"Terkadang manusia memang tak tahu diri. Dirinya yang membuat kesalahan, tetapi malah membenci hasil dari perbuatan itu." Galan Ardian Syaputra.
Galan itu sosok yang keras seperti batu dari luar, pembuat onar, tidak sopan, dan berbuat semaunya. "Gal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~ GALAN STORY ~
Galan selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Ia menghidupkan air dan membasuh wajahnya sebentar. Ada sabun wajah yang entah milik siapa di wastafel, Galan minta sedikit. Usai membilas wajahnya, Galan menarik beberapa helai tissu sambil melangkah menuju pintu kamar mandi. Galan mendadak panik ketika tak berhasil membuka pintu tersebut.
"Apa-apaan nih. Kok nggak bisa dibuka? Woy yang di luar! Bukain dong!"
Galan terus memutar knop dan menariknya keras. Hingga terdengar dari dalam sesuatu yang menghalangi atau mengganjal di luar pintu kamar mandi.
"Wah, nih pasti ada yang ngerjain gue. Lu pikir gue takut? Liat apa yang bisa gue lakuin," monolog Galan menggebu-gebu sambil mundur 3 langkah ke belakang.
BRAK!
BRUK!
Galan menendang brutal pintu kamar mandi dengan aungan yang menggelegar meski di dalam kamar mandi.
"WOY BUKA! BUKA! BUKA! BUKA! GUE TAU YA ADA SETAN YANG NGERJAIN GUE! BUKA NGGAK! GUE RUSAKIN NIH PINTU! BUKAAAAAA! WUUHUUUUUUU!"
Rukan yang sedang asik mengemut eskrim jangung di dapur tersentak kaget mendengar keributan yang diciptakan Galan. Dengan panik Rukan menaruh asal es krimnya di kulkas dan segera kembali ke kamar mandi. Bersamaan dengan itu Rani berjalan ke arah sumber suara juga bersama Wijaya. Rukan berdecak kesal.
"Ada apa sih ini? Kok ribut banget—"
Rani terdiam ketika melihat sapu yang menghalangi pintu kamar mandi. Rukan buru-buru menghampiri pintu itu.
"WOOOOY PADA NGGAK PUNYA KUPING ATAU GIMANA! GUE RUSAK NIH PINTU! GUE PUNYA—"
Pintu kamar mandi dibuka oleh Rukan dengan tampang kesal. Matanya menatap tajam Galan yang memasang raut tenang sambil melangkah keluar kamar mandi.
"Btw kalian nyambut gue?" tanya Galan polos, lalu setelahnya terkekeh malu. "Nggak usahlah. Masa keluar dari kamar mandi disambut. Harusnya pas gue datang tadi siang disambut."
"Mau gue banting?" tanya Rukan dingin dan menusuk.
"Om liat deh anak—"
"DIAM KAMU! Saya nyuruh kamu tidur di luar supaya nggak menampakkan diri di rumah ini. Kamu malah membuat keributan! Jangan sampai saya main kasar sama kamu ya!" sarkas Wijaya.
Galan terkekeh lagi. "Harusnya Om buatin kamar mandi sama toilet juga di luar biar saya nggak masuk."
"Beraninya kamu perintah saya! Kamu tuh numpang di halaman rumah saya! Kalau bukan karena kehormatan keluarga saya, saya nggak sudi liat kamu!"
Galan meneguk salivanya kasar. Darahnya terasa mendidih, kepalan tangannya mengerat dengan helaan napas yang terdengar berat.
"Tapi Om harus ingat. Saya diproduksi sama siapa. Ya sama istri Anda," ucap Galan sebelum berlalu pergi.