Bagaimana jika gadis bar-bar yang tak tau aturan dinikahkan diam-diam oleh keluarganya?
...
Cerita ini berlatar belakang tentang persahabatan dan percintaan. Mengisahkan tentang Ayrania yang menempuh pendidikan di sebuah pesantren karena paksaan dar...
"Itu hukuman yang kedua. Kalau untuk sekarang beda lagi hukumannya."
"Beda gimana? Memangnya sekarang hukuman apa?" Ayra tak mengerti maksud dari ucapan sang suami.
"Hukuman yang sekarang sama Mas, praktek Fathul Izar."
***
"Hei, Mbak Dedel," panggil seseorang pada Adel yang sedang melangkah menuju masjid.
Adel menoleh ketika mendengar seseorang yang sepertinya memanggil namanya. Seseorang itu adalah Kafka yang berada tak jauh di belakang. "Salam dulu, Gus, dan nama saya Adel, bukan Dedel."
Kafka, lelaki itu tengah mencari keberadaan sang kakak sedari tadi untuk meminta tanda tangannya pada berkas laporan santri bulan ini. Beruntung ia bertemu dengan teman dari kakak iparnya, berharap mengetahui di mana saat ini mereka berada.
"Ah, iya, assalamualaikum, Mbak Dedel," ujar Kafka begitu mendapat kritikan dari Adel.
"Wa'alaikumussalam," balas Adel sebelum kembali berdecak kesal. "Adel, Gus, Adel. A D E L." Adel mengeja satu persatu huruf pada namanya.
"Susah, Mbak, Mbak Dedel aja biar lebih mudah," balas Kafka membuat Adel melongo, apa sesusah itu namanya?
"Terserah, Gus, terserah." Adel tak mau memperpanjang masalahnya. "Ada apa manggil saya?"
"Mbak, lihat kakak saya nggak?" tanya Kafka.
"Gus Rayyan?" Bukannya menjawab, Adel justru kembali bertanya.
"Memangnya kakak saya ada lagi, Mbak? Kalaupun ada, itu kakak ipar saya. Mbak pasti udah tahu, kan?"
Adel memutar bola matanya malas. "Tinggal jawab iya apa susahnya, Gus?"
"Kan, Mbak nanya tadi, udah saya jawab, kan?"
Lagi dan lagi Adel mencebik kesal, dosa apa yang ia lakukan sampai berdebat dengan gusnya yang sangat menyebalkan ini?
"Iya, Gus benar, kok, saya yang salah." Adel tersenyum paksa. Sedetik kemudian ia kembali bertanya, "cari Gus Rayyan, kan? Beliau ada di rumahnya, kebetulan saya dari sana tadi."
"Memangnya Mbak ada urusan apa di rumah kakak saya?" balas Kafka lagi, membuat emosi Adel meluap-luap.