan pelan sambil merangkak naik ke atas kasur. Menutupi tubuhnya dengan selimut dan mulai memejamkan mata.
Tiba-tiba pintu kamar Galan diketuk seseorang. Galan membuka matanya, matanya melirik ke arah pintu. Entah mengapa suara ketukkan itu tampak berbeda, terdengar lambat tetapi tanpa ada jeda. Galan bukan orang yang penakut, tetapi untuk malam ini ia takut. Bukan tanpa alasan, tetapi baru saja Ipang mengirimi video orang gantung diri dekat kompleknya, di atas pohon.
"Ck, apaan sih. Ganggu banget," decak Galan bangkit dari rebahannya. Ia membuat keadaan dirinya kesal, seolah-olah tak ada yang ia takutkan.
Galan membuka pintu cepat, detik kemudian ia dikejutkan oleh wajah putih bersinar dengan mata terbuka lebar.
"AAAAARRGGGH!"
Bruk!
Galan repleks terjungkal. Pemilik wajah bersinar itu tertawa keras, hingga memegangi perutnya sendiri. Galan yang tadi dirundung rasa takut yang luar biasa, langsung mengubah ekspresinya total. Dengan rahang mengeras, Galan bangkit dan menyerang orang itu dengan tinjuannya. Namun, orang itu langsung menghindari pukulan itu.
"Goblok! Mau lo apa si? Mau cari perhatian ke gue?!"
Alkan tertawa puas. Ia mengarahkan sentar besar itu ke arah tubuh Galan. Galan sontak melindungi matanya dari sinar menyilaukan itu.
"Silau bego!"
"Biar terang, bego!" sahut Alkan.
"Lagian lo kenapa tetiba ngelakuin hal bocah kek gini sih?" tanya Galan kesal.
Alkan menerobos masuk kamar Galan, membuat empunya kamar terheran-heran. Galan segera meraih pundak cowok itu.
"Keluar lo! Ngapain masuk kamar gue," usir Galan.
"Gue ada satu penawaran spesial buat lo. Kalau lo terima, gue bakal terima lo juga jadi saudara gue. Ya ... paling enggak gue nggak ngikut ngerecokin lo kayak biasa," ucap Alkan bersedekap.
Galan berdiam. Penawaran itu, dia ingin mengambilnya. Namun, Galan juga dibuat curiga dengan sikap Alkan yang tiba-tiba baik terhadapnya. Besar kemungkinan jikalau cowok di hadapannya ini sedang mengerjainya.
"Bilang aja lo sebenernya dari dulu pengen terima gue. Apalagi gue spek adek ganteng, gemes kek gini. Iya kan?" tebak Galan seraya terkekeh main-main.
"Seenggaknya lo cermin dulu. Cepetan lo mau apa enggak? Penawaran ini cuma berlaku malam ini. Kalau enggak, siap-siap tiap hari lo nggak akan tenang tinggal di rumah ini."