"Terkadang manusia memang tak tahu diri. Dirinya yang membuat kesalahan, tetapi malah membenci hasil dari perbuatan itu." Galan Ardian Syaputra.
Galan itu sosok yang keras seperti batu dari luar, pembuat onar, tidak sopan, dan berbuat semaunya. "Gal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Motor sport ungu milik Galan baru saja memasuki area parkiran sekolah. Galan memang terkenal badung, suka usil, sering membolos ke kantin, akan tetapi ia jarang terlambat sekolah. Bahkan Galan sering berangkat sekolah ketika hari masih sangat pagi.
Galan berjalan meninggalkan parkiran sekolah. Tas yang ia sampirkan di bahu sebelah kiri terlihat begitu ringan. Sudah tak menjadi rahasia lagi Galan selalu meninggalkan buku paket atau LKS di kolong meja. Alasannya, ia tak ingin membawa beban berat dalam hidupnya.
Pikiran Galan tak karuan hari ini. Sepanjang jalan ia terus memikirkan bagaimana caranya ia muncul di hadapan Rani dan meminta agar mau menampungnya tinggal bersama. Bahkan ketika mandi tadi pagi, sederet adegan yang ia duga akan terjadi terlihat begitu apik berselancar di pikirannya. Tetapi overthingking selalu datang lagi dan lagi. Apakah ia akan diterima? Seberapa malunya nanti ketika ia tertolak dan bagaimana tanggapan keluarga ibunya tentang dirinya.
Galan mengempaskan tas di atas meja, di susul kepalanya yang ia rebahkan di atasnya.
"SIIIIAAAAAAAP!"
"GRAK!"
Galan menutup sebelah telinganya. Ia sudah hapal suara nyaring itu. Suara pertama milik Ipang dan suara kedua milik Kahfi. Apa Galan bilang, mereka itu saling melengkapi. Walau paling sering berantem di antara mereka berempat.
"Widiihhh Galan Ardian Syaputra telah sampai duluan, guys! " seru Kahfi sembari duduk di kursi belakang Galan. Sedangkan Ipang duduk di bekalangnya lagi.
"Wandy ada Olimp kan hari ini? Iya nggak si?" tanya Ipang. Seperti biasa Ipang mengeluarkan sisir keramatnya—sisir kecil berwarna hijau daun dan cermin bedak milik ibunya.
"Iya. Katanya jam terakhir baru masuk kelas. Enak ya jadi orang pinter?" sahut Kahfi.